Sangat suka dengan senja, sangat suka dengan birunya langit. Jadi teringat pesan seorang dosen saat kuliah dulu...kalau mau memahami sains jadilah seperti anak kecil atau bisa juga seperti 'wong ndeso'. Misal kita liat langit sempet ga sih kepikiran kenapa langit berwarna biru dan kenapa berwarna merah atau jadi gelap saat malam. Jawaban "sudah takdir" kadang menumpulkan sisi keilmiahan yang kita punya. Semua pasti ada alasannya.
Oke, untuk yang pertama kita akan sedikit mengulas tentang alasan kenapa langit berwarna biru. Di salah satu sumber yang ane dapetin untuk membahas masalah ini kita perlu memahami terlebih dahulu tentang atmosfer dan karakter cahaya.
Hal ini mengingat fenomena langit berwarna biru melibatkan kedua komponen tersebut. Cahaya yang datang dari matahari akan mengalami hamburan ketika melewati partikel yang mengisi atmosfer. Tanpa atmosfer, maka langit kita akan gelap sepanjang hari. Hal ini karena tidak ada molekul yang dapat menghamburkan cahaya ke berbagai arah. Dalam keadaan semacam itu, bintang dapat dilihat di siang hari dan cahaya matahari dapat dilihat hanya jika kita melihatnya secara langsung. Keadaan ini persis sama dengan keadaan dari berbagai planet lain di tata surya matahari yang tidak memiliki atmosfer.
ATMOSFER
Atmosfer merupakan percampuran dari berbagai gas dan molekul yang melingkupi permukaan bumi. Komponen utamanya adalah gas nitrogen (78%) dan oksigen (21%). Selebihnya, atmosfer terisi oleh gas argon, air (baik dalam bentuk uap air maupun kristal es), dan berbagai partikel padat seperti debu, partikel-partikel sisa pembakaran (polutan), dan juga garam (terutama untuk daerah di atas permukaan laut).
Komposisi atmosfer bervariasi tergantung lokasinya. Pada daerah permukaan laut, atmosfer banyak mengandung air dan garam. Pada daerah industri, atmosfer akan banyak diisi berbagai partikel sisa pembakaran. Kerapatan atmosfer juga bervariasi menurut ketinggiannya. Daerah dasar atmosfer memiliki tingkat kerapatan yang paling tinggi. Nilainya akan terus menurun dengan pertambahan ketinggian atmosfer.
CAHAYA
Cahaya merupakan energi yang diradiasikan melalui suatu gelombang. Gelombang yang dimaksud adalah gelombang elektromagnetik (gelombang em). Dinamakan seperti itu karena gelombang tersebut dibangun oleh getaran medan listrik dan medan magnet secara serentak secara saling tegak lurus. Arah perjalanan gelombang untuk masing-masing medan dapat ditunjukan pada Gambar 1.
Oke, untuk yang pertama kita akan sedikit mengulas tentang alasan kenapa langit berwarna biru. Di salah satu sumber yang ane dapetin untuk membahas masalah ini kita perlu memahami terlebih dahulu tentang atmosfer dan karakter cahaya.
Hal ini mengingat fenomena langit berwarna biru melibatkan kedua komponen tersebut. Cahaya yang datang dari matahari akan mengalami hamburan ketika melewati partikel yang mengisi atmosfer. Tanpa atmosfer, maka langit kita akan gelap sepanjang hari. Hal ini karena tidak ada molekul yang dapat menghamburkan cahaya ke berbagai arah. Dalam keadaan semacam itu, bintang dapat dilihat di siang hari dan cahaya matahari dapat dilihat hanya jika kita melihatnya secara langsung. Keadaan ini persis sama dengan keadaan dari berbagai planet lain di tata surya matahari yang tidak memiliki atmosfer.
ATMOSFER
Atmosfer merupakan percampuran dari berbagai gas dan molekul yang melingkupi permukaan bumi. Komponen utamanya adalah gas nitrogen (78%) dan oksigen (21%). Selebihnya, atmosfer terisi oleh gas argon, air (baik dalam bentuk uap air maupun kristal es), dan berbagai partikel padat seperti debu, partikel-partikel sisa pembakaran (polutan), dan juga garam (terutama untuk daerah di atas permukaan laut).
Komposisi atmosfer bervariasi tergantung lokasinya. Pada daerah permukaan laut, atmosfer banyak mengandung air dan garam. Pada daerah industri, atmosfer akan banyak diisi berbagai partikel sisa pembakaran. Kerapatan atmosfer juga bervariasi menurut ketinggiannya. Daerah dasar atmosfer memiliki tingkat kerapatan yang paling tinggi. Nilainya akan terus menurun dengan pertambahan ketinggian atmosfer.
CAHAYA
Cahaya merupakan energi yang diradiasikan melalui suatu gelombang. Gelombang yang dimaksud adalah gelombang elektromagnetik (gelombang em). Dinamakan seperti itu karena gelombang tersebut dibangun oleh getaran medan listrik dan medan magnet secara serentak secara saling tegak lurus. Arah perjalanan gelombang untuk masing-masing medan dapat ditunjukan pada Gambar 1.
Gambar 1. Konfigurasi Gelombang EM
Cahaya tampak yang terdiri dari merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan
ungu hanyalah sebagian kecil dari radiasi gelombang em. Masing-masing warna
memiliki panjang gelombang dan frekuensi yang khas. Artinya, warna suatu cahaya
tergantung pada nilai panjang gelombang dan frekuensinya. Panjang gelombang dan
frekuensi memiliki nilai yang berkebalikan, warna dengan frekuensi tinggi
berarti memiliki panjang gelombang yang pendek. Semakin tinggi frekuensi,
semakin besar energinya. Berdasarkan Gambar 2, warna merah memiliki panjang
gelombang yang paling panjang , artinya ia memiliki frekuensi yang
paling rendah dan dengan demikian energinya juga paling rendah jika dibandingkan
dengan cahaya tampak yang lain.
Gambar 2 Spektrum Warna
Jika matahari meradiasikan seluruh panjang gelombang cahaya tampak
(Mejikuhibiniu), mengapa yang kita lihat matahari berwarna putih? Yap..cahaya
putih yang kita lihat tersebut sebenarnya tersusun dari keseluruhan cahaya
tampak yang ada. Artinya, jika seluruh warna pada cahaya tampak bergabung
menjadi satu, maka yang terlihat adalah warna putih. Kita dapat memecah warna
ini dengan cara melewatkannya di suatu prisma kaca. Percobaan ini pertama kali
dilakukan oleh newton, ia melewatkan cahaya putih pada suatu prisma,
ternyata pada ujung perjalanannya cahaya putih telah berubah menjadi susunan
warna merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu. Peristiwa ini dikenal
sebagai dispersi cahaya.
Gambar 3. Dispersi Cahaya
HAMBURAN CAHAYA
Ketika cahaya putih (yang di dalamnya terkandung mejikuhibiniu) diradiasikan dari matahari dan melewati atmosfer, maka cahaya putih tersebut akan mengalami beberapa peristiwa. Pertama, cahaya tersebut akan diserap oleh berbagai molekul yang mendiami atmosfer. Kedua, setelah diserap cahaya tersebut akan dilepaskan kembali ke atmosfer. Peristiwa inilah yang kita sebut sebagai hamburan cahaya. Pada peristiwa penyerapan bisa dibilang tidak ada sesuatu yang menarik. Namun pada saat cahaya dilepas dari molekul, muncul suatu fenomena yang menarik untuk dianalisis. Ternyata cahaya dengan energi yang besar (frekuensi besar) akan diradiasikan lebih banyak daripada cahaya dengan energi rendah (frekuensi rendah). Melalui analisis yang detail diperoleh hubungan bahwa jumlah energi yang diradiasikan pada peristiwa hamburan adalah sebanding dengan pangkat empat frekuensinya. Sehingga jika diketahui panjang gelombang ungu adalah 400 nm dan merah adalah 700 nm, maka perbandingan pangkat empat frekuensi kedua cahaya (Ungu : Merah) dapat dihitung sebesar (700 nm/400 nm)^4 dan diperoleh 9,4. Artinya cahaya ungu diradiasikan 9 kali lebih banyak daripada cahaya merah. Itulah sebabnya pada siang hari kita tidak melihat langit berwarna merah, melainkan biru. Tapi mengapa biru? Bukankah ungu memiliki frekuensi yang lebih tinggi dan oleh karenanya semestinya paling banyak diradiasikan? Mengapa langit tidak berwarna ungu?
Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu melibatkan ilmu tentang mata sebagai alat indra yang digunakan untuk melihat. Di dalam retina mata terdapat tiga reseptor warna, yakni reseptor merah, biru, dan hijau. Masing-masing reseptor sensitif untuk masing-masing warna. Sehingga ketika ada beberapa warna mesuk ke retina secara bersamaan, maka masing-masing warna akan ditangkap oleh reseptor yang sesuai.
Nah..pada peristiwa hamburan cahaya, berdasarkan nilai frekuensinya maka warna biru dan ungu adalah warna yang paling banyak dihamburkan. Namun langit tampak berwarna biru karena di dalam retina terdapat sel reseptor biru yang lebih sensitif untuk menangkap warna biru ketimbang ungu. Akibatnya, kesan warna yang paling dominan untuk dilihat adalah biru.
http://shobru.wordpress.com
0 comments:
Posting Komentar