Kita tidak akan pernah memahami
sebuah definisi jika kita belum pernah menjalani apa yang pernah ada dalam
definisi itu. Hanya sekedar mengetahui tetapi tidak akan bisa merasakan setiap
kata dalam definisi yang telah disediakan. Terkadang manusia tidak dapat
memahami bahwa setiap kata memiliki nyawa, setiap kata memiliki tenaga. Semua
punya kekuatan hanya saja tidak semua orang dapat merasakan kekuatannya
tersebut. Tuhan telah menciptakan semuanya dengan penuh kesempurnaan, meski
terkadanga manusia yang terlalu bangga dengan akal yang dipunyainya selalu
mengkritisi ciptaan Tuhan. Mereka seolah lupa dari manakah asal akal tersebut. Seluruhnya
dikritisi hingga akhirnya dia meletakkan hasil dari olah akalnya sebagai
sesembahan dan kepercayaan yang dia anut. Ada dua tipe manusia yang
mengagungkan akal saja sebagai dasar dia merenung dan mencari kebenaran hidup.
Dia akan menjadi manusia yang sangat memahani eksistensi Tuhan atau akan
menjadi manusia yang tidak lagi percaya dengan Tuhan. Semua harus sesuai dengan
logika, padahal kita mempercayai Tuhan tidak selamanya logika begitu saja
menerima. Sebuah logika keimanan yang merupakan pertemuan antara rasionalitas
dengan perasaan, olah akal dan olah jiwa tentu akan berbeda dengan orang yang
hanya menggunakan akalnya saja. Bagi dia semua harus tampak oleh mata. Sekarang
bayangkan kalau semua harus tampak oleh mata maka, boleh jadi ilmuwan Fisika
akan menjadi serombongan orang pertama yang merasa gila dengan penemuannya. Di
dalam Fisika inti akan kita temui masa hidup sebuah partikel adalah 10-23 sekon.
Apa mungkin alat indra yangterbatas dapat melihatnya..toh ketika menggunakan
alat bagaimana dia bisa merasakan kehidupan dari partikel tersebut?.
Yah...begitulah hidup penuh
dengan warna. Meski katanya manusia itu diciptakan dari tanah tetap saja akan
menghasilkan tabiat yang berbeda-beda. Entah nyambung atau tidak tiba-tiba
terlintas tentang dispersi cahaya. Dasi satu cahaya putih ketika menimpa sebuah
kaca prisma pada sudut tertentu maka akan menghasilkan warna-warna yang
berbeda. Manusia, yang semuanya adalah keturunan nabi adam (meski mungkin tidak
semua orang mempercayainya) pada akhirnya akan memiliki berbagai macam
perangai. Ada yang kemudian dia menjadi orang yang percaya bahwa dia adalah
makhluk Tuhan yang berkewajiban untuk mengabdi kepadanya, menyembahnya dan
meyakini bahwa segala kajadian adalah atas kehendaknya. Ada pula yang menjadi
sangat tidak yakin bahwa Tuhan itu ada. Semua tergantung dia berada pada
panjang gelombang yang mana sehingga warna jiwa dan warna akal antara satu
dengan yang lainnya menjadi berbeda.
Tuhan telah menciptakan alam
semesta ini dengan sangat sempurna. Bayangkan...dalam sebuah efek fotolistrik
kita dapat melihat betaa sempurna dan telitinya Tuhan dalam meciptakan Maha
Karyanya. Fotolistrik tidak akan pernah terjadi jika frekuensi yang samapai
pada plat logam tidak sama atau lebih besar dari frekuensi yang dimiliki oleh
logam tersebut. Jika ciptaanya yang sangat kecil itu saja mampu di atur oleh
Nya apalagi alam raya yang sangat luas ini. Alam semesta yang membutuhkan lebih
dari 7 keturunan untuk dapat mengunjungi setiap sudutnya. Maha Besar Allah
dengan Segala FirmanNya
0 comments:
Posting Komentar