
Dalam edisi khusus kemerdekaan
(12-18 Agustus 2013), majalah Tempo mengangkat biografi tokoh
kemerdekaan. Beliau merupakan salah satu
Founding Father negeri ini. Seorang
diplomat ulung, yang menguasai sembilan bahasa.
Laki-laki ini pernah diasingkan di Brastagi bersama dengan Soekarno dan
Sutan Sjahrir. Agus Salim, begitu nama yang tersemat pada dirinya. Membaca
kisah hidupnya, kita akan diajak untuk tersenyum, menaikkan alis, berdecak
kagum, dan meneteskan air mata.
Waktu itu Belanda menuduh
Indonesia telah melakukan pelanggaran Perjanjian Linggarjati, karena berusaha
untuk mendapatkan pengakuan secara de
jure dari negara-negara Arab. Agus Salim berkata kepada pihak Belanda, “...
Kalau Tuan-tuan menganggap usaha kami mendapatkan pengakuan de jure negara-negara Arab atas Republik
Indonesia bertentangan dengan Perjanjian Linggarjati, apakah aksi militer yang
Tuan lancarkan terhadap kami sesuai dengan Perjanjian Linggarjati? Pengakuan de jure yang kami peroleh adalah akibat
dari aksi militer Tuan. Kalau Tuan-tuan melancarkan sekali lagi aksi militer
kepada kami, kami akan mencapai pengakuan de
jure dari seluruh dunia.
Sebuah kisah yang selalu saya
ingat sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar adalah peristiwa saat Agus
Salim berpidato. Pada saat Agus Salim berpidato sebagian hadirin mengucapkan,”Mbek...
mbek...,” untuk mengejek Agus Salim karena jenggotnya. Salim spontan bereaksi,”Saya
tidak mengira bahwa di sini banyak juga rupanya kambing yang hadir. Kepada
ketua rapat, saya minta supaya kambing-kambing itu dikeluarkan saja dari gedung
ini.” Selalu mempunyai jawaban cerdas dalam situasi yang sepertinya sulit
he....
Agus Salim tidak hanya fasih
berbahasa, tetapi beliau juga mengasai pelajaran Ilmu Pasti. Banyak orang yang
akan berfikir bahwa dia adalah orang yang sangat cerdas. Padahal, pengetahuan
yang dia miliki tidak datang begitu saja. Dia selalu rajin dan giat belajar,
untuk menghindari diajak bermain oleh teman-temannya dan disuruh-suruh oleh
orang tuanya Salim kecil belajar di atas loteng. Agar loteng terang dia membuka
genteng, agar cahaya matahari dapat menerangi saat belajar. Padahal, tinggi
loteng rumahnya itu 3,7 meter. Ga kebayang gimana caranya naik....
Satu episode hidup Agus Salim
yang membuat menangis adalah saat menceritakan kesederhanaan hidupnya. Agus
Salim adalah seorang yang berjasa dalam membangun negeri ini. Seorang diplomat
ulung. Kata-katanya selalu menggetarkan dan berbobot. Kefasihan dalam berbahasa
tidak diragukan lagi. Kecerdasan yang dimilikinya pun banyak orang yang
mengakui. Tetapi, dia tidak mempunyai rumah. Sering berpindah dari satu
kontrakan ke kontrakan yang lain. Kontrakannya pun bukan sebuah gedung yang
megah. Pernah tinggal di sebuah kontrakan di pinggir rel kereta api. Ruang
tamunya kosong, tidak ada kursi. Duduk beralaskan tikar. Jalan menuju kontrakan
itu penuh lubang, susah untuk dilalui. Terkadang keluarganya kehabisan uang
untuk membeli lauk, hanya akan makan dengan kecap.
Hal yang paling membuat sangat
kaget adalah, saat kematian anaknya. Saat itu, Agus Salim tidak mempunyai uang
untuk membeli kain kafan untuk anaknya. Akhirnya, dia mengambil taplak meja dan
kain kelambu yang sudah dipakai kemudian mencucinya untuk membungkus jenazah.
Ia menolak pemberian kafan dari kawannya. Katanya,”Adapun untuk yang mati,
cukuplah kain itu. selagi dia masih hidup, dia memerlukan pertolongan, akan tetapi
sekarang dia sudah tidak lagi memerlukannya.” Saya membayangkan dalam posisi
beliau. Seorang ayah yang sangat tegar dan dapat memahami hakikat hidup yang
sebenarnya.
Saya mencoba membandingkan kehidupan
Sang Bapak Bangsa ini dengan kehidupan petinggi di negeri ini. Sebuah ironi,
pendiri bangsa hidup dengan segala keterbatasan dan penerusnya hidup dengan
bermegah-megahan. Dia sangat tulus mengabdikan diri untuk bangsanya, tidak
pernah berharap mendapatkan sesuatu dari negara. Sekarang?. Saya teringat
tulisan dalam sebuah artikel, kalau tidak salah ada kata-kata M. Natsir yang
ditulis di sana. Natsir berkata,”Saat ini baru enam bulan bangsa kita merdeka,
tetapi mereka sudah mulai menuntuk untuk mendapatkan balas jasa atas perjuangan
yang dilakukan oleh sanak keluarga mereka yang telah gugur di medan perang. Ini
baru enam bulan, saya tidak bisa membayangkan bagaimana enam tahun yang akan
datang atau 60 tahun yang akan datang.” Yah... negeri ini merindukan sosok yang
memilki kepribadian dan kecerdasan seperti para pendiri bangsa ini.
Kita perlu belajar
hidup dari The Grand Old Man
Indonesia,
Kakek Agung Indonesia. Diplomat Jenaka Penopang Republik.