Haji Agus Salim: Diplomat yang Tak Mampu Membeli Kain Kafan



Sampai sekarang, aku masih terusik dengan kisah Haji Agus Salim saat kematian anaknya. Bapak bangsa yang tak mampu membelikan kain kafan untuk anaknya. Sakitnya tuh ga cuma di sini, tapi dimana-mana. Seseorang yang selalu memimpin rombongan melakukan diplomasi. Saat di luar negeri dia akan sejajar dengan para pemimpin negara lainnya, hanya membeli satu potong kain kafan saja tidak mampu. Apa ini yang disebut penghargaan terhadapa seseorang yang telah berjasa, hingga mengantarkan Indonesia pada maqamnya. Bangsa merdeka. Menetes air mata ini, masihkah ada hari ini anak bangsa yang seperti dia?.

Hari ini, kita semua anak bangsa telah berhutang banyak padanya. Hari ini, seluruh rakyat Indonesia telah merasakan nikmatnya menjadi bangsa yang merdeka karena usahanya. Hari ini, orang-orang berteriak karena tak mampu membeli rumah. Hari ini, orang-orang berebut mendapatkan uang tunjangan. Hey... Haji Agus Salim juga tak pernah mempunyai rumah, hidupnya selalu berpindah dari satu kontrakan ke kontrakan lainnya. Haji Agus Salim terkadang hanya makan dengan kecap. Dia tidak mampu membeli kain kafan untuk anaknya....

Hari ini, para pejabat negeri zamrud khatulistiwa ribut karena mobil dinas yang tidak nyaman. Gaji yang tidak cukup. Heloow... apa yang sudah kalian berikan kepada negeri ini? Sampai berani menuntut begitu banyak?. Coba bandingkan hidup kalian dengan kehidupan Agus Salim. Dia seorang petinggi negara, orang penting dalam sebuah partai besar, pemilik surat kabar. Dan dia tidak mampu membeli kain kafan untuk anaknya?.

Seandainya Agus Salim hari  ini masih ada, apa kalimat yang akan dia ungkapkan kepada generasi setelahnya. Generasi yang bertugas menjaga NKRI ini agar tetap pada kehormatannya. Seandainya, Sang Diplomat penguasa sembilan bahasa ini hidup pada zaman sekarang apa yang akan dia katakan?. Mungkinkah dia akan menyesal pernah memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini? Bangsa yang telah diwariskan kepada para penjilat, dan mencoba mengambil keuntungan dari setiap posisi yang didapatkan. Masih adakah ketulusan dari anak bangsa ini? Yang benar-benar ingin memberikan apa yang dia punya? Apakah bangsa ini berisikan orang-orang yang selalu berharap mendapatkan sesuatu dari bangsanya?Adakah abdi negara yang sesungguhnya? Mengabdi tanpa tendensi. Sekali lagi aku ingin bertanya, apa perasaan yang dirasakan saat mendengar bahwa Bapak Pendiri Bangsa Indonesia pernah tidak mampu memberlikan kain kafan untuk anaknya?.

0 comments:

Posting Komentar

Banyak Dilihat

Pengikut

Pengunjung

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Labels

inspirasi tania. Diberdayakan oleh Blogger.