Beberapa orang berteriak menandakan kegembiraan bisa
mencapai titik ini. Tapi aku, meneteskan air mata. Sepanjang perjalanan tadi
sopir yang mengantarkan kami dalam lava tour (jadi nama acaranya lava tour ya...) menceritakan tentang
kejadian saat Merapi meletus beberapa saat lalu. Cerita beliau ini yang membuat
aku terdiam, kemudian terisak. Jogjakarta memang istimewa.
Aku membayangkan, bagaimana proses bangkitnya warga lereng
merapi dari keterpurukan. Rumah, harta, bahkan keluarga mereka luluhlantak di
sabet wadus gembel. Tempat bermukim mereka di relokasi karena sudah tidak aman
lagi untuk dihuni. Sumber air mati, sungai mengering. Aku membayangkan, jika
aku dalam posisi mereka entah butuh berapa lama untuk bisa bangkit dari
keterpurukan.
Sebidang tanah yang awalnya rumah salah satu penduduk, sudah
hancur akhirnya di sulap menjadi sebuah museum merapi. Barang-barang yang rusak
karena terjangan lava di jadikan pajangan, dijadikan objek wisata. Jalan yang
rusak, tidak berbentuk dijadikan jalur off
road. Luar biasa, mereka boleh kehilangan sumber penghasilan utama sebagai
petani tetapi, mereka berhasil membuka kran penghasilan lain. Melalui jalur
pariwisata.
Setiap musibah Allah selalu menyertakan hikmah. Ingin
memberikan pelajaran kepada seluruh hambanya. Yakinlah... di balik batu yang
besar tersimpan mata air yang menyegarkan, di balik terik matahari tersimpan
awan yang meneduhkan, di balik hujan yang lebat telah disiapkan pelangi untuk
kita. Jogja memang selalu istimewa
0 comments:
Posting Komentar