Paramater keberhasilan sebuah mimpi dan cita-cita adalah
pada seberapa besar tercapainya rencana yang telah dibuat dalam meraih mimpi
tersebut. Mimpi itu menjadi lecutan bagi seseorang untuk berbuat. Memberi
dorongan dalam melakukan berbagai macam perbuatan. Ini hanyalah sebuah refleksi
kecil dari seorang yang sedang belajar menulis dan mengeja dalam membaca.
Mimpinya luar biasa, merajut titian jalan ke surga melalui
aksara. Membuat cerita jalan lain ke sana melalui goresan pena. Namun,
sepertinya jalan yang dia buat tidak semulus dalam banyangannya. Dia harus
mengalami nasib yang hampir serupa dengan para pendahulunya.
Mengulang sejarah, mempraktekkan pengalaman orang lain.
Bukan berarti dia gagal, dia hanya sedang mencoba melakukan evaluasi. Beberapa
evaluasi yang ditemui pada dirinya sendiri.
Pertama, tentang tujuan. Dia pernah membuat sebuah
tujuan yang sangat mulia. Menyampaikan kebenaran Tuhannya melalui aksara.
Ternyata tujuan ini belum benar-benar menyentuh alam bawah sadarnya. Bukannya
tersesat, tetapi dia tidak ingat. Akhirnya, stagnan.
Kedua, tentang
cara. Banyak hal yang sudah dia tuliskan pada selembar kertas tertempel di
tembok. Setiap kali bangun dari tidurnya dia akan melihat cara yang akan
ditempuhnya. Ah… kan bisa pura-pura tidak melihatnya. Dia tuliskan untuk
mengikuti lomba, mengirim tulisan ke media, membuat satu artikel setiap
harinya, dan membaca buku setiap harinya. Ternyata, tidak terlalu sempurn dalam
melakukan eksekusinya.
Ketiga,
indisipliner. Disiplin bukan hanya milik kaum militer, dia juga harus dipunyai
oleh seluruh warga negara dengan berbagai macam profesi. Mencoba membaca
Ramadhan, setiap hari menulis 200 kata. Apa yang terjadi? Dia tidak
melaksanakan sesuai jadwalnya. Akhirnya, dia terengah untuk menyelesaikan
jumlah tulisannya.
Keempat,
inkonsisten. Tidak konsisten dengan apa yang dia katakan.
Sebuah refleksi dari seorang yang sedang belajar membaca dan
menulis.
0 comments:
Posting Komentar