Semilir angin menyapa kota atlas. Membawa seribu satu
pikiranku hilir mudik tak tentu arah. Satu persatu memori dalam kepala berputar
begitu saja. Entah kemana seluruh lintasan pikiran itu akan bermuara. Aku
berasa ada di tengah empat penjuru mata angin. Seluruh aliran angin bertemu
tepat di kepala. Membuat rambutku menari-nari. Aku harus menemukan jalan atas
kebuntuan segala pikiran dalam otakku. Aku harus menemukan sebuah muara yang
dapat membawaku kedalam kedamaian.
Ah, tiba-tiba aku diserang rasa rindu yang membuncah.
Kerinduanku pada ketenangan hidup. Entah berapa kali aku bersujud dengan
sebenar-benarnya sujud. Tetiba rindu itu menyusup dalam relung hidup. Dimanakah
sebenarnya DIA dalam hidupku? Benarkah aku telah pasrah dengan sebenar-benarnya
pasrah tentang segala hidupku. Bukankah DIA pemeberi petunjuk atas segala jalan
hidupku? Apatah aku telah benar-benar menjadikan DIA tempat bersandar atas
segala hidupku?
Semilir angin sore ini membawa banyak pertanyaan dan beribu
kerinduan. Ya... rindu untuk benar-benar menjadi ciptaan-Nya yang tidak
durhaka. Rindu untuk benar-benar mendapati hidup nan diberkahi.
"Perbaiki diri, maka Allah akan memberikan yang
terbaik." Entah, kalimat itu terngiang kembali di telingaku. Pesan dari
seseorang, ah aku sungguh ingin bermunajat dengan benar. Aku ingin berlatih menjadi
manusia taat.
Ku raih ponselku lalu ku ketik pesan untuk sahabatku,
"Aku ingin mengenakan hijab."
Dia meyakinkanku kembali bahwa, berhijab itu tidak harus
sempurna. Tapi dia akan membawa kita belajar lebih untuk menjadi sempurna.
Tidak ada orang yang baik, yang ada hanyalah orang yang sedang belajar menjadi
baik.
Lalu lalang kendaraan menjadi melodi yang meyakinkan.
Bersambut suara adzan aku kuatkan azam. Ku penuhi perintah-Mu, kulakukan
kewajibanku. Terimalah aku wahai Tuhanku.
0 comments:
Posting Komentar