Kuraih kain segi empat warna ungu, lalu kulipat menjadi
sebuah segitiga. Dalam beberapa detik, kain itu sudah menutupi kepalaku.
Setelah kupasangi peniti, sempurna sudah dia menutup kepalaku. Lalu sedikit
kutarik ujung bagian depan ke belakang melilit leherku. Selesai... maklum masih
tahap belajar, jadi belum bisa gaya-gaya. Ini gaya maksimal yang bisa kupakai.
Ramadhan kali ini aku yakinkan hati untuk mengenakan hijab.
Salah satu kewajiban seorang muslimah yang baru bisa aku tunaikan. Bulan penuh berkah, menjadi
awal pembuka pintu hidayah.
Ah, kurang afdal kalau momen mengenakan hijab ini tidak aku
kabarkan ke sahabatku. Kuraih ponsel, lalu selfie, kukirim kepada sahabatku.
Aku bilang, "Aku belum bisa gaya-gaya, cuma baru bisa
model ini aja." Tetapi katanya, dia juga sudah lama mengenakan hijab dan
belum bisa bergaya. Malahan, seringnya memakai jilbab Jokowi. Pertama aku juga
heran, apa ada model jilbab jokowi? Ternyata, maksudnya itu jilbab blusukan.
Jilbab yang langsung bisa dipakai. Iya
sih, jilbab ini lebih praktis dipakai. Lagipula, sekarang juga sudah banyak
model-modelnya.
Islam itu agama yang mudah tetapi bukan untuk dimudahkan
atau disepelekan. Aturan mengenakan hijab ada dalam dua surat, surat An-Nur ayat
31 dan Al Ahzab 56. Dari kedua surat tersebut tidak ada perintah untuk
memodel-modelkan jilbabmu. Hanya diperintahkan untuk menjulurkan kain sampai ke
dada dan itu sebagai pembeda dengan kaum yang lainya. Jadi, kalau ad yang
membuat berbagai macam model itu merupakan sebuah bentuk kreatifitas. Hukumnya
mubah. Asalkan masih tetap memegang kriteria wajibnya. Ini sedikit membesarkan
hati, untukku yang belum canggih mengkreasikan kain.
Ber-agamalah sesuai dengan pemahamanmu. Ketika belum paham,
carilah ilmu untuk memahaminya.
Bismillah, semoga Allah ridha atas hidup dan pilihan dalam
hidupku.
*Lintasan 10 dan 11 untukmu sahabat. Semoga kita sama-sama diistiqamahkan dalam jalan kebaikan ini.
0 comments:
Posting Komentar