Lintasan 14: Untukmu, Sahabatku yang Ada di Seberang




Mendekap nyala cahaya di tengah gulita. Memandang  padang pasir di sekitar angin yang mendesir. Ku bermimpi tentang tepian pantai dengan angin semilir, tapi nyatanya aku ada di tengah padang pasir. Mencoba merangkai makna untuk menggapai bahagia. Aku mulai menepi di gelap malam yang sepi, sepi dalam nyala api sunyi.

Termenung tentang akhir hidup. Termenung tentang pertemuan agung. Detik ini, aku masih tertatih mengeja jalan ke surga. Sedangkan sahabatku yang ada di seberang tengah berlari mengejarnya. Aku iri denganmu, sahabatku yang ada di seberang.

Telah tenang hatimu atas segala putusan, telah menang jiwamu atas egomu. Aku masih merintih, tertatih meminta kepada Yang Terkasih, agar aku tenang dengan segala putusan, agar aku mampu menundukkan egoku.

Saat air matamu seharga untaian jalan ke surga, air mataku hanyalah sia untuk menenangkan jiwa. Saat katamu mulai tertata meminta ampunan atas segala dosa, aku masih terbata untuk berkata.

Saat air matamu jatuh membaca rangakaian ayat cinta cari Tuhan, aku masih menangis karena membaca peta hidup yang tak begitu jelas. Saat kau telah berpasrah aku masih tak tentu arah.

Aku sangat iri denganmu, sahabatku yang ada di seberang. Kau telah menemukan jalan terang, dan aku masih meraba arah jalan pulang. Pulang kepada Rabb ku. Di sini aku masih belajar hidup untuk Yang Maha Hidup, dan kau telah benar-benar menyerahkan hidup pada-Nya. Semoga nyala imanku tak semakin meredup.

Aku ingin sepertimu, sahabatku yang ada di seberang.

0 comments:

Posting Komentar

Banyak Dilihat

Pengikut

Pengunjung

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Labels

inspirasi tania. Diberdayakan oleh Blogger.