Mendekap nyala cahaya di tengah gulita. Memandang padang pasir di sekitar angin yang mendesir.
Ku bermimpi tentang tepian pantai dengan angin semilir, tapi nyatanya aku ada di
tengah padang pasir. Mencoba merangkai makna untuk menggapai bahagia. Aku mulai
menepi di gelap malam yang sepi, sepi dalam nyala api sunyi.
Termenung tentang akhir hidup. Termenung tentang pertemuan
agung. Detik ini, aku masih tertatih mengeja jalan ke surga. Sedangkan
sahabatku yang ada di seberang tengah berlari mengejarnya. Aku iri denganmu,
sahabatku yang ada di seberang.
Telah tenang hatimu atas segala putusan, telah menang jiwamu
atas egomu. Aku masih merintih, tertatih meminta kepada Yang Terkasih, agar aku
tenang dengan segala putusan, agar aku mampu menundukkan egoku.
Saat air matamu seharga untaian jalan ke surga, air mataku
hanyalah sia untuk menenangkan jiwa. Saat katamu mulai tertata meminta ampunan
atas segala dosa, aku masih terbata untuk berkata.
Saat air matamu jatuh membaca rangakaian ayat cinta cari
Tuhan, aku masih menangis karena membaca peta hidup yang tak begitu jelas. Saat
kau telah berpasrah aku masih tak tentu arah.
Aku sangat iri denganmu, sahabatku yang ada di seberang. Kau
telah menemukan jalan terang, dan aku masih meraba arah jalan pulang. Pulang
kepada Rabb ku. Di sini aku masih belajar hidup untuk Yang Maha Hidup, dan kau
telah benar-benar menyerahkan hidup pada-Nya. Semoga nyala imanku tak semakin meredup.
Aku ingin sepertimu, sahabatku yang ada di seberang.
0 comments:
Posting Komentar