Sore itu, tengah berkumpul
serombongan mahasiswa dalam sebuah ruang perpustakaan. Mereka mencoba membuka
kitab-kitab tebal karya Tipler, Giancoli dan sekutunya. Ada tugas yang harus
diselesaikan, sehingga memaksa mereka memburu refrensi di ruangan kecil itu.
Terjadi percakapan antara seseorang yang sedang tumbuh
menjadi aktivis dakwah dengan salah seorang temannya.
“Puasa kali ini sudah dapat berapa juz?” Dia bertanya dengan
harapan, temannya tidak lebih baik darinya.
“Aku sudah mau khatam Dua kali,” jawabnya.
Dalam hati sang penanya, “Wuottt dia sudah mau khatam dua
kali di hari ke-15, sedangkan aku belum khatam sama sekali?, Oh... tidaaak.”
“Wuah keren, kamu baca Al Qur’an nya berapa banyak setiap
harinya,” tanyanya dengan membenarkan nada bicara, dan menyembunyikan rasa
kecewa. Iya, kecewa karena dia ternyata tidak lebih buruk dari dirinya.
“Biasanya setelah sholat aku baca 1 juz, kalau setelah sahur
kadang juga baca lagi. Kalau ga ngantuk he....”
Jawabnya dengan agak malu.
Jawaban itu bagaikan seolah memerahkan pipinya. Itu adalah tamparan
keras yang mengenai tepat pipinya. Dia yang sedang bangga dan mulai berani
menyematkan diri sebagai penerus risalah kenabian ternyata masih sangat buruk
berinteraksi dengan Al Qur’an. Mencoba menyalakan semangat Ramadhan dalam hati
orang lain, tapi nyatanya dia tak mampu menghidupkan Ramdhan untk dirinya
sendiri. Owh... ternyata dia belum mampu menjadi matahari, baru mampu menjadi
lilin untuk yang lainnya.
Orang yang telah dia remehkan ternyata lebih baik daripada
dirinya. Sebuah pelajaran berharga untuknya hari itu. Sungguh, kita tidak
pernah tahu siapa yang lebih mulia di hadapan Allah.
0 comments:
Posting Komentar