"Jika disebut nama Allah maka bergetar
hatinya, dan jika dibacakan ayat-ayatnya semakin bertambah keimanannya."
Qs. Al Anfal ayat 2.
Ayat tersebut merupakan penggalan
dari sebuah surat yang menceritakan tentang perang Badar. Sebelum Allah
memberikan gambaran kepada kita tentang bagaimana perang badar, DIA terlebih
dahulu memberikan tanda-tanda orang beriman. Coba kita renungkan apa maksud
Allah tentang ini.
Dalam tafsir Fi Dzilalil Qur'an, Sayyid Qutb menjelaskan bahwa getaran yang terjadi itu merupakan sebuah bentuk resonansi
antara ayat Al Qur'an dengan hati manusia. Resonansi merupakan peristiwa
bergetarnya suatu benda karena getaran benda lain yang mempunyai frekuensi
sama. Ini artinya, hati manusia diciptakan satu frekuensi dengan ayat-ayat Al Qur'an.
Tidak semua manusia akan menangis
saat membaca Al Qur’an. Sebagaimana Umar yang bergegas mengucap syahadat
setelah mendengar surat Thaha. Atau salah seorang sahabat pingsan saat membaca
surat yang berisi ancaman. Kebanyakan manusia ada yang biasa saja saat
mendengarnya. Tidak ada getaran, tidak ada reaksi apapun dalam hatinya.
Adapun penyebab tidak bergetarnya
hati manusia saat disebut nama Allah adalah karena adanya sifat fujur dalam
hati manusia. Sifat fujur inilah yang menyebabkan frekuensi hati manusia
menjadi tidak sama lagi dengan ayat Al Qur'an.
Maha Besar Allah atas segala
ciptaan-Nya. Hati kita telah di desain sebegitu detailnya agar selalu dekat
dengan-Nya. Karena ulah kita sendiri akhirnya kita menjadi jauh dariNya. Mari
kita hilangkan sifat-sifat buruk dalam hati kita, agar dia kembali memiliki
frekuensi yang sama saat awal penciptaannya.
0 comments:
Posting Komentar