Lintasan 18: Panggilan Masa Lalu



Dinginnya kota ini sudah menyapa sejak siang tadi. Hawa dingin di musim kemarau memang lebih menusuk dibandingkan musim penghujan. Konon ini karena kandungan air di dalam udara lebih banyak dibandingkan saat musim hujan.

Allah memberikan kesempatan langka, aku melintasi jalan pahlawan malam ini. Mengawal pengisi acara tadi ke hotel Candra.

Di sebelah kiri jalan aku melihat masjid Birul Walidain. Bentuknya masih sama. Disana sedang bersiap untuk sholat tarawih. Sekelompok remaja putri mengenakan mukena putih berjalan menuju masjid. Suasana ini membuat aku rindu dengan kejadian sepuluh tahun yang lalu. Saat aku dan teman satu kos berjalan menuju masjid itu.

Pulang jam sebelas malam selepas tarawih. Bukan karena tadarus di masjid, tetapi makan dulu di alun-alun. Biasanya makan mie ayam, duduk dekat jendela dan mengamati orang pacaran. Kalau tidak menemukan kami akan mencari dan menghitung orang yang sedang pacaran. Kurang kerjaan emang. Rasa mi ayam nya biasa, hanya saja memberikan suasana berbeda. Kami berbanyak punya hobi sama, makan dan cuci mata. Sekarang warung mi ayam itu bentuknya masih sama,  bercat biru di sebelah kiri jalan dekat gapura.

Risiko orang pulang kemalaman adalah, pintu sudah dikunci oleh ibu kos. Bukan hal yang sulit bagi kami untuk melompati pagar setinggi setengah meter itu.

Kos Eyang Tarno di jalan pahlawan nomor 34. Rumah kuno beraksen belanda ini menyimpan banyak cerita. Di rumah kuno inilah pertama kalinya aku khatam al qur'an, terbangun saat malam. Di tempat inilah aku bertemu dengan orang-orang yang mengajakku untuk dhuha. Di tempat ini pulalah akhirnya aku mengenakan pakaian takwa dan mulai berinteraksi dengan lingkaran cinta.

Rumah tua, dekat SMA dua. Menyimpan kenangan saat masa remaja. Masa saat aku mulai menata tangga dewasa dan menjadi muslimah seutuhnya.

0 comments:

Posting Komentar

Banyak Dilihat

Pengikut

Pengunjung

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Labels

inspirasi tania. Diberdayakan oleh Blogger.