Dinginnya kota ini sudah menyapa sejak siang tadi. Hawa
dingin di musim kemarau memang lebih menusuk dibandingkan musim penghujan.
Konon ini karena kandungan air di dalam udara lebih banyak dibandingkan saat
musim hujan.
Allah memberikan kesempatan langka, aku melintasi jalan
pahlawan malam ini. Mengawal pengisi acara tadi ke hotel Candra.
Di sebelah kiri jalan aku melihat masjid Birul Walidain.
Bentuknya masih sama. Disana sedang bersiap untuk sholat tarawih. Sekelompok
remaja putri mengenakan mukena putih berjalan menuju masjid. Suasana ini
membuat aku rindu dengan kejadian sepuluh tahun yang lalu. Saat aku dan teman
satu kos berjalan menuju masjid itu.
Pulang jam sebelas malam selepas tarawih. Bukan karena
tadarus di masjid, tetapi makan dulu di alun-alun. Biasanya makan mie ayam,
duduk dekat jendela dan mengamati orang pacaran. Kalau tidak menemukan kami
akan mencari dan menghitung orang yang sedang pacaran. Kurang kerjaan emang.
Rasa mi ayam nya biasa, hanya saja memberikan suasana berbeda. Kami berbanyak
punya hobi sama, makan dan cuci mata. Sekarang warung mi ayam itu bentuknya
masih sama, bercat biru di sebelah kiri
jalan dekat gapura.
Risiko orang pulang kemalaman adalah, pintu sudah dikunci
oleh ibu kos. Bukan hal yang sulit bagi kami untuk melompati pagar setinggi
setengah meter itu.
Kos Eyang Tarno di jalan pahlawan nomor 34. Rumah kuno
beraksen belanda ini menyimpan banyak cerita. Di rumah kuno inilah pertama
kalinya aku khatam al qur'an, terbangun saat malam. Di tempat inilah aku
bertemu dengan orang-orang yang mengajakku untuk dhuha. Di tempat ini pulalah
akhirnya aku mengenakan pakaian takwa dan mulai berinteraksi dengan lingkaran
cinta.
Rumah tua, dekat SMA dua. Menyimpan kenangan saat masa
remaja. Masa saat aku mulai menata tangga dewasa dan menjadi muslimah
seutuhnya.
0 comments:
Posting Komentar