Di derasnya modernisasi tidak bisa dipungkiri keberadaan masyarakat di pedesaan seolah kehilangan pesona. Para remaja beramai-ramai datang ke kota. Berbagai macam alasan, pendidikan, pekerjaan yang lebih layak, uang yang banyak dan beragam alasan lainnya. Adalah Singgih seorang lulusan kesenian ITB yang mencoba melawan arus kebiasaan para pemuda. Dengan berbekal pengetahuan yang dimilikinya dia ingin membangun desanya. Menurutnya, di era serba digital ini nuansa tradisional, klasik, unik, dan detail akan menjadi daya tarik tersendiri.
Di desa Kandangan kecamatan Kandangan Kabupaten Temanggung dia mulai merintis sebuah usaha yang mempekerjakan masyarakat sekitar. Produksi dari Singgih ini tidak populer di masyarakat Temanggung ataupun Indonesia. Pengguna produknya adalah orang mancanegara dari Jepang, Inggris, Perancis, Italia, dan Amerika. Magno, begitu nama produk radio yang dia buat. Radio yang dia buat tidak seperti radio kebanyakan, radio tersebut merupakan hasil dari kerajinan tangan. Terbuat dari kayu sedangkan mesinnya dia bekerja sama dengan panasonic.
Magno sudah beberapa kali mendapatkan penghargaan dari luar negeri. Seperti juara lomba desain di Seattle, AS, tahun 1997, yang membuat seorang desainer Jepang tertarik dan mempopulerkan produk ini sejak 2004. Radio ini juga menjadi pemenang Good Design Award 2008 di Jepang untuk kategori Innovation/Pioneering & Experimental Design. Magno masuk nominasi untuk Grand Awards untuk Desain for Asia Award yang digelar di Hongkong. Pada 19 Maret 2009, Magno memenangkan Brit Insurance Design Award 2009 untuk kategori produk.
Harga satu unit Magno sekitar 1,1-1,3 juta. Magno diciptakan bukan barang komuditas tetapi dipersiapkan sebagai barang koleksi pribadi. Jadi harga lebih agak mahal. Dia menjual keunikan, detail barang, dan kelangkaan.
Tidak cukup berhenti dengan Magno, Singgih berinovasi dengan menciptakan Spedagi. Kependekan dari sepedaan pagi-pagi, merupakan sebuah komunitas yang hobi bersepeda di pagi hari dan berkeliling melihat kearifan desa. Selain digunakan sebagai nama komunitas Spedagi juga digunakan sebagai merk sepeda yang terbuat dari kayu. Lagi-lagi, Spedagi ini juga tidak populer di tempat dia diciptakan.

Singgih amat gigih untuk mengembangkan potensi desanya. Di tangan orang kreatif inilah sebuah desa kembali menemukan daya pikatnya. Hal yang telah dilakukannya mendahului salah satu dari Nawa Cita presiden Joko Widodo, membangun Indonesia dari pinggiran. Revolusi mental harus mampu mengubah paradigma para pemuda agar selepas mencari ilmu di kota mereka terapkan untuk membangun desanya. Sehingga, akan muncul Singgih-singgih yang lain di Indonesia. Selamat berkarya.
0 comments:
Posting Komentar