Kemarin malam absen dari utak atik kata. Saat mata tak bersahabat dan tanda-tanda pilek kembali melanda. Akhirnya, mengalah sejenak dengan rasa lelah. Perkataan adalah doa. Begitu istilah yang selalu terngiang di kepala sehingga menjadi rem ketika akan berkata negatif kepada putriku.
Wajar bukan, jika orang tua ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya? Termasuk lingkungan tempat tinggal. Ummu Musa pernah bilang, "Kalau nyari rumah pertama kali yang dilihat adalah lingkungannya". Sejak saat itu aku bersepakat dengan argumen tersebut. Entah bagaimana caranya, kelak saat akan membangun rumah pengen banget survey lingkungan. Jarak dari masjid, ada tempat PS nggaj, taman bermain, dan lain sebagainya.
Terkadang merasa sedih saat anak unyu kita dibilang "nakal" sama orang hanya karena pas digendong dia menangis dan tak mau diam. Padahal tangis adalah bahasa bayi yang orang dewasa tidak memahaminya. Pengen marah sebel atau gimana gitu, tapi kok ya gimana ya..., yang bilang kayak gitu kadang dari keluarga dekat.
Dari sini kemudian saya merenung dan berkesimpulan bahwa terkadang kita terlalu mudah melabeli anak kita. Bisa jadi saat dia menangis dan tak bisa didiamkan karena kita yang tidak bisa memahami keinginannya. Karena dia tidak nyaman, karena dia pengen diperhatikan, pengen diajak jalan-jalan atau lainnya. Jangan sampai ketidak mampuan kita memahami anak membuat gampang melabeli anak tersebut anak nakal. Andai saja kita paham keinginan dan bahasanya pastilah bisa lebih asik dalam membangun chemisty. Makanya, kalau saya gagal menenangkan biasanya akan minta maaf kepadanya karena telah gagal memahami inginnya.
Sekali lagi, perkataan itu adalah doa. Apalagi perkataan ibu kepada anaknya. Atau perkataan yang di ulang-ulang, bisa mempengaruhi alam bawah sadarnya. So, labelilah anak dengan label yang baik agar dia menjadi anak baik.
Jangan Terlalu Mudah Melabeli Anak
Maret 18, 2018
No comments
0 comments:
Posting Komentar