Aku dan CPNS
Oktober 29, 2018
No comments
Ini adalah kali kedua kesempatanku untuk mengikuti tes CPNS setelah lulus. Semangat yang kedua ini sangat berbeda dengan yang pertama, mengingat posisi dan kondisi yang berbeda. Jikalau saja boleh jujur, aku tidak terlalu berminat untuk menjadi PNS. Hari-hari bersama Tabina menjadi alasan terkuat untuk untuk enggan menjadi wanita karir. Meninggalkan Tabina dalam waktu lama itu... menjadi ujian terbesarku setelah hampir 11 bulan menjadi seorang ibu.
Rasa malas belajar pastinya ada. Ikut sekadar formalitas. Menghormati keinginan bapak dan ibuuk. Dalam doa selalu kuselipkan semoga tidak diterima wkwkwkwk. Belajar alakadarnya saja. Tapi... akhir-akhir ini, menjelang jadwal tes yang ditentukan mendekat semuanya menjadi berubah. waktu tes CPNS ku tanggal 4 November 2018, bertepatan dengan hari Minggu. Ibuku libur, bapak juga sudah pensiun. Walhasil tercetuslah ide dari my mom untuk satu keluarga mengantarku pergi ke Magelang mengikuti tes. Heloowww... rasanya pengen tersedak air liur wkwkwkkw.
Mau tes CPNS di antar orang satu rumah dan anakku dibawa, masak iya aku kerjakan alakadarnya. Tidak aku persiapkan sama sekali. Mana banyak saudara yang daftar pula. Okeh... targetku tetep ga ketrima tapi paling ga lulus passing grade dengan nilai tinggi, 400an lah ya. Prinsipku, ibu dan bapak akan tetep bangga kepada anaknya dan aku tetap akan terhormat sebagai peserta CPNS yang tidak diterima ketika nilaiku juga mendekati sempurna. Pastinya akan ada alasan aku tidak ketrima, tidak lolos SKB misalnya. Kan konon bagi yang sudah memiliki sertifikat pendidik langsung dapat nilai 100 SKB nya. Hahaha.... Skenario dari Allah yang aku harapkan adalah, aku lolos passing grade dengan nilai bagus tetapi terkalahkan oleh mereka yang memiliki sertifikasi. Aku ikhlas hihihi. 465 itu targetku.
Belajar dengan serius, seandainya aku kalah pun akan kalah dengan terhormat dengan capaian nilai itu. Kemarin aku pernah berhasil dengan nilai 385, maka 465 menjadi angka realistis untuk aku wujudkan. Asal belajar dengan benar, berproses maksimal, maka hasil biarlah menjadi urusan Allah. Kalau kata suamiku, "Anaknya ikutan nganter ujian, nilainya jangan memprihatinkan". Kurang lebih gitulah nasihatnya. Efek satu keluarga ngaterin bahkan berencana mau bawa bekal makan adalah aku belajar sampai aku bosan.
Well tulisan ini diturunkan untuk menghilangkan sedikit rasa penat dan tetap menjaga kewarasan. Sampai tahap ini aku tinggal banyak latihan soal dan menghafal beberapa bagian yang belum diingat, terutama pasal-pasal dan nomer peraturan-peraturan dalam bentuk UU, PP atau bahkan TAP MPR. Matematika dan bahasa Indonesia banyak latihan, TWK banyakin baca dan perkaya jenis soal. Untuk TKP relatif lebih mudah, akan tetapi tidak ada salahnya ada satu hari kugunakan untuk belajar ini. Ini semua kulakukan demi menjaga harga diri, nama baik, dan kehormatanku. YA Allah... tolonglah emak-emak ababil ini, yang sedang mengejar rasa puas karena berhasil mengerjakan soal dengan nilai maksimal. Semoga Engkau Ridha dengan hidupku dan aku ridha dengan ridhamu, suamiku dan kedua orang tuaku pun ridha dengan itu.
0 comments:
Posting Komentar