A Dispointed

Sesekali gaya judulnya pakai bahasa Inggris. Kekecewaan sering kali hadir karena antara harapan dan realitas jauh dari kenyataan. Standar yang dibuat terlampau sulit untuk didapat. Menyandarkan harapan kepada sesuatu yang salah juga bisa menjadi titik kekecewaan tertinggi yang dimiliki seseorang. Bener banget, perintah untuk menyandarkan harapan kepada Allah, jangan kepada manusia. Ada titik tertentu bagi sebagian manusia agak lambat menyesap makna dan mengambil hikmah dari kejadian. Mempercayai bukan hal mudah, memasang standar kepada orang lain juga harus menyesuaikan. Tidak boleh terlalu dipaksakan  

Sedih memang di awal. Rasanya hati tidak mau menerima begitu saja, Semacam luka menganga dan tak ada obatnya. Sakit karena kekecewaan bisa diibaratkan dengan paku tertancap di pepohonan. Bisa diambil penyebab rasa sakit. Tapi, sampai kapanpun luka itu akan tetap membekas. Butuh waktu cukup lama agar bekas tancapan paku tersebut dapat hilang.  

Untuk menerima bahwa semua sudah menjadi garis takdir Tuhan sangatlah tidak mudah. Butuh banyak rasionalisasi dalam diri untuk kemudian memerintahkan kepada seluruh anggota badan untuk menerimanya. Sebagian penonton bisa jadi berharap agar bisa segera pulih seperti sediakala. Tetapi, hati juga memiliki kuasa menolak sementara. Hanya diam, mencoba mencari celah agar bibir mau bergerak menyunggingkan senyum menjadi tidak mudah.  

Ada manusia jenis ini. Manusia yang semuanya perlu dipikirkan dan diterima akal sehat. Bukankah iman juga masih bisa diterma oleh akal? Pemuja bukti atas segala kata tak cukup menerima ribuan janji. Tak mudah memberikan maaf, meski ribuan maaf diucap berulang kali. Keras hati, begitu mungkin label yang akan diberi. Tetapi, kecewa dan rasa sakit tak semudah itu untuk diobati. Nggak ada obat di apotek.  

Jangan terlampau mudah mengumbar janji. Berkata sayang pada seorang wanita. Pada kenyataannya tidak semua wanita akan terbang melayang mendengar rayuan gombal dan kata pemanis bibir belaka. Jika cinta adalah kata kerja, maka bekerjalah untuk membuktikan cinta itu.  

Rasa Kecewa akan memberikan kita ruang belajar mengelola rasa. Merenungi segala situasi. Dan lebih jeli dalam memberi takaran. Lebih memahami lagi kepada siapa kepercayaan harus diberikan. Tidak mudah menaruh harapan. Kita harus merelakan dan belajar bangkit dari keterpurukan. Cobalah pahami, langit tak selamanya cerah. Angin tak selamanya menyejukkan. Matahari tak selamanya memberikan kehangatan. Pemilik kesempurnaan hanyalah Tuhan. Hanya Dia yang mampu menjalankan peran dengan apik dan tiada tanding. Sekali lagi, ikhlaskan. Kembalikan kepada sandaran paling tepat.  

Lalu, siapakah yang dapat mendatangkan obat itu? Hanya pemiliki kekecewaanlah yang mampu mengobatinya.... Biarkan semesta bekerja, menuntun hatinya untuk bisa normal seperti sediakala

0 comments:

Posting Komentar

Banyak Dilihat

Pengikut

Pengunjung

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Labels

inspirasi tania. Diberdayakan oleh Blogger.