Akhirnya, searching mengenai penggunaan media sosial dan tingkat insecure seseorang. Tenyata sudah banyak sekali penelitian yang dilakukan untuk mengetahui hal ini. Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian deskriptif dengan pemilihan objek dilakukan dengan random sampling.
Dari beberapa penelitian tersebut ada beberapa aspek yang merupakan poin bagi seseorang merasa insecure. Pertama, tubuh. Bentuk tubuh yang tidak proporsional menjadi pemicu insecure tertinggi. Entah karena dia merasa gendut, kurang tinggi, gigi kelinci, warna kulit, bentuk rambut, dan sebagainya. Apalagi yang difollow olehnya adalah selebgram kecantikan dan kesehatan, makin merasa nggak sempurna tu pastinya.
Kedua, sifat. Terkadang seseorang merasa dirinya sangat tidak layak berteman dengan entitas tertentu. Menurut pendapat pribadinya dia memiliki sifat/karakter yang tidak akan diterima. Misalnya, sangat merasa menjadi pendosa saat harus bertemu dengan orang yang menghadiri pengajian. Dia seperti membuat blok atas pasangannya tersebut.
Kegita, finasial. Gap ekonomi yang terjadi antara satu keluarga dengan keluarga lain juga menjadi pemicu insecure. Seseorang yang berasal dari kelas ekonomi rendah tentu akan malu saat harus bertemu dengan anak orang tajir. Melihat barang yang dipakai merupakan barang branded akan membuat kita tidak yakin dengan apa yang kita kenakan.
Insecure sendiri lahir dari tidak adanya rasa keberterimaan terhadap dirinya. Apa yang didapatkan sekarang tidak disyukuri. Malah melih ke mengeluhkan keadaan. Padahal bisa jadi apa yang kita miliki sekarang merupakan hal terbaik yang kita miliki. Jangan pernah menjadikan apa yang dimiliki orang lain sebagai patokan hal apa saja yang harus kita punya.
Apa-apa yang ditampilkan di media sosial bisa jadi hanya kamlufase belaka. Para selebgram, artis, dan pejabat bisa saja membagi momen bahagia seperti, membeli rumah, mobil, dan sebagainya. Kemudian tampaklah mereka sebagai orang paling sempurna. Padahal dia menyimpan banyak sekali luka yang dipendam sendirian. Mereka sengaja tidak membagikan kemalangan yang dihadapi. Jadi, nggak usah terlalu menjadikan orang lain sebagai kiblat dalam melihat diri sendiri.
Media sosial cukup memberikan dampak bagi para remaja dalam perkembangan dirinya. Perasaan rendah diri dapat memicu beberapa gangguan. Salah satunya adalah kecemasan. Dia sangat cemas jika lingkungan tidak mau menerima apa adanya. Disinilah peran orang tua menjadi sangat besar dalam mengatasi gangguan akibat gadget. Parahnya adalah masih ada orang tua yang gaptek. Sehingga mereka tidak dapat mengontrol dengan baik aktivitas anak di gadget.
Mari kita menggunakan media sosial dengan bijak. Apa yang kita lihat saat ini di feed IG mereka belum tentu benar-benar sempurna. Pasti ada kekurangan yang dimiliki hanya saja tidak diposting di sosial media. Cintai apa yang kamu miliki sekarang, karena bisa jadi apa yang kamu miliki sekarang adalah hal yang sedang orangain inginkan. Jika dirasa melihat medsos menyiksamu maka cobalah kurangi screentime
bener kak. dari sendiri kdg saya batasi, kalau terlalu membuka ke info2 yg random kadang jd toksik dan insekyur sendiri
BalasHapusBener banget, kak
BalasHapusKalau agak insecure kadang aku mending buka youtube yang mau aku buka atau nonton film sekalian, suka lewat aja info yang bikin gimana gitu
Kadang kalau nggak bikin happy, akun selebgramnya aku unfol atau mute aja deh kalau masih temen. Buka medsos tuh buat cari hiburan bukan malah merasa insecure hehehe
BalasHapusSuka insecure kalau lihat blog para senior, produktif sekali, tapi kemudian bisa menjadi pemantik
BalasHapus