Allah memiliki beberapa sebutan orang yang bertaqwa, antara lain:
1. Rabbani,
Sebutan Rabbani ini tertulis dalam surat Ali Imran ayat 79 :
{ مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَن يُؤۡتِيَهُ ٱللَّهُ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحُكۡمَ وَٱلنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُواْ عِبَادٗا لِّي مِن دُونِ ٱللَّهِ وَلَٰكِن كُونُواْ رَبَّٰنِيِّـۧنَ بِمَا كُنتُمۡ تُعَلِّمُونَ ٱلۡكِتَٰبَ وَبِمَا كُنتُمۡ تَدۡرُسُونَ }
"Tidak mungkin bagi seseorang yang telah diberi kitab oleh Allah, serta hikmah dan kenabian, kemudian dia berkata kepada manusia, “Jadilah kamu penyembahku, bukan penyembah Allah,” tetapi (dia berkata), “Jadilah kamu orang yang Rabbani, karena kamu mengajarkan kitab dan karena kamu mempelajarinya!”
Dalam surat di atas dengan sangat gamblang Allah menggambarkan agar kita menjadi orang Rabbani, yaitu yang belajar dan mengajarkan Al Qur'an. Orang Rabbani disebut dengan keluarga Al Qur'an. Dalam salah satu hadits, Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga dari kalangan manusia. ' Beliau SAW ditanya, 'Siapa mereka wahai Rasulullah.' Beliau SAW menjawab, 'Mereka adalah Ahlul Qur'an, mereka adalah keluarga Allah dan orang-orang khusus-Nya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).”
Sesungguhnya Allah memiliki keluarga dari kalangan manusia, yaitu mereka yang ahli Qur'an. Tentunya kita sangat ingin untuk menjadi bagian dari keluarga Allah. Mendapatkan nikmat berupa berkahnya umur dan senantiasa disucikan. Terdapat lima ciri dari seseorang yang disebut sebagai ahli Qur'an.
1. Senantiasa membaca Al Qur'an
2. Belajar untuk memahami Al Qur'an
3. Berusaha mengamalkan arahan yang ada dalam Al Qur'an
4. Mengajarkan Al Qur'an
5. Mencoba untuk menghafalkan Al Qur'an
2. Mukmin Sejati,
Sebutan lain bagi orang yang bertaqwa adalah mukmin sejati. Seorang mukmin memiliki keimanan yang kuat sehingga dia akan menjalankan segala perintah dan menjauhi larangan Allah. Dalam surat Al Anfal ayat 2-4 Allah telah mendeskripsikan ciri seorang mukmin.
إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتۡ قُلُوبُهُمۡ وَإِذَا تُلِيَتۡ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتۡهُمۡ إِيمَٰنٗا وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُونَ [2]
ٱلَّذِينَ يُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ يُنفِقُونَ [3] أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ حَقّٗاۚ لَّهُمۡ دَرَجَٰتٌ عِندَ رَبِّهِمۡ وَمَغۡفِرَةٞ وَرِزۡقٞ كَرِيمٞ [4]
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal. (Yaitu) orang-orang yang melaksanakan shalat dan yang menginfakkan sebagaian rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka akan memperoleh derajat (tinggi) di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia."
a. Gemetar saat mendengar nama Allah disebut
b. Iman semakin kuat saat dibacakan ayat-ayat Al Qur'an
c. Bertawakal kepada Allah
d. Melaksanakan sholat
e. Menginfakkan sebagian rezeki
3. Ibadurrahman,
Dalam bahasan Arab Ibadurrahman berasal dari dua kata yaitu ibad dan arrahman. Ibad artinya hamba sedangkan arrahman artinya maha pengasih. Dalam bahasa Ibadurrahman dapat di artikan sebagai hamba-hamba Allah yang pengasih. Allah menjelaskan sifat dan karakteristik Ibaddurrahman dalam surat Al Furqon ayat 63-67
{وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الأرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلامًا (63) وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا (64) وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا (65) إِنَّهَا سَاءَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا (66) وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا (67) }
Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati; dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik. Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka. Dan orang-orang yang berkata, "Ya Tuhan kami, jauhkanlah azab Jahanam dari kami. Sesungguhnya azabnya itu adalah kehinaan yang kekal.” Sesungguhnya Jahanam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir; dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.
Ciri ibaddurrahman dalam surat tersebut adalah :
- Rendah hati
- Tidak melayani orang bodoh
- Menghabiskan malam untuk melakukan sholat
- Senantiasa memohon kepada Alah agar dijauhkan dari siksa api neraka
- Tidak berlebihan dalam membelanjakan harta
- Tidak kikir
Disarikan dari Kajian Ramadan (Ustadz Harun Ar-Rasyid)
0 comments:
Posting Komentar