Baik,
sekarang sesi materi. Sebelum menyampaikan materi inti ijinkan saya untuk
bercerita. Kisah ini terdapat dalam salah satu hadits Riwayat Muslim.
Dikisahkan saat itu Abu Harairah sedang berada satu majelis dengan Rasulullah.
Kemudian, Nabi menyampaikan kisah 3 (tiga) orang manusia yang banyak beramal
sholih tetapi tidak beruntung dalam sabdanya.
Pada
saat hari perhitungan ada 3 (tiga) orang yang pertama adalah seorang mujahid.
Dia senantiasa berperang di jalan Allah. Hingga meninggal di medan perang.
Manusia di bumi menganggapnya sebagai seorang mujahid dan pemberani. Hingga
saat mengahadap Allah dia menceritakan berbagai macam nikmat yang diperolehnya.
Lalu, Allah bertanya, “Apa yang telah kau
perbuat dengan berbagai nikmat itu?”
Mujahid
itu menjawab, “Saya telah berperang karena-Mu sehingga saya mati syahid,”
ujarnya.
Allah
pun menyangkalnya, “Kau telah berdusta. Kau berperang agar namamu disebut
manusia sebagai orang yang pemberani. Dan, ternyata kamu telah disebut-sebut
demikian,” firman-Nya.
Allah
kemudian memerintahkan agar amalnya dihitung dan akhirnya dia diseret ke dalam
api neraka.
Orang
kedua merupakan seorang alim ulama, selama hidup di dunia senantiasa belajar
dan mengajarkan Al Qur’an. Seperti halnya orang pertama, orang kedua ini juga
menyampaikan nikmat yang telah dia terima.
Lalu
Allah bertanya, “Apa yang telah engkau perbuat dengan berbagai nikmat itu?”
Sang
ulama menjawab, “Saya telah membaca, mempelajari, dan mengajarkannya Al Qur’an
karena Engkau,” ujarnya.
Namun,
Allah berfirman, “Kamu berdusta. Kau mempelajari ilmu agar disebut sebagai
seorang alim dan kau membaca Alquran agar kamu disebut sebagai seorang qari.”
Allah
memerintahkan agar amalnya dihitung di hadapan pengadilan-Nya. Akhirnya, alim
ulama itu pun diseret wajahnya dan dilempar ke neraka.
Orang
ketiga merupakan seorang dermawan. Dia menggunakan kekayaannya untuk membantu
banyak manusia. Sepeti halnya orang pertama dan kedua,
Allah
bertanya, “Apa yang telah engkau perbuat dengan berbagai nikmat itu?”
Sang
dermawan menjawab, “Semua harta kekayaan yang aku punya tidak aku sukai,
kecuali aku sedekah karena- Mu.”
Allah
berfirman, “Kamu berdusta. Kamu melakukan itu agar orang-orang menyebutmu orang
dermawan dan murah hati.”
Sang Dermawan itu bernasib sama dengan dua orang sebelumnya.
Rasulullah
menepuk paha Abu Hurairah sambal bersabda, “Wahai Abu Hurairah, mereka adalah manusia pertama yang
merasakan panasnya api neraka jahanam pada hari kiamat nanti.”
Apa pelajaran yang dapat
kita ambil dari ketiga kisah tersebut?
Ya, setiap manusia akan mendapatkan apa yang
dia niatkan. Barangsiapa dia berniat karena ingin mendapatkan Ridha Allah maka
dia akan mendapatkannya, tetapi saat dia hanya mencari gemerlap dunia maka
diapun akan mendapatkannya. Niat itu berada pada kedalaman hati dan hanya Allah
yang dapat melihatnya. Niat menjadi hal penting dalam beramal. Seperti dalam
Hadits Riwayat Bukhori Muslim,
إنَّمَا الأعمَال
بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ
ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا
يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ
“Sesungguhnya setiap amalan
tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan.
Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan
Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang
dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.”
Sekali lagi, hadits ini menegaskan bagaiman
kedudukan niat sangat penting dalam beramal. Maka dari itu, adek-adek sekalian
mari kita mulai meluruskan niat saat menghadiri majelis ini. Kita luruskan niat
karena ingin mendapatkan Ridha Allah, ingin mendapatkan cinta dari Allah.
Bagaimana jika amalan tercampur Riya’?
· Jika riya’ ada dalam semua ibadah,
riya’ seperti ini hanya ditemukan pada orang munafik dan orang kafir.
· Jika ibadah dari awalnya tidak ikhlas,
maka ibadahnya tidak sah dan tidak diterima.
· Niat awal dalam ibadahnya ikhlas, namun
di pertengahan ia tujukan ibadahnya pada makhluk, maka pada saat ini ibadahnya
juga batal.
· Niat awal dalam ibadahnya ikhlas, namun
di pertengahan ia tambahkan dari amalan awalnya tadi kepada selain Allah
–misalnya dengan ia perpanjang bacaan qur’annya dari biasanya karena ada
temannya-, maka tambahannya ini yang dinilai batal. Namun niat awalnya tetap
ada dan tidak batal. Inilah amalan yang tercampur riya.
· Jika niat awalnya sudah ikhas, namun
setelah ia lakukan ibadah muncul pujian dari orang lain tanpa ia cari-cari,
maka ini adalah berita gembira berupa kebaikan yang disegerakan bagi orang
beriman (tilka ‘aajil busyra lil mu’min, HR. Muslim, no. 2642
dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu) (Lihat Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyah karya Syaikh Shalih
Alu Syaikh hlm. 25-27.)
Pahala dari Allah besarannya bergantung pada tingkat niat seseorang,
seperti kisah tiga orang tadi. Mereka sepertinya sudah sangat maksimal tetapi
kedalaman niat ternyata Allah mengetahui dan memperhitungkan segalanya dengan
detail. Yuk, luruskan niat. Teruslah
beramal sholih dan memperbaiki niat.
Tulisan ini telah disampaikan oleh tim pengisi Kajian Muslimah di SMA Negeri Pringsurat Kabupaten Temanggung
0 comments:
Posting Komentar