Dingin dan angin menjadi teman kala senja. Suara alam mulai berbunyi memberi tanda untuk segera kembali berkumpul bersama keluarga. Merangkai hangat saling bercengkrama.
Menelisik jendela, petani nira masih berlarian sepanjang jalan. Berharap tidak bertemu gelap, agar tetap tepat bertemu dengan Sang Maha. Bukti syukur atas limpahan kebaikan. Lisan basah mengucap untaian kesyukuran, berapapun yang didapatkan. Senyum anak dan istri mengembang, bahagia besok bisa kembali membeli seragam sekolah.
Elegi Senja ini, mengiring hati menemukan ketenangan atas segala ketetapan. Berdamai dengan segala keadaan. Menerima segala jenis suratan. Biarlah larut segala rasa hingga dia menemukan titik setimbangnya.
Terlalu gaduh isi kepala, mengguncang titik amfibi. Ingin berlari, bergegas, dan pergi. Pecundangkah rasa ini? Namun jika bertahan goncangan semakin membahayakan serasa akan menjebol benteng pertahanan logika yang selama ini disemai dengan berbagai macam ayat dan kisahnya.
Terkadang bertanya, dunia sudah berubah apakah aku tidak bisa menerima? Apakah sesuatu yang awalnya dianggap aksioma tak lagi bersifat mutlak sebagaimana awalannya? Akukah yang akan menjadi purba karena terlalu naif dengan kondisi saat ini? Merasa menjadi orang sok suci dan miskin kontribusi karena perbedaan sudut pandang persepsi.
Tetapi, hati terdalam selalu membisikkan, "Pembawa cahaya akan selalu dengan sinarnya. Hanya beberapa manusia telah meninggalkan sesuatu yang bersifat seharusnya".
Beberapa? Iya, beberapa saja, anggap saja begitu adanya. Pembawa cahaya akan tetap membawa nyala harap bagi semesta. Menyelamatkan bumi tanpa menampakkan diri. Pembawa cahaya tak akan tetap ada hingga dunia tak lagi berada pada posisinya.
Bertahanlah dan tetap menjadi bagian dari pembawa cahaya. Nyalakan lentera dengan setitik nilai yang kau punya. Jika malam semakin gelap sebentar lagi fajar akan menyingsing memberikan sinarnya.
Elegi Senja hari, memberikan ribuan makna. Berhentilah sejenak dan sesaplah energi semesta.
Hmmmmmm
BalasHapusmmhhhh
Hapus