Rasa cinta yang merupakan anugrah Sang Maha Kuasa membuat beberapa manusia menjadi tidak berdaya. Bahkan menyebabkan dia berada pada titik nadzir terendah. Anugrah Allah itu berubah menjadi sebuah siksa, dikeluarkan merasa berdosa disimpan menjadi bait harapan dan doa. Namun, tak sedikit pula yang akhirnya tenggelam dalam rasa putus asa. Memandang dunia terlalu kejam dan tidak terima dengan anugrah Tuhan-Nya.
Kita tentu percaya tak ada ciptaan yang sia-sia, termasuk pula dengan rasa cinta. Dia pasti hadir ingin memberikan kita makna. Mengajari kita bagian-bagian lain dari kepingan sisi kehidupan. Apakah kita akan semakin mendekat atau menjauh. Akan semakin banyak berbuat atau terluruh.
Cinta itu ibarat sebuah bahan makanan, semua akan tergantung pada cara pengolahan. Barangsiapa mengolahnya dengan dibantu bumbu sari setan makan akan membawa kepada kemaksiatan. Akan semakin menjauhkan dari pencipta cinta. Barangsiapa mengolahnya dengan bumbu Rabbani maka cinta itu aka semakin menumbuhkan, semakin menambah kedekatan kepada Pencipta.
Semua bergantung pada kita, bagaimana akan mengolah rasa. Membuat kita semakin tumbuh dan bersinar atau membuat kita terpuruk dan semakin dalam lorong menyedihkan.
Hay, kalian yang sedang sampai pada titik nadzir! Tetaplah logis dan gunakan logika, tetaplah yakin akan segala kuasa. Apa yang telah dituliskan untuk kita tidak akan pernah menjadi milik lainnya.
Perbanyaklah dzikir agar ingatan tentangNya lebih banyak daripada tentangnya. Jika sudah seperti ini barulah pantas kamu bilang mencintainya karena Allah. Bukan karena terpedaya nafsu belaka.
Berjuanglah, mengolah rasa ini. Jika waktunya tiba akan dipertemukan. Namun, tetaplah siapkan ruang pada harapan bahwa semua bisa jadi tidak sesuai keinginan. Allah akan memberikan yang terbaik untukmu. Allah telah menyiapkan belahan jiwa yang paling pas untukmu. Perjalanan rasa ini memang melelahkan tapi ingatlah kisah Ali dan Fatimah yang mencinta dalam diam.
Jangan terlena dan membiarkan diri masuk ke dalam lubang kemaksiatan. Kisah Romeo and Juliet tak seromantis kelihatannya. Bukantah kau ingin cinta sehidup sesurga? Berarti bukan Kisan Romeo and Juliet yang akan kau pelajari.
Cobalah kau cari bagaimana kisah cinta orang-orang Sholih. Maka, akan kau temukan betapa manusiawinya manusia.
Saat engkau jatuh cinta, pastikan Allah tetap sebagai tujuan dan Rasulullah sebagai teladan. Selamat merangkai kisah cintamu, semoga anugerah itu menjadi penyambung engkau dengan TuhanMu.
0 comments:
Posting Komentar