Memorable Book : Markesot Belajar Ngaji



Mencari buku yang Memorable agak sedikit sulit, soalnya beberapa buku memiliki kesan tersendiri. Eh, tapi buku Memorable disini bukan hanya buku yang berkesan sih, menurut arti yang sempet dicari di google, Memorable artinya mudah diingat. Sepertinya judul buku di atas menjadi sebuah buku Memorable untukku. 

 

Markesot Belajar Ngaji adalah buku tulisan Emha Ainun Nadjib pertama yang aku miliki. Awalnya berfikir buku ini akan cukup menghibur, bisa dibaca sambil rebahan dan mendengarkan musik atau sambil bersantai. Baru juga pada BAB pertama yang dibaca sudah dibolak-balik. Mencari makna, apa sih ini? Gaya menulis Emha Ainun Nadjib ini sangat filosofis dan kaya makna. Butuh peresapan disetiap kalimat yang dituliskan olehnya. Hasil Iqra' terhadap kondisi di sekitar dihubungkan dengan ayat-ayat Al Qur'an. 


Buku ini berjumlah 108 bab dengan jumlah halaman maksimal tiga. Setiap bab selalu diberikan contoh riil yang terjadi di masyarakat, kemudian akan muncul ayat Al Qur'an yang menjadi petunjuk penjelasan akan permasalahan tersebut. Sebagai orang awam, aku tak akan sanggup dan mampu untuk menulis bagaimana cara beliau menulis. Hal ini karena dibutuhkan sebuah pemahaman yang cukup dalam mengenai kitab suci umat islam. 


Tulisan Emha Ainin Nadjib ini terdiri dari empat bagian. Bagian pertama teraniaya dan tertawa, bagian kedua Najis Komprehensif, Bagian ketiga Ilmu Sejati, dan bagian Keempat adalah Ewuh Pakewuh Kepadanya. Dalam setiap bagian nama Bab diberinama dengan Daur.


Markesot Belajar Ngaji merupakan catatan harian Emha Ainun Nadjib selama dua tahun, yaitu 2017 sampai dengan 2018. Secara khusus tulisan beliau ingin mengajak pembaca melakukan dekonstruksi pemahaman nilai, pola, komunikasi, motede perhubungan kultural, pendidikan cara berfikir dan upaya mencari solusi akan masalah yang di hadapi oleh masyarakat.


Nah, setelah kepo-kepo maksimal kembali ternyata Daur adalah tulisan dari Mbah Nun (begitu sapaan beliau) di website pribadi mbah Nun. Buku yang menurut saya Memorable ini ternayata merupakan daur ke V. Artinya ada 4 daur yang belum saya baca. Menurut informasi yang didapatkan Daur 1 berjudul Anak Asuh Indonesia, Daur 2 Iblis tidak Butuh Pengikut, Daur 3 Mencari Buah Simalakama, dan Daur 4 Kapal Nuh Abad 21. Berita pentingnya lagi, semua tulisan ini dapat dibaca di laman caknun.com secara gratis. Duh, denger berita ini berasa langsung stelan otak berkata, siap-siap kepalamu...Ren. 


Gara-gara buku ini aku jadi teringat bahwa setiap buku memiliki sifat bermacam-macam saat ita akan membacanya. Tidak semua langsung bisa kita pahami dan terima. Tetapi perlu untuk benar-benar diresapi terlebih dahulu.


Paling tidak macam buku dari segi cara membacanya dapat dibagi menjadi beberapa jenis.

1.      Buku langsung enak

Buku langsung enak adalah buku yang tidak perlu berfikir mendalam tetapi langsung mendapati maksudnya. Semisal butuh kunyahan tidak membutuhkan kunyahan ekstra. Buku maca mini bisa jadi memang buku yang seperti ciki-ciki, enak tetapi kurang kandungan nutrisinya atau kaya akan nutrisi. Buku yang ditulis dengan maksud untuk menyampaikan nilai kepada segmentasi tertentu akan  mengikuti cara segmentasi tersebut berkomunikasi. Penulis tentu ingin memastikan jika pembaca dapat langsung mengambil pelajaran dari apa yang dia sampaikan.

2.      Buku untuk dicicipi

Buku jenis ini merupakan buku yang dicicipi hihihi, ini seperti saat kita membeli makanan. Apa tujuan mencicipi? Untuk mengetahui rasanya apakah sesuai dengan selera kita atau tidak. Biasanya kita akan membandingkan satu rasa dengan rasa yang lain. Ada orang yang ingin memastikan bahwa buku bacaan terebut berisi mengenai informasi yang dibutuhkannya. Dia perlu menimbang dan membandingkan manakah yang sesuai dengan apa yang dia cari. Jika sesuai akan dilanjutkan proses memakan, jika tidak maka akan mencari yang lainnyan.

3.      Buku yang harus dikunyah lama

Nah, buku tulisan Cak Nun adalah buku yang harus dikunyah secara perlahan. Hal ini dimaksudkan agar intisari dan nutrisi dalam buku itu dapat sampai ke otak. Terburu-buru dalam membacanya akan membuat kita kehilangan makna dan tujuan awal penulisan buku tersebut. Buku-buku filsafat atau novel dengan Teknik penulisan tingkat tinggi (Dunia Sophie, misalnya) membutuhkan waktu membaca dengan penuh konsentrasi tinggi. Membaca buku jenis ini tidak bisa disambi dengan melamun. Melamun sedikit saja langsug kalang kabut. Bukannya tertelah dan memberikan nutrisi malah muntah karena diri tak bisa lagi mencerna serta mencermati.

4.      Buku yang menyediakan nutrisi untuk semesta

Ada juga penulis buku yang berharap melalui tulisannya, kelak ada seseorang yang memahami makna dan ilmu tersembunyi yang dia tuliskan kemudian mampu menyebarkan pengetahuan. Setiap kelahiran pasti memiliki maksud dan tujuan, pun dengan penulis yang membuat rangkuman pemahaman. Penulis yang selalu berharap nilai yang dimiliki dapat diketahui semua orang. Cak Nun selalu berkata seperti pelok pelem (biji mangga), biji yang tertanam kemudian kelak akan berbuah pada waktu yang belum semua makhluk mengetahuinya. Cak Nun selalu berharap ilmu yang beliau sampaikan tidak hanya berhenti pada pembaca. Akan tetapi memberikan efek dan dampak bagi masyarakan sekitarnya.


Dari satu buku Cak Nun atau Mbah Nun ini aku mulai tersadar, benarlah yang disampaikan Taufik Ismail bahwa aku termasuk dalam generasi nol buku. Masih tertatih untuk membaca. Markesot Belajar Ngaji memberikan tamparan intelektual sangat keras padauk. Ya, aku harus banyak belajar cara membaca. Kalau kata Cak Nun dalam bukunya, Iqra’ ku belum sempurna. Buku yang tidak terlalu tebal tetapi sepertinya harus berulang membacanya. Dan sepertiny perlu mencari tulisan-tulisan Emha Ainun Nadjib untuk melatih otak hihi.

 


0 comments:

Posting Komentar

Banyak Dilihat

Pengikut

Pengunjung

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Labels

inspirasi tania. Diberdayakan oleh Blogger.