Lintasan 11: Aku dan Hijrahku




Kuraih kain segi empat warna ungu, lalu kulipat menjadi sebuah segitiga. Dalam beberapa detik, kain itu sudah menutupi kepalaku. Setelah kupasangi peniti, sempurna sudah dia menutup kepalaku. Lalu sedikit kutarik ujung bagian depan ke belakang melilit leherku. Selesai... maklum masih tahap belajar, jadi belum bisa gaya-gaya. Ini gaya maksimal yang bisa kupakai.

Ramadhan kali ini aku yakinkan hati untuk mengenakan hijab. Salah satu kewajiban seorang muslimah yang baru bisa  aku tunaikan. Bulan penuh berkah, menjadi awal pembuka pintu hidayah.

Ah, kurang afdal kalau momen mengenakan hijab ini tidak aku kabarkan ke sahabatku. Kuraih ponsel, lalu selfie, kukirim kepada sahabatku.

Aku bilang, "Aku belum bisa gaya-gaya, cuma baru bisa model ini aja." Tetapi katanya, dia juga sudah lama mengenakan hijab dan belum bisa bergaya. Malahan, seringnya memakai jilbab Jokowi. Pertama aku juga heran, apa ada model jilbab jokowi? Ternyata, maksudnya itu jilbab blusukan. Jilbab yang langsung bisa dipakai.  Iya sih, jilbab ini lebih praktis dipakai. Lagipula, sekarang juga sudah banyak model-modelnya.

Islam itu agama yang mudah tetapi bukan untuk dimudahkan atau disepelekan. Aturan mengenakan hijab ada dalam dua surat, surat An-Nur ayat 31 dan Al Ahzab 56. Dari kedua surat tersebut tidak ada perintah untuk memodel-modelkan jilbabmu. Hanya diperintahkan untuk menjulurkan kain sampai ke dada dan itu sebagai pembeda dengan kaum yang lainya. Jadi, kalau ad yang membuat berbagai macam model itu merupakan sebuah bentuk kreatifitas. Hukumnya mubah. Asalkan masih tetap memegang kriteria wajibnya. Ini sedikit membesarkan hati, untukku yang belum canggih mengkreasikan kain.

Ber-agamalah sesuai dengan pemahamanmu. Ketika belum paham, carilah ilmu untuk memahaminya.

Bismillah, semoga Allah ridha atas hidup dan pilihan dalam hidupku.

*Lintasan 10 dan 11 untukmu sahabat. Semoga kita sama-sama diistiqamahkan dalam jalan kebaikan ini.
Read More

Lintasan 10: Jawaban Kerinduan




Semilir angin menyapa kota atlas. Membawa seribu satu pikiranku hilir mudik tak tentu arah. Satu persatu memori dalam kepala berputar begitu saja. Entah kemana seluruh lintasan pikiran itu akan bermuara. Aku berasa ada di tengah empat penjuru mata angin. Seluruh aliran angin bertemu tepat di kepala. Membuat rambutku menari-nari. Aku harus menemukan jalan atas kebuntuan segala pikiran dalam otakku. Aku harus menemukan sebuah muara yang dapat membawaku kedalam kedamaian.

Ah, tiba-tiba aku diserang rasa rindu yang membuncah. Kerinduanku pada ketenangan hidup. Entah berapa kali aku bersujud dengan sebenar-benarnya sujud. Tetiba rindu itu menyusup dalam relung hidup. Dimanakah sebenarnya DIA dalam hidupku? Benarkah aku telah pasrah dengan sebenar-benarnya pasrah tentang segala hidupku. Bukankah DIA pemeberi petunjuk atas segala jalan hidupku? Apatah aku telah benar-benar menjadikan DIA tempat bersandar atas segala hidupku?

Semilir angin sore ini membawa banyak pertanyaan dan beribu kerinduan. Ya... rindu untuk benar-benar menjadi ciptaan-Nya yang tidak durhaka. Rindu untuk benar-benar mendapati hidup nan diberkahi.

"Perbaiki diri, maka Allah akan memberikan yang terbaik." Entah, kalimat itu terngiang kembali di telingaku. Pesan dari seseorang, ah aku sungguh ingin bermunajat dengan benar. Aku ingin berlatih menjadi manusia taat.

Ku raih ponselku lalu ku ketik pesan untuk sahabatku, "Aku ingin mengenakan hijab."

Dia meyakinkanku kembali bahwa, berhijab itu tidak harus sempurna. Tapi dia akan membawa kita belajar lebih untuk menjadi sempurna. Tidak ada orang yang baik, yang ada hanyalah orang yang sedang belajar menjadi baik.

Lalu lalang kendaraan menjadi melodi yang meyakinkan. Bersambut suara adzan aku kuatkan azam. Ku penuhi perintah-Mu, kulakukan kewajibanku. Terimalah aku wahai Tuhanku.
Read More

Lintasan 9: Pelajaran dari Peminta-minta



Pagi itu dingin masih menyapa. Kabut masih menggelayut menyambut matahari. Aku terduduk dalam sebuah mobil, menunggu serombongan orang yang belum datang. Mengamati aktivitas pagi di kota ini. Ada penjual bubur kacang hijau sedang sibuk melayani pembelinya, ada warung makan sedang berjubelan orang-orang yang mau sarapan. Beberapa kendaraan lalu lalang di seberang jalan. Pandangan ku berhenti pada sebuah halte. Disana aku mendapati pemandangan yang berbeda dari pemandangan sekitar.

Seorang ibu dengan pakaian compang camping sedang menggunting botol air mineral. Di sampingnya ada tas berisi pakaian dan anak kecil. Mungkin anak kecil itu anaknya, dan mereka habis camping #eh. Dia menggunting botol itu dengan rapi, lalu meletakkan uang Dua ribu rupiah ke dalam botol yang sudah digunting tadi. Uang Dua ribu rupiah diletakkan di bagian paling atas, sedangkan uang recehan diletakkan di bagian bawah. Setelah pengaturan posisi uang dirasa cukup dia meletakkan potongan botol berisi uang itu di pojok halte (bawah kursi)... dia mengamati dengan detail dan sesekali membenahi posisi uang dalam botol.

Setelah posisi botol dan uang pas, dia mulai membenahi pakaiannya. Dibuat agar compang camping nya terlihat sempurna. Lalu membenahi rambutnnya. Setelah dia selesai “berdandan” dia mulai menata penampilan anaknya. Supaya lebih mendukung barangkali.

Terlintas dalam hati ini, luar biasa persiapan orang yang akan meminta minta. Dia memperhatikan betul kepantasan penampilan dan peletakan posisi uang, agar posisinya pas untuk dilihat dan menarik belas kasih orang. Pekerjaan yang seringkali di anggap remeh temeh bahkan hina tetapi dia mempersiapkan dengan baik. Ini adalah pesan dari Allah yang ditujukan padaku. Jika ingin melakukan sebuah pekerjaan, apapun itu maka persiapkanlah dengan baik. Lakukaknlah dengan ssempurna, hingga pantas untukmu mendapatkan belas kasih-Nya. Kemudian, diijabah maksud dan keinginanmu oleh-Nya.
Read More

Lintasan Lanjutan

Tersebutlah sebuah negeri, berisi wanita-wanita dengan berat badan kurang ideal. Wilayah itu dikenal sebagai Tempat yang tidak mengenal berdoa sebelum makan. Tempat tinggal mereka dibagi menjadi dua wilayah. Wilayah A disebut wilayah over dan wilayah B disebut wilayah under.

Saat bulan puasa tiba, wanita  di wilayah over terlihat sangat murung. Dalam hati mereka, "Wah gawat setan-setan dikurung. Ga ada yang bantuin makan jatahku dong..."
Berbeda dengan wanita di wilayah under, mereka sangat bahagia saat bulan puasa. Dalam  pertemuan arisan mereka berkata, "Asiiikk setanny dikurung, jadi semua makanan kita ga ad yang dimakan setan."
Read More

Selamat Jalan, Bapak Wisnu Graito Usodo



Belum ada seumuran jagung aku mengenal beliau. Pak Wisnu Graito Usodo begitu namanya. Beliau menjabat sebagai Kasubbid di bidang ekonomi Bappeda. Seseorang yang paling sering “main” ke ruang Sosbud dan Pemerintahan. Pertama kali berkenalan dengan beliau, langsung ditanya asal daerahnya mana. Aku menjawab kalau aku dari Kaloran.
“Kalorannya mana?,” tanya beliau.
“Kwarakan, Pak,” jawabku.
Aku sudah membayangkan ekspresi orang yang mendengar desa Kwarakan.
“Dalane ndak ijeh angel?,” begitu kalimat lanjutannya.
Arghhh sebagai alumni desa Inpres, banyak RTLH, dan berada di batas kabupaten Temanggung. Hm.. suasananya masih sejuk lhoh. Sekarang mah udah bagus jalannya.

Setelah sekian lama perbincangan di awal pertemuan kami, ternyata beliau mengenal ibuku. Beliau pernah bertugas di Kecamatan Kaloran. Katanya, dulu setiap minggu sekali beliau datang ke desaku. Kata ibu, beliau adalah sosok guru untuk ibuku dalam hal pemerintahan.

Pagi ini, saat apel terdengar pengumuman dari masjid samping Kantor. Yang intinya mengabarkan kalau salah satu warga di RT nya meninggal dunia. Suasana sangat hening saat itu. Kemudian, suara itu menyebut nama, “Wisnu Graito”. Aku masih berfikir, mungkin ada nama Wisnu lain di lingkungan pak Wisnu tinggal. Ternyata, tidak. Ya... Wisnu Graito yang disebut dalam pengumuman itu adalah Bapak Wisnu Graito Usodo, yang kemarin baru saja menyerahkan tulisan untuk aku ketik. Seorang bapak, yang sering menyapa dan bercanda dengan biasa. Aku merasa dekat dengan beliau, terlepas dari beliau juga dekat dengan ibuku.

Pagi ini, aku membawa majalah Tempo dari Pak Nas, karena ingat saat beliau membuka-buka halaman majalah ini. 

Beliau berkata, “Sudah lama aku tidak membaca majalah seperti ini.” Kemudian berkomentar,”Ini lho..sorong ternyata sudah seperti ini, selama ini kita menganggap Sorong itu tertinggal, ternyata sudah menjadi sebuah kota yang maju... kota-kota lain itu sudah bagus-bagus pembangunannya. Perencanaannya sip! Temanggung ke.. jan”

Dengan jawaban seadanya aku menjawab,”Lho... Bappeda kan pak Wisnu. Ayo pak Wisnu buat perencanaan yang sipp.”

Lalu kami membicarakan tentang Jember dan beberapa kota lain. Hari ini, aku membawa majalah ini karena ingin berbicara tentang Temanggung dengan beliau.

Foto sebelum Lava Tour
Semoga baktimu untuk negeri ini dicatat seagai salah satu amalan kebaikan. Selamat jalan bapak. Hari ini, aku berjanji dalam hati suatu hari nanti Temanggung akan memiliki sesuatu yang berbeda dari Kabupaten/Kota lainnya.







Nyanyi dengan nada amburadul

Read More

Haji Agus Salim: Diplomat yang Tak Mampu Membeli Kain Kafan



Sampai sekarang, aku masih terusik dengan kisah Haji Agus Salim saat kematian anaknya. Bapak bangsa yang tak mampu membelikan kain kafan untuk anaknya. Sakitnya tuh ga cuma di sini, tapi dimana-mana. Seseorang yang selalu memimpin rombongan melakukan diplomasi. Saat di luar negeri dia akan sejajar dengan para pemimpin negara lainnya, hanya membeli satu potong kain kafan saja tidak mampu. Apa ini yang disebut penghargaan terhadapa seseorang yang telah berjasa, hingga mengantarkan Indonesia pada maqamnya. Bangsa merdeka. Menetes air mata ini, masihkah ada hari ini anak bangsa yang seperti dia?.

Hari ini, kita semua anak bangsa telah berhutang banyak padanya. Hari ini, seluruh rakyat Indonesia telah merasakan nikmatnya menjadi bangsa yang merdeka karena usahanya. Hari ini, orang-orang berteriak karena tak mampu membeli rumah. Hari ini, orang-orang berebut mendapatkan uang tunjangan. Hey... Haji Agus Salim juga tak pernah mempunyai rumah, hidupnya selalu berpindah dari satu kontrakan ke kontrakan lainnya. Haji Agus Salim terkadang hanya makan dengan kecap. Dia tidak mampu membeli kain kafan untuk anaknya....

Hari ini, para pejabat negeri zamrud khatulistiwa ribut karena mobil dinas yang tidak nyaman. Gaji yang tidak cukup. Heloow... apa yang sudah kalian berikan kepada negeri ini? Sampai berani menuntut begitu banyak?. Coba bandingkan hidup kalian dengan kehidupan Agus Salim. Dia seorang petinggi negara, orang penting dalam sebuah partai besar, pemilik surat kabar. Dan dia tidak mampu membeli kain kafan untuk anaknya?.

Seandainya Agus Salim hari  ini masih ada, apa kalimat yang akan dia ungkapkan kepada generasi setelahnya. Generasi yang bertugas menjaga NKRI ini agar tetap pada kehormatannya. Seandainya, Sang Diplomat penguasa sembilan bahasa ini hidup pada zaman sekarang apa yang akan dia katakan?. Mungkinkah dia akan menyesal pernah memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini? Bangsa yang telah diwariskan kepada para penjilat, dan mencoba mengambil keuntungan dari setiap posisi yang didapatkan. Masih adakah ketulusan dari anak bangsa ini? Yang benar-benar ingin memberikan apa yang dia punya? Apakah bangsa ini berisikan orang-orang yang selalu berharap mendapatkan sesuatu dari bangsanya?Adakah abdi negara yang sesungguhnya? Mengabdi tanpa tendensi. Sekali lagi aku ingin bertanya, apa perasaan yang dirasakan saat mendengar bahwa Bapak Pendiri Bangsa Indonesia pernah tidak mampu memberlikan kain kafan untuk anaknya?.
Read More

Banyak Dilihat

Pengikut

Pengunjung

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Labels

inspirasi tania. Diberdayakan oleh Blogger.