Lintasan 14: Untukmu, Sahabatku yang Ada di Seberang




Mendekap nyala cahaya di tengah gulita. Memandang  padang pasir di sekitar angin yang mendesir. Ku bermimpi tentang tepian pantai dengan angin semilir, tapi nyatanya aku ada di tengah padang pasir. Mencoba merangkai makna untuk menggapai bahagia. Aku mulai menepi di gelap malam yang sepi, sepi dalam nyala api sunyi.

Termenung tentang akhir hidup. Termenung tentang pertemuan agung. Detik ini, aku masih tertatih mengeja jalan ke surga. Sedangkan sahabatku yang ada di seberang tengah berlari mengejarnya. Aku iri denganmu, sahabatku yang ada di seberang.

Telah tenang hatimu atas segala putusan, telah menang jiwamu atas egomu. Aku masih merintih, tertatih meminta kepada Yang Terkasih, agar aku tenang dengan segala putusan, agar aku mampu menundukkan egoku.

Saat air matamu seharga untaian jalan ke surga, air mataku hanyalah sia untuk menenangkan jiwa. Saat katamu mulai tertata meminta ampunan atas segala dosa, aku masih terbata untuk berkata.

Saat air matamu jatuh membaca rangakaian ayat cinta cari Tuhan, aku masih menangis karena membaca peta hidup yang tak begitu jelas. Saat kau telah berpasrah aku masih tak tentu arah.

Aku sangat iri denganmu, sahabatku yang ada di seberang. Kau telah menemukan jalan terang, dan aku masih meraba arah jalan pulang. Pulang kepada Rabb ku. Di sini aku masih belajar hidup untuk Yang Maha Hidup, dan kau telah benar-benar menyerahkan hidup pada-Nya. Semoga nyala imanku tak semakin meredup.

Aku ingin sepertimu, sahabatku yang ada di seberang.
Read More

Lintasan 13: Sudut Pandang



Gedung biru, tempat berkumpulnya orang-orang yang selalu bermimpi untuk negeri tembakau. Tempat dengan kata sambutan di depan pintu "One plan for all". Satu perencanaan untuk semua.Tempat dengan ritme bekerja sangat cepat dan selalu padat agenda rapat.

Pada bulan puasa ini di tempat ini, ada seseorang yang pekerjaannya menjadi lebih ringan dari hari-hari biasa. Dia adalah orang yang bertugas mengantarkan minuman setiap harinya. Saat puasa datang, aktivitas itu tidak pernah dia lakukan. Meski ada yang tidak berpuasa, mereka menghormati kawannya.

Pekerjaannya nampak sepele memang, hanya mengantar minuman ke setiap ruangan di pagi hari. Sore hari dia bertugas mengambil gelas. Tetapi, setelah menelisik lebih dalam tugasnya ternyata tidaklah semudah yang selalu dibayangkan kebanyakan orang.

Tangannya terkadang terasa sakit, karena dia harus membawa baki berisi gelas besar dengan air minum penuh. Dibawa naik ke lantai dua. Belum lagi permintaan dari satu orang dengan orang yang lain berbeda-beda. Ada yang mintanya teh setengah manis, teh tawar, teh muanis, air putih, atau sekadar menggunakan tutup gelas kesayangan. Kata beliau, “Saya harus menghafalkan permintaan dari masing-masing orang itu dalam waktu sehari.” Bagi orang pelupa, sangat tidak disarankan mengambil pekerjaan ini (bagi yang ngerasa ajah #melet ah)

Sepintas pekerjaan itu mudah, ya... sangat mudah. Hanya mengantarkan minuman ke seluruh penghuni kantor. Kemudian sore hari mengambil gelas-gelas kosong. Bisa jadi, seperti itu pula orang memandang pekerjaan kita. Pekerjaan yang sedang kita jalani begitu mudah dan menyenangkan. Padahal, mudah tidaknya sebuah pekerjaan tergantung cara pandang yang menjalankan. Senang atau tidaknya menjalankan tergantung bagaimana cara kita menikmati pekerjaan. Tidak ada pekerjaan yang mudah, yang ada adalah pekerjaan yang akan kita nikmati sehingga semuanya menjadi mudah.
Read More

Lintasan 12: Cara Mengetuk Pintu Langit-Nya



Pintu-pintu langit senantiasa terbuka, menerima segala pinta dari penghuni dunia. Rangkaian kata dalam bentuk doa didengar Sang Pencipta. Setiap keturunan Adam mempunyai berbagai macam cara yang berbeda dalam mengajukan permohonan kepada Tuhannya. Mereka meminta dengan cara sesuai kadar pemahaman yang dipunya. Selama di penghujung bulan doa ini ada beberapa jenis cara orang untuk meminta. Barangkali penuh pro dan kontra. Bagiku, yang penting tidak dicabut nikmat untuk berdoa.

Jenis orang pertama, dia akan meminta dengan memaksa. Sebagaimana doa nabi Muhammad saat perang badar al kubra. Dia meminta sampai sorbannya terjatuh, pundaknya gemetar. Beliau berdoa, “Jika Engkau tidak memberikan kemenangan kepada kami, maka tidak akan ada lagi manusia yang akan menyembah-Mu. Maka, berikanlah kemenangan kepada kami.” Memaksa dan mengancam *uuuh

Bentuk yang kedua adalah dengan merendahkan diri di hadapan Allah. Dia benar merasa sebagai hamba yang dhaif, lemah, dan tidak berdaya. Tidak akan mampu berbuat apa-apa tanpa campur tangan-Nya.

 Ada pula jenis berdoa yang ketiga, dia meminta dengan sangat detail kepada Tuhannya. Menyebutkan segala keinginannya dengan sangat rinci dari mulai jumlah, waktu.

Ada juga jenis keempat, yang dia tidak mau menyebutkan secara rinci doanya. Dia akan meminta secara garis besar untuk kehidupannya. Baginya, Allah lebih tau apa yang dia butuhkan melebihi dirinya sendiri.

Ada juga orang yang tidak pernah meminta untuk dirinya sendiri. Ini adalah jenis kelima. Dia selalu memintakan untuk orang-orang yang ada di sekitarnya. Dia meyakini bahwa, saat dia meminta untuk orang lain maka, malaikat akan mendoakan hal yang sama untuk dirinya.

Selain itu, ada orang yang meminta dengan jenis keenam. Dia selalu mengungkapan syukur kepada Rabb-Nya. Misal, ketika mempunyai hajat dalam pilkada. Dia berkata,” Terimakasih ya Allah, karena Engkau telah memberiku kepercayaan untuk memimpin daerah ini.” Padahal, pemilihan belum juga berlangsung.

Yang terakhir atau yang ketujuh, ada manusia yang berdoa menggunakan tawasul atas kebaikan yang sudah pernah dia lakukan. Sebagaimana cerita 3 orang yang berada dalam goa. Masing-masing dari mereka menggunakan tawasul kebaikan yang dipunya.

Apapun caranya, semoga kita teta diberikan hidayah untuk selalu berdoa kepada Allah. Bukankah Allah pernah berfirman dalam surat Al Baqarah 186, “Jika mereka bertanya dimanakah Aku maka sesungguhnya Aku dekat, dan jika mereka memohon kepada Ku maka pasti akan Aku kabulkan.” Allah itu dekat, lebih dekat dari urat nadi kita. Yakinlah, Allah bersamamu dan selalu mendengarkan rintihan dan keinginanmu.
Read More

Lintasan 11: Aku dan Hijrahku




Kuraih kain segi empat warna ungu, lalu kulipat menjadi sebuah segitiga. Dalam beberapa detik, kain itu sudah menutupi kepalaku. Setelah kupasangi peniti, sempurna sudah dia menutup kepalaku. Lalu sedikit kutarik ujung bagian depan ke belakang melilit leherku. Selesai... maklum masih tahap belajar, jadi belum bisa gaya-gaya. Ini gaya maksimal yang bisa kupakai.

Ramadhan kali ini aku yakinkan hati untuk mengenakan hijab. Salah satu kewajiban seorang muslimah yang baru bisa  aku tunaikan. Bulan penuh berkah, menjadi awal pembuka pintu hidayah.

Ah, kurang afdal kalau momen mengenakan hijab ini tidak aku kabarkan ke sahabatku. Kuraih ponsel, lalu selfie, kukirim kepada sahabatku.

Aku bilang, "Aku belum bisa gaya-gaya, cuma baru bisa model ini aja." Tetapi katanya, dia juga sudah lama mengenakan hijab dan belum bisa bergaya. Malahan, seringnya memakai jilbab Jokowi. Pertama aku juga heran, apa ada model jilbab jokowi? Ternyata, maksudnya itu jilbab blusukan. Jilbab yang langsung bisa dipakai.  Iya sih, jilbab ini lebih praktis dipakai. Lagipula, sekarang juga sudah banyak model-modelnya.

Islam itu agama yang mudah tetapi bukan untuk dimudahkan atau disepelekan. Aturan mengenakan hijab ada dalam dua surat, surat An-Nur ayat 31 dan Al Ahzab 56. Dari kedua surat tersebut tidak ada perintah untuk memodel-modelkan jilbabmu. Hanya diperintahkan untuk menjulurkan kain sampai ke dada dan itu sebagai pembeda dengan kaum yang lainya. Jadi, kalau ad yang membuat berbagai macam model itu merupakan sebuah bentuk kreatifitas. Hukumnya mubah. Asalkan masih tetap memegang kriteria wajibnya. Ini sedikit membesarkan hati, untukku yang belum canggih mengkreasikan kain.

Ber-agamalah sesuai dengan pemahamanmu. Ketika belum paham, carilah ilmu untuk memahaminya.

Bismillah, semoga Allah ridha atas hidup dan pilihan dalam hidupku.

*Lintasan 10 dan 11 untukmu sahabat. Semoga kita sama-sama diistiqamahkan dalam jalan kebaikan ini.
Read More

Lintasan 10: Jawaban Kerinduan




Semilir angin menyapa kota atlas. Membawa seribu satu pikiranku hilir mudik tak tentu arah. Satu persatu memori dalam kepala berputar begitu saja. Entah kemana seluruh lintasan pikiran itu akan bermuara. Aku berasa ada di tengah empat penjuru mata angin. Seluruh aliran angin bertemu tepat di kepala. Membuat rambutku menari-nari. Aku harus menemukan jalan atas kebuntuan segala pikiran dalam otakku. Aku harus menemukan sebuah muara yang dapat membawaku kedalam kedamaian.

Ah, tiba-tiba aku diserang rasa rindu yang membuncah. Kerinduanku pada ketenangan hidup. Entah berapa kali aku bersujud dengan sebenar-benarnya sujud. Tetiba rindu itu menyusup dalam relung hidup. Dimanakah sebenarnya DIA dalam hidupku? Benarkah aku telah pasrah dengan sebenar-benarnya pasrah tentang segala hidupku. Bukankah DIA pemeberi petunjuk atas segala jalan hidupku? Apatah aku telah benar-benar menjadikan DIA tempat bersandar atas segala hidupku?

Semilir angin sore ini membawa banyak pertanyaan dan beribu kerinduan. Ya... rindu untuk benar-benar menjadi ciptaan-Nya yang tidak durhaka. Rindu untuk benar-benar mendapati hidup nan diberkahi.

"Perbaiki diri, maka Allah akan memberikan yang terbaik." Entah, kalimat itu terngiang kembali di telingaku. Pesan dari seseorang, ah aku sungguh ingin bermunajat dengan benar. Aku ingin berlatih menjadi manusia taat.

Ku raih ponselku lalu ku ketik pesan untuk sahabatku, "Aku ingin mengenakan hijab."

Dia meyakinkanku kembali bahwa, berhijab itu tidak harus sempurna. Tapi dia akan membawa kita belajar lebih untuk menjadi sempurna. Tidak ada orang yang baik, yang ada hanyalah orang yang sedang belajar menjadi baik.

Lalu lalang kendaraan menjadi melodi yang meyakinkan. Bersambut suara adzan aku kuatkan azam. Ku penuhi perintah-Mu, kulakukan kewajibanku. Terimalah aku wahai Tuhanku.
Read More

Banyak Dilihat

Pengikut

Pengunjung

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Labels

inspirasi tania. Diberdayakan oleh Blogger.