Tips Memberi Nama Anak


Udah jam setengah 10 malam. Setengah jam lagi batas upload tulisan. Haduhhh mencoba nulis tulisan rada seirus malah ngeblank. Ya udah lah... nulis yang ringan-ringan aja. Setengah curcol seperti biasa. Hahaha.... Curcolnya kali ini agak berfaedah kok, buat orang lain. Yups tentang tips memberi nama anak yang dulu-dulu saya lakukan.

Setiap anak memiliki tanggung jawab untuk membesarkan nama yang tersemat pada dirinya.


Begitu sebuah kalimant yang menyemangati saya memberikan nama anak tidak menggunakan nama-nama tokoh besar. Karena kelak ketika dia dewasa dia memiliki tugas untuk membesarkan nama yang melekat padanya. Jika hari ini manusia mengenal siapa itu Lady Diana, mengenang siapa itu Soekarno, terpesona dengan kehebatan Al Fatih, maka kelak suatu hari anak kita memiliki tugas untuk membuat namanya terkenang oleh sejarah.

Tentukan permasalahan umat yang harus diselesaikan oleh anak kita kelak di masa depan.


Begitu taujih dari Ust. Anwar Jufri yang masih sangat lekat dalam ingatan. Beliau waktu itu mencertiakan sebelum menikah bahkan sudah melist permasalahan yang sedang dihadapi oleh bangsa Indonesia. Kemudian menyusun 10 permasalahan yang paling gawat dan urgen untuk diselesaikan. Akhirnya ketika memiliki 10 anak, masing-masing anak menjadi pakar dalam 10 bidang yang menjadi permasalahan umat tersebut.

Sematkan harapan agar dia menjadi bagian dari sebuah doa


Setiap orang tua pastilah mengharapkan hal terbaik untuk anak-anaknya. Dan harapan itu akan terlukiskan pada nama yang diberikan kepada anaknya. Segala harapan baik senantiasa dilangitkan oleh kedua orang tua. Saya yakin, setiap orang tua selalu berharap anaknya menjadi lebih baik daripada dirinya. Maka, itu dapat diawalai dengan memberikan rangakaian arti pada nama anak sesuai harapan kelak dia setelah mendewasa. Kalau saya sih gitu, nyari dulu pengennya nama anak punya arti apa kemudian nyari di internet bahasa per kata dari beragam bahasa. Ada bahasa arab, yunani, sansekerta, dan lain sebagainya. Misal saya berharap anak saya kelak akan menjadi inspirator kebaikan bagi semesta, sebagaimana yang dilakukan Rasulullah. Maka mulailah saya sercing-sercing refrensi arti nama anak per kata kemudian mencoba menggabungkannya.

Udah ah, tiga aja tipsnya, keburu jam 21.43 hahaha. kurang 17 menit lagi dari waktu yang ditentukan. Okay, selamat malam. Selamat menulis. Dan tetap jaga kewarasan. Salam ibu jari #eh.
Read More

Jujur Pada Allah, Maka Allah Akan Mengabulkan


Ini tulisan ala wanita sholihah, hehehe. Di saat kemarin dapat tugas menyampaiakan sebuah materi di sebuah majelis iman sampai sekarang masih terngiang dengan apa yang saya sampaikan. Sebuah sabda Rasulullah yang disampaikan kepada Syadad bin Al Haad.

"Ia jujur pada Allah, maka Allah mengabulkannya" HR. An Nasai.

Syadad bin Al Haad adalah seorang arab badui yang telah mengikrarkan keislamannya kepada Rasulllah. Dia datang kepada Rasulullah kemudian mengikrarkan keislamannya kemudian berkata, "Aku ingin berhijrah bersamamu". Kemudian salah seorang sahabat diperintahkan untuk mendapingin Al Haad. Hingga pada suatu hari, terjadi perang Khaibar. Al Haad turut serta dalam peperangan tersebut. Setelah perang berakhir, Rasulullah membagikan ghanimah perang kepada para sahabat yang turut berperang. Akan tetapi, Syadad bin Al Haad menolak pemberian ghanimah perang tersebut.

Syadad bertanya kepada Rasulullah, "Apa ini ya Rasulullah?"

Rasulullah menjawab, "Ini jatahmu".

Kemudian Syadad berkata, "Bukan untuk ini saya mengikutimu,akan tetapi agar leherku terkena anak panah lalu aku mati di jalan Allah kemudian aku masuk surga".

Kemudian Rasulullah berkata, "Jika dia benar maka Allah akan membuktikannya".

Lalu beberapa saat kemudian terjadilah sebuah perang, dan Syadad menemui kesyahidan sesuai yang dia inginkan. Terkena anak panah pada lehernya.

Satu pelajaran yang dapat kita ambil bersama, disaat kita berkata jujur kepada Allah maka Allah akan mengabulkannya. Terkadang kita berkata ingin berubah menjadi baik, tetapi ternyata hanya lipstik di bibir saja akhirnya menjadi manusia yang baik itu tidak pernah terjadi. Mari kita koreksi kembali doa-doa yang dipanjatkan kepada Allah. Benarkah kita telah meminta dengan jujur?

Cek kembali amal-amal kita, benarkah sudah jujur dalam niatan? Jangan sampai kita mengatakan, "Aku berinfak ini agar mendapatkan surganya Allah". Padahal pada kenyataannya agar mendapat gelar sebagai orang dermawan dari manusia. Jika hari ini kita banyak berbuat, banyak berkata dan Allah belum mengabulkan barangkali kita masih berbohong kepada Allah baik dalam perbuatan ataupun lantunan doa. Jika hari ini harapan kita, cita-cit kita tak tersampaikan mungkin kita belum jujur kepada Allah tentang keinginan kita. Semoga Allah masih memberikan kepada kita kesempatan untuk jujur kepada-Nya.
Read More

TABINA EVREN KARISSA: Detik-Detik Kelahiran


Begitu nama yang akhirnya kusematkan padamu, putri kecilku. Setelah banyak drama kita lalui saat kau masih dalam rahim ibu, akhirnya 2 Desember 2017 pukul 18.48 kau lahir ke dunia melalui jendela, kata orang. Yups, akhirnya kau keluar juga di atas meja operasi setelah sayatan pisau bedah membuka perut ibumu ini.

Kukira cuma saat di dalam perut akan banyak drama, menjelang kelahiranmu pun masih menyisakan drama hahaha. Dari HPL kau mundur 1 pekan. 3 hari setelah HPL, ibu dan ayah pergi ke bidan... Susaptarti. Setelah di cek posisi sudah bagus, untuk merangsang kontraksi ibu diminta menyapu halaman setiap pagi (sebenarnya sejak minggu ke 32 udah di suruh, tapi.... ). Walhasil,setelah ibu menyapu halaman rumah yang lebih mirip lapangan bola voly itu ibu kecapean, hari berikutnya ga ngapa-ngapain soalnya capek 😂.

Terusss h+5 dari HPL ibu dan ayah ke dokter Hendro. Hasilnya...jreng-jreng...posisimu sudah bagus sudah dipintu, tapiiii kau tak tengkurap melainkan muka di atas. Konon kalau misal lahir normal akan membutuhkan waktu lebih lama. Iseng ku tanya, apakah yang harus kulakukan agar posisimu bisa berubah? Dan ternyataaaa nggak ada 😅. Ya sudahlaaah mungkin kamu memang akan lahir lebih lama.

Di meja beliau, dr. Hendro berkata, kalau sampai hari jum'at tidak merasakan apa-apa berarti siap-siap sabtu pagi pergi ke PKU untuk melakukan SC atau induksi. Disana ibu dan ayah ditawari untuk memilih sc atau induksi. Kau tau? Ayahmu ngeblank seketika...dan aku, ibumu masih mencoba biasa aja. Konsekuensi induksi, jika gagal bukaan ibu tetal di sc dan konon janin bisa stres, dengan sok alim ibu jawab tak istikharah dulu ya dok...tapi sepertinya mending sc, ya?

Di mobil ayahmu menangis, katanya terharu melihat kamu di layar usg. Haiih, emang tuh bapak-bapak gampang banget terharu. Untung ga seneng nonton sinetron indosiar itu...

Hari jum'at, kita deg-degan sekeluarga... Ibu tak merasakan apa-apa kecuali sakit perut yang memang sudah ibu rasakan sejak lama. Dan itu bukan kontraksi. Maghrib, pakaian ibu, administrasi, dan pakaianmu sudah siap di tas. Sabtu, jam setengah 7 pagi rencananya mau pergi ke PKU. Eh...jam setengah 10 malam saat ibu mau sholat isya' (habis maghrib ketiduran hihihi) air ketuban pecah. Awalnya ibu bingung itu air ketuban apa pipis. Tapi kalau air kencing kok giti banget,,, agak lengket gitu. Setelah ayahmu konsultasi dengan bulik wulan, akhirnya ibu bilang ke mbah putri kalau ketuban pecah. Langsung deh, geger terjadi. Mereka yang liat khawatir, ibu masih cengar cengir. Soalnya ga kerasa apa-apa...

Fiks jam setengah 11 malam mendarat di UGD PKU Muhammadiyah Temanggung. Setelah ditanya-tanya, akhirnya ibu dikasih alat yang berisik banget. Ternyata itu adalah alat untuk mengukur denyut jantung bayi. Kata petugas piket, kalau ada gerakan diminya mencet gitu. Sesi pertama ibu hanya merasakan satu gerakan. Petugas piket mulai khawatir dan ibu tidak paham apa yang dikhawatirkan.

Alat itu bekerja selama 20 menit.Okay, 20 menit pertama di anggap gagal. Basic ibu diminta membangunkan mu dengan suara di HP...dan gagal. Perut di guncang-guncang...horrraaay ada 3 gerakan. Owalah, nduk... iya itu jam tidurmu, tapi plis deh bangun. Dengan wajah setengah aneh aku bertanya, "Nanti diulangi lagi? ". Kalau di ulangi lagi kan berarti, aku di ruang UGD selama 1 jam....

Kau tau? Bagaimana wajah ayah dan nenekmu? Memprihatinkan dan penuh ke khawatiran. Untuuung mereka ga tau kalau petugas telp dr. Hendro bahwa detak jantungmu lemah.

Setelah 40an menit di UGD ibu dibawa ke ruang bersalin. Dari jam 12 malam sampai jam 9 pagi cuma bukaan 2. Si bapak udah gak sabar dengan penantian buat liat kamuh, minta segera di sc. Wkwkwkwk...

Jam demi jam terlewati tanpa sesuap nasi dan setetes air masuk ke perut. Para penunggu sudah datang silih berganti, ayah,nenek, mbah minah, mbah yayuk, bulik ratna, bulik wulan, bulik pita hingga jam 15.00 masih tetap bukaan 2. Akhirnya, baju operasi pun membalut tubuh ibu. Tapiii masih dalam antrian, nunggu sampai selesai operasi 4 orang dulu. Tau ga, awalnya mau diduluin ama orang gegara bidan yang jaga salah baca tulisan. Naik pitamlah si nenek karena antrian anknya mau diserobot.

Jam 15.00 ganti, jam 17.00 dibawa ke ruang operasi diiringi tetesan air mata orang yang menunggui. Kata bulik Ratna, "baca al ma'tsurat, mb". Ya ampuuun aku terharu dengan pesanmu, adikku sungguh.

Udah masuk ruang pertama ditunggui sama ayah. Eh...hampir digledhek ada ibu-ibu yang udah bukaan 10 dan belum keluar. Ya udah dehhh, beliau didahulukan. Rasanya udah ga nyaman gituu. Emosi-emosian ama ayah, dengan kesabaran berlipat ganda sang ayah bin suami ibu mencoba menenangkan. Awalnya si bapak mau ikutan masuk ruang operasi, tapi ga jadi. Hahaha.... Ya iyalah mana tega dia loat Ibu di bedah-bedah. Maghrib masuk ruang operasi dan diberi anestesi. Beberapa dokter yang belum sholat maghrib pada sholat dulu. Setelah itu...tepat jam 18 lebih berapa yaaa, 18.10 kayaknya operasipun dimulai. 18.48 terdengar tangisan pertamamu dan aku belum sempat melihatmu. Alat semacam jemuran baju menghalangi pandangan. Lamat-lamat terdengar, "Ga cuna mlumah, agak miring juga ternyata".Jilbab yang udah aneh bentuknya juga bikin ga liat, meski udah didekatkan.

Perempuan...berat dalam perdebatan. Ada yang bilang 3.7 ada yang bilang 3.6,,, ternyata 3.69 😂. Si dr. Hendro berkata, "besar to bu bayinya?", meringis lemah kujawab, "iya hehehe". Gegara bayi besar, ibu disuruh diet pas hamil...dan gagal. Malah ayahmu yang baik hati itu bilang sama ibu, "Biar aku ajaa yang diet... " Hellooow ngaruhnya ke janin jadinya apa cobaaa. Gegara bayi besar pula, kudu cek kadar gula ke prodia. Alhamdulillah, semua baik-baik saja.

Tau kau rasanya setelah kau lahir apa yang aku rasakan? LAPAR! Gila aja, dari jam 6 pagi sampai jam 6 sore ga makan...daaan makannya baru jam 6 pagi lagi. Tapi ibu bahagia, terharu gimana gituuu, yang pasti lega sih. Di luar, pas dokter memanggil suami Nyonya Reni, yang maju serombongan 😂. Maklum cicit pertama, cucu pertama dan keponakan pertama.

Kau tau Tabina? Banyak orang yang menyayangimu. Terutama ayah dan ibumu. Selanjutnya, drama dalam panggung sandiwara ini akan kita lanjutkan, hingga kami menua dan engkau mendewasa.
Read More

Alumni Bumil Tolong Pahami Psikologi Bumil Baru Dooong


Taraaa... hari kedua kita, tante Ari. Setelah kemarin nulis tentang emak-emak new zaman now, sekarang mau ngebahas Para Bumil Baper. Hahaha.... Jujur aja, saya pernah mengalami fase itu. Perubahan hormon pada tubuh ibu hamil dapat memberikan beberapa pengaruh pada tubuh. Tak jarang juga berpengaaruh pada jiwa dan juga rasa. Tidak bisa dipungkiri, perasaan ibu hamil jadi lebih sensitif. Perkataan yang sebenarnya biasa aja bisa bikin baper tingkat kecamatan.

Terkadang kita berfikir, wanita yang nota bene pernah menjadi ibu hamil akan lebih memahami kondisi bumil. Namun, pada kenyataannya pria terkadang lebih care ketimbang alumni bumil. Bahkan tidak sedikit yang membandingkan kehamilannya dahulu dengan kehamilannya bumil di hadapannya. Misal nih... kita bilang, “Aku ga puasa soalnya muntah-muntah terus tiap pagi, sampai keluar kuning-kuningnya itu”. Terus lawan bicara kita nimpalinya, “Aku juga dulu gitu loh... tapi tetap puasa. Rasanya emang lemes-lemes gimana. Tapi saya waktu itu tetap puasa”. Sekilas jawaban itu biasa saja, tapi taukah kalian, alumni bumil? Jawaban itu menyakitkan. Perasaan mejadi orang yang lemah iman, hamba Allah yang aleman tetiba terbayang begitu saja.

Atau ketika di tempat kerja, jadi agak datang terlambat karena morning sicknes. Teman kerja bilang, “Dulu aku juga hamil, tapi ga pernah telatan.” Hey... alumni bumil, kalian tau kan orang hamil itu harus menjaga kebahagiaannya biar janin bahagia. Jawaban yang diucap ga ada lima menit itu menjadi alasan ketidakbahagiaan bumil dalam satu hari tersebut.

Berilah ruang pada bumil masa kini untuk memeriksakan kandungannya ke bidan atau USG ke dokter. Jangan ketika mereka ijin tidak berangkat kalian -para alumni bumil- berkata, “Aku aja dulu USG pas sudah mendekati HPL kok”. Atau, “Aku aja ga USG anaknya baik-baik saja.

Barangkali kita semua harus bersepakat kalau kondisi antara satu orang dengan orang lain itu berbeda. Kekuatan fisik tidak sama. Perlakuan keluarga yang satu dengan yang lan tak sama. Maka, berkatalah yang bijak ketika mendengar keluhan dari para bumil. Mereka bercerita kepada alumni bumil itu dengan harapan mendapat penguatan dan semangat. Bukan malah menghancurkan perasaan mereka. Bolehlah dalam hati kita bersuara, betapa manjanya sih ni bumil.... Tapi, plis ga usah di ungkapkan. Diperlukan sebuah kesadaran bahwa ujian satu orang dengan orang lain itu berbeda. Mari lebih bijak dalam berkata. Jangan mengeluarkan kata beracun untuk sesama.
Read More

Emak-Emak New Zaman Now


Ga usah komplen ama judul yang amburadul ya, emang sengaja dibuat gitu hihihi. Judul ini berangkat dari pengalaman pribadi, bolehlah kalau mau bilang ini tulisan curcol. Konon di suatu waktu kita butuh untuk menulis demi menjaga kewarasan. Nuah, curcolan ini dalam rangka menjaga kewarasan. Sebenarnya biar ga kena iqob juga sih dari tante Ari wkwkwk.

Emak-emak amatir, begitu istilah yang kadang saya sematkan pada diri saya pribadi. Mau bilang ibu profesional kok masih gimanaaaa gitu. Terlalu banyak hal yang belum saya ketahui untuk menjadi ibu dengan gelar profesional. Dapet gelar ibu aja masih gimana gitu. Antara percaya ga percaya, perasaan baru kemarin-kemarin kita ngafe-ngafe, halan-halan bersama teman sekarang udah ada buntutnya aja.

Secara resmi predikat emak tersemat pada diri saya pada tanggal 2 Desember 2017. Kelahiran putri pertama menjadi awal banyak perubahan dalam hidup. Putri sholihah saya adalah bayi pertama yang saya gendong di dunia ini. Udah kebayang kan, gimana amatirannya? Bingung cara ngegendong bayi itu kayak gimana hahaha. Cara ganti popok apalagi, wualah jiand. Dengan pakaian bayi yang beraneka ragam bingung bukan kepalang. Ada gerita, popok, bedong, bajunya, topinya, macam-macam yang harus di oleskannya. Fiuhh. Belum lagi cara memandikannya, praktis sebulan pertama saya adalah penonton atas atraksi pemandian si tuan putri hihihi. Si adek bidan ngasih contonya bolak-balik gitu aja kayak lagi masak gorengan pula. Halah...jan. Pokonya angkat tangan di awal. Tetapi tetap ada rasa semangat untuk bisa memandikannya, bagaimanapun kontak anatara anak dan ibu harus diperbanyak, kan?. Sekarang udah bisa dih mandikan, meski alakadarnya.

Selama pengamatan dan saling curhat antar teman yang sesama baru aja jadi emak. Akhirnya dapat disimpulkan bahwa emak-emak jaman sekarang dengan label amatir itu bakal melakukan beberapa hal.

1. Sudah tidak percaya dengan hal-hal "mistis" seputar bayi

Bingung sebenarnya mau nyebutnya dengan istilah apa, jadinya disebut aja mistis. Misalnya, naroh beraneka ragam bumbu dapur yang ditusukkan ke sapu lidi di ujung kamar tidur, ga motong kuku bayi dan rambut sebelum 40 hari. Kalau mau nengok bayi harus lewat dapur dulu baru nyamperin bayi. Terus, em... bayi ga boleh dibawa pergi sebelum 40 hari. Nah, emak-emak new zaman now udah banyak yang mulai ga percaya sama kek begituan. Lebih logis dan ralistis. Butuh data dan penjelasan yang meyakinkan agar mengikuti kepercayaan tersebut.

2. Lebih percaya tenaga kesehatan (dokter/bidan) daripada pengalaman ibunya

Inih ni, yang bisa menyebabkan perang dunia ketiga antara ibu dan anak. Hal ini terjadi ketika sang anak kurang baik dalam mengkomunikasikan pendapatnya kepada si ibu. Perkembangan ilmu pengetahuan semakin maju, sehingga dibutuhkan pemikiran terbuka untuk menerima perubahan.

Misalnya waktu itu, ibu saya beserta mbah-mbah mengeluarkan maklumat agar saya hanya makan tahu bacem, sop tanpa bawang, nasi yang tidak panas, minum anget, ga boleh yang amis-amis. Huwaaa haruskah aku ucapkan selamat jalan kepada es krim dan bakso serta telur? Huhuhuhu. Katanya itu akan mempengaruhi rasa asi bayi. Padahal, kata dek bidan itu ga ada pengaruhnya. Produksi asi dipengaruhi oleh dua hormon (lupa namanya dan lagi males sercing hahaha). Satunya karena asupan makanan satunya lagi karena rasa bahagia si ibu. Nah, kalau makan jenisnya gitu doang terus asupan gizi anak guweh gimana doong, dapet darimana coba. Dokter dan bidan satu suara, tiadak ada pantangan. Ga boleh makan yang es terlalu banyak itu biar ibu ga pilek, ga boleh makan pedes itu biar ibu ga diare. Kan kalau ibu sakit jadi males minum, bisa dehidrasi, naaah itu yang akan berdampak ga baik buat bayi. Lagian beberapa penelitian menyebutkan rasa makanan yang kita makan akan terasa di asi bertahan selama 8 jam. Dengan beragam asupan makanan akan memperkenalkan beragam rasa makanan kepada bayi. So... makan aja apa aja asal halal dan toyib plus ga berlebihan. Begitu kesimpulan hasil belajar ke dokter, dek bidan, dan hasil sercing hihi.

Ada lagi, biasanya bayi dibedaki ga rata gitu. Entah bidan atau dokter bakal ngelarang emak-emak buat ngasih bedak di bagian pangkal paha, leher, ketiak, dan tempat sejenisnya. Pemberian bedak itu bisa mengakibatkan jadi merah-merah di tubuh bayi. Pemakaian gerita dan bedong juga beda pemahaman tentang fungsinya. Dunia kesehatan mengatakan penggunaan bedong dan gerita agar badan bayi menjadi lebih hangat saja. Malah, penggunaan gurita udah dilarang karena ternyata dia dapat menghambat tumbuh kembang organ dalam bayi. Nah, orang tua zaman old beranggapan memakai bedong kudu kenceng nanti kalau ga kenceng kakinya bisa bengkong, gerita juga kenceng biar perutnya ga buncit dan mapan. ya begitulahh. Belum lagi penggunaan pupuk di kepala dengan ramuan yang macam-macam ada yang bilang berfungsi untuk menghangatkan kepala dan tidur menjadi pulas, ada juga yang berpendapat biar kepalanya enteng pas mau tengkurap. Padahal, pemakaian benda tersebut dapat berakibat iritasi pada kepala. Kalau mbah bidan (seniornya dek bidan) menyarankan, biar hangat kalau pengen banget ngasih mendingan pakai minyak telon aja gituuu.

3. Mencari jawab atas beberapa tanda tanya melalui internet

Nah ini nih, emang-emak new zaman now udah melek teknologi. Ketika sesuatu terjadi biasanya mereka bakal buka internet untuk mencari penyelesaian dan beberapa penjelasan (keren kan? internet ga buat nyebarin kabar hoax atau buat ngegosip hihi). Misal, penyebab anak kuning dan solusinya. Cara menjemur bayi yang baik. Agar ASI lancar. Perkembangan bayi yang seharusnya sesuai umur bayi. Popok yang bagus buat bayi, nyari review daaan akhirnya beli deh #eh. Meskipun ada baiknya nanti informasi dari internet dikonsultasikan ke dokter atau bidan. Biar lebih valid gituh

4. Mencokumentasikan tumbuh kembang anak

Hayo, emak-emak new zaman now siapa yang ga pernah poto sama bayinya. Kebanyakan, bayi ceprol langsung poto-poto bahkan ada peristiwa keluarnya si bayi juga direkam. Hari demi hari pertumbuhannya terpantau, bahkan mungkin bisa dibuat album per bulan hahaha. Itu semua ekspresi bahagia plus haru, beberapa juga ada yang ga ada kerjaan lain makanya foto-foto. Atau bisa jadi juga kepikiran biar anaknya jadi selebgram hihi. Tekadang anak nangis kejer bukannya diselamatkan malah direkam dulu hahaha.

5. Update Status tingkah polah anak

Gimana gitu kalau udah dipoto terus ga di apdet. Rasanya tangan tuh gatel hoho. Bukan bermaksud pamer sih, dengan mengaplod di medsos bisa dijadikan tempat penyimpanan album juga. Lagian, anak kita punya chemistry paling iyuh sama kita wajar kan kalau dia jadi inspirasi kita dalam berkespresi. Hanya saja jangan terlalu sering di aplud nya, mbokan ada penculik yang tertarik. Kan seeeyyeeem.
Read More

TABINA EVREN KARISSA: 5 Hari Setelah Kelahiranmu


Lima hari setelah kau lahir ke dunia dengan keluar lewat jendela, hari Kamis tepatnya kau harus menginap lagi di RS PKU Muhammadiyah Temanggung. Sebenarnya perasaan ibu sudah tidak enak saat akan membawamu kontrol, sebagaimana jadwal yang ada. Beberapa orang di rumah sering bilang kalau kamu agak kuning. Berbagai upaya telah dilakukan, dengan menjemur, membangunkanmu agar mau nenen. Tetapi ternyata Allah berkehendak lain.

Waktu itu, pagi-pagi pukul 10an, kamu, ibu, bapak, dan mbah Minah pergi dari rumah menuju PKU. Pakaian yang dibawa pun alakadarnya. Popok cuma bawa tiga, baju satu, tisu basah satu.. ya, cuma itu. Kondisi ibu yang masih payah pasca SC membuat kamu digendong oleh mbah Minah. Waktu itu, Bapak mengurus segala administrasi sebelum kontrol ke dokter. Kita mengantri di depan Poli Anak. Menunggu giliran bertemu engan dr. Masturi, S.PA. Hingga giliran kta tiba, bapak belum selesai dengan urusannya. Kita masuk bertiga, kamu, ibu, dan Mbah Minah. Diruangan poli kau diperiksa, pak dokter berkata, "Kok rada kuning ya, bu? Kalau di ambil darahnya bagaimana? Untuk mengetahui kadar bilirubin".

Iya sih, setelah kamu pulang dari rumah sakit kamu banyak tidur. Bahkan cenderung terlalu banyak. Ketika akan dibangunkan, orang-orang rumah bilang kasihan, mungkin kamu kecapean atau merasa nyaman di rumah jadi tidak mau bangun. Tidurmu sangat nyenyak. Malam itu, benar-benar tak terdengar tangismu, tak terbangun sama sekali. Cuma sekali ibu mendengar kau mengecap mulut, tapi ibu tidak bisa terbangun sendirian. Kita terpisah tempat tidur waktu itu. Dengan pertimbangan, ibu masih sulit untuk bangun dari tempat tidur. Sebenarnya kuning pada bayi bisa dihilangkan dengan menjemur bayi dan memperbanyak minum asi. Pernah sekali kamu dijemur, tapiii saat kamu dijemur kamu berpakaian lengkap dengan bedong yang amat kuat. Padahal seharusya cukup menggunakan popok saja. Ah... lagi-lagi orang rumah berkata, "Kasihan kalau cuma menggunakan popok nanti kedinginan". Waktu itu yang sering melakukan aktivitas menjemurmu adalah Bulik Ratna.

Sebagai ibu yang mantan anak IPA, tidakan medis itupun langsung ibu terima. Tapi muka Mbah Minah penuh kekhawatiran dan berkata untuk menunggu bapak sebelum mengatakan setuju atas saran dokter. Ah... tapi ibu yakin dengan langkah menyetujui untuk kamu di ambil darahnya. Setelah Bapak selesai dengan urusannya, datang ke ruangan kontrool dan ibu berkata padanya, "Debay mau di ambil darahnya, soalnya kata dokter dia agak kuning, mau dicek kadar bilirubinnya".

Kayaknya sih, muka kaget hihihi Bapak pun mengamini perkataan ibu tadi. Lalu kita bertiga menuju ruang Lab untuk mengantri diambil darahnya. Disana, kau tak boleh ditunggui katanya, biasanya orang tua tidak tega melihat bayinya diambil darahnya. Terdengar tangismu saat jarum suntik mengambil sampel darah. Satu jam lamanya kami menunggu hasil lab. Dan hasilnya... semua high..... Bilirubin yang harusnya 5 eh punyamu 13. Itulah penyebab kamu suka bobok dan sulit dibangunkan. Bukan karena nyaman atau capek, tapi karena bilirubin mu tinggi.

Sampai ruang dokter yang tadi, Bapak sudah sedikit ngeblank. Dalam situasi ini tentunya ibu harus lebih logis dan tenang. Agar diambil tindakan yang tepat. Kata dokter kamu harus disinar selama 36 jam, tapi itu masih bersifat tawaran. Keputusan tetap di tanga Bapak dan Ibumu. Lalu ibu bertanya, apa efek kalau kamu disinar dan tidak disinar.

Kalau disinar kemungkinan akan alergi dan keluar bintik merah di kulit, tapi ada salep yang bisa menyembhkan. Kalau tidak, 2 minggu kedepan kamu bisa panas kemudian kejang dna itu akan berampak pada perkembangan otakmu. Pengganti sinar adalah dijemur dibawah sinar matahari, tapiii waktu itu lagi musim hujan. Mendung setiap pagi. Oke, mendengar penjelasan dokter sudah tau kan? Keputusan Bapak dan Ibu? Kami bersepakat untuk kamu dirawat kembali dan disinar semalam 36 Jam.

Kami harus memilih ruangan untuk rawat inap. Jika di kelas 1, yang boleh masuk hanya ibunya saja. Ada satu ruangan khusus tempat Bayi prematur atau yang senasib denganmu. Dan di ruangan itu ga ada fasilitas untuk tidur ibu. Disediakan tempat tidur tapi posisinya dilantai dan kamar mandi yang jadi satu dengan kamar mandi pasien di kelas 3. Kau tau rasanya? tralala trilili.. ibu hasi SC, belum berani untuk jongkok... dan ini harus tidur dibawah? Ahhhh mana tega Bapakmu hahaha. Akhirnya di upayakan untuk pindah kelas, kita harus ngungsi ke VIP atau VVIP. Alhamdulillah selepas maghrib kita bisa pindah ke ruang VIP.

Dapat kasur dan fasilitas yang cukup bersahabat dengan kondisi ibu. Taukah kau? Selama 36 jam kau disinar, Bapak dan ibu belajar sangat banyak. Bagaimana cara menjadi orang tua dan saling bekerja sama dalam menjagamu. Kami berdua memang orang tua yang amat teramat amatir, mengganti popok saja perawat harus bolak-balik kamar untuk melakukannya. Kami belum terbiasa menimangmu. Apalagi aku, menggendongmu pun belum berani, ya... ibu masih merasa belum mampu melakukan itu. Tetapi di ruang itu, ibu dipaksa untuk melakukan aktivitas yang seharusnya seorang ibu lakukan.

Melihat tingkahmu dibawah sinar biru, kami baru menyadari ternyata tanda kamu haus tidaklah menangis. Hanya memainkan bibir saja. Ternyata dibalik bedong yang agak menyiksa itu kau simpan tingkah energik. Di saat bayi-bayi lain terdiam di bawah sinar kau bisa melepaskan penutup mata sampai 4 kali, membuang gelang pengenal, menendang kaca box. Owh... ternyata seperti itu tingkahmu. Di selal lelah kami memandang lelapmu, setiap dua jam bergantian memberikan asi melalui dot padamu. Bahkan lebih sering kami paksa kamu untuk meminum asi itu.

Alhamdulillah, bilirubinmu sudah mulai stabil dan kau diperkenankan untuk kembali ke rumah. Dengan jiwa keibuan dan kebapakan kami yang baru. Tidurmu tak lagi terpisah dengan kami. Kita mulai tidur bertiga. Pada awalnya mbah uti menemanimu tidur terpisah dengan ibu. Ya... hubungan yang terjadi pada manusia pertama kali adalah dengan ibunya. Sudah seharusnya di saat kau akan tidur dan terbangun selalu ada ibu disampingmu. Terimakasih Tabina, sudah bersabar menjadi anak ibuk semenjak kelahiranmu. Terimakasi, kau memberikan bapak dan ibu kesempatan untuk memahamimu.
Read More

Menemukan Kalian Aku Yakin Indonesia Masih Bermasa Depan


Saat semua mata lelah membaca berita tentang ulah generasi Z yang lebih banyak menghabiskan waktu bersama gadget dan teman di dunia maya, tetapi aku menemukan hal yang berbeda dari kalian. Mentari Semasa itu awal nama yang terlintas untuk disematkan kepada kalian. Matahari pagi yang memberikan kehangatan memecah dinginnya malam. Menyibak kegelapan mengantarkan kepada cahaya. Mungkin hanya semasa dan itupun singkat tapi keberadaan kalian akan memberikan harapan. Sebuah harapan bahwa hari ini akan berlanjut dan masa tidaklah berhenti. Mungkin begitu kira-kira filisofi Mentari Semasa, nama pertama untuk kalian (padahal baru aja kepikiran hihihi).

Tapi benar saja, nama pertama itu telah diaminkan oleh Tuhan. Kalian, dari ruang lingkup yang sangat kecil telah membuat kejutan. Jika awalnya kalian menolak, meronta untuk mengajak satu teman melakukan satu kebaikan tapi sekarang bukan hanya satu... tapi ribuan. Rasa kemanusiaan melihat penderitaan saudara di seberang lautan telah melahirkan sebuah gerakan yang murni dari Generasi Z. Inilah yang sebenarnya sedang dinantikan, ada segerombolan pelajar yang mampu menyalurkan energi berlebinhya untuk kebaikan. Kami para orang dewasa akhirnya tersadar, kalian tidak hanya mampu membuat gaduh namun juga mampu membuat sesuatu di luar ekspetasi orang kebanyakan. Barangkali masih ada tatapan sinis sebelah mata, ah... itu hanya tatapan tak berguna untuk dipikirkan.

Mengetuk kerelawanan pelajar dan dilakukan oleh pelajar itulah catatan sejarah yang akan kalian torehkan. Yakinlah, kalianlah pioner itu, kalianlah inspirator itu... hingga kelak seluruh penjuru negeri akan mengikuti jejak langkah kalian. Ketulusan kalian, kepolosan kalian, keikhlasan kalian hanya mampu diganjar ketika telah berada di hadapan pengadilan Tuhan. Rasa lelah pastilah mendera, itu wajar karena manisnya perjuangan hanya akan dirasa saat kalian berada di surga tertingginya. Jadi inget, kenapa perjuangan itu pahit? Karena surga itu begitu manis.

Liquid, nama kedua untuk kalian paska nomer cantikku hangus termakan masa tenggang. Meski kepanjangannya agak dipaksakan biudh tapi itulah doa yang terpanjatkan. Dalam benakku liquid adalah sebuah zat padat. Di dalamnya terdapat makna keteguhan. Sebuah harapan, kalian teguh menjalankan semua perintah dan menjauhi semua laranganNya. Kalian teguh dengan prinsip kebenaran di tengah beringasnya jaman. Kalianlah permata yang akan tetap menjadi permata meski di berada diantara batu hitam. Kalianlah benda yang tetap berharga meski comberan menjadi tempat kalian berada.

Terakhir adalah nama yang kalian pilih sendiri, semut. Sejenak mari kita belajar dari semut.

1. Soliditas Semut

Binatang kecil ini seringkali mengajarkan manusia tentang makna ukhuwah dan soliditas. Bayangkan, semut kecil dapat menganggkat roti yang sangat besar. Mereka saling menanggung beban untuk mengangkat sebuah makanan. Ada pembagian tugas dalam setiap koloni semut. Menjalankan tugasnya masing-masing dengan baik. Apakah kalian tidak ingin sesolid ukhuwah semut?

2. Kemampuan semut baradaptasi

Semut sudah ada sejak 6 juta tahun yang lalu. Dan sampai dengan saat ini tidak pernah kita temukan adanya kepunahan semut. Mengapa? Karena kemampuan semut beradaptasi dengan lingkungannya. Kemampuan kalian untuk beradaptasi dengan sebuah lingkungan yang baru akan membuat keberadaan kalian tak akan punah. Hanya ada pinta kepada Sang Pencipta, agar istiqamah dan hidayah tak terlepas dari kalian. Hingga kelak kita terpisah ruang semangat untuk menjadi baik dan menebar benih kebaikan tetap terjaga dalam diri kalian.

3. Kecerdasan Semut

Jangan meremehkan semut, mereka salah satu makhluk yang cerdas di bidang matematika #uhuk. Kelak, ketika kuliah dan mengambil jurusan matematika, fisika, atau kimia kalian akan berkenalan dengan prinsip fermat. Dalam prinsip tersebut dijelaskan bahwa jika sebuah gelombang merambat dari satu titik ke titik yang lain, maka gelombang tersebut akan memilih jejak yang tercepat. Daaan semut memahami ini. Ketika sebuah koloni semut menemukan sebuah tempat penuh dengan sumber makanan, maka koloni tersebut akan memikirkan sebuah cara agar bisa menjangkau tempat tersebut dengan cepat. Semut juga memilih jalan yang memiliki permukaan lembut untuk dilewati. Namun jika jalan itu terlalu jauh, maka jalan yang keras pun dijadikan pintasan bagi mereka. Selain itu kecerdasan dalam mengumpulkan makanan dan membangun kota semut juga dapat menjadi inspirasi untuk kita semua #yang ini dicari sendiri yaaa hihihi.

Dalam menebar kebaikan kita juga membutuhkan kecerdasan, baik kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual. Gabungan dari ketiga kecerdasan tersebut akan membuat kinerja proyek kebaikan kita menjadi lebih efektif dan efisien. Saat ada masalah datang menyikapi dengan kepala dingin dan hati yang tenang,,, plus teteeep seluruh jiwa kita terhubung ke langit memohon perlindungan dan pertolongan.

Kaum semut nan imut, terimakasih kalian dan energi berlebihnya. Kami sangat yakin, negeri ini masih bermasa depan. Semoga Allah meringankan langkah kaki kalian dan 100 mimpi yang telah dibuat akan menjadi kenyataan satu per satu sesuai dengan kehendak Tuhan. Bukankah takdir itu mempertemukan kehendak kita dengan kehendak Tuhan?

Selamat menikmati jamuan perjuangan, para penggerak kerelawanan...
Read More

Banyak Dilihat

Pengikut

Pengunjung

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Labels

inspirasi tania. Diberdayakan oleh Blogger.