One Day One Post (ODOP)

Hai readers! Biar gaya pakai sapa-sapa hihi. Mau ngenalin nih, nama aku Reni Asriningrum dari peserta ODOP batch 9 kelompok Sapardi Djoko Darmono. Rasanya bahagia sekali dapat bergabung dengan komunitas keren ini. Sebanarnya sudah pernah dengar komunitas One Day One Post sejak tahun 2015. Salah satu temen cerita kalau sedang ikutan challenge nulis di blog pribadinya, denger certia dari dia kayaknya asik tuh komunitas. Tapi, rasa-rasanya kayak nggak sanggup ya buat ikutan. Plus waktu itu juga sedang ikutan kelas menulis online. Udah insecure dengan diri sendiri karena merasa blog amatir banget plus sok sibuk. Ya... jadilah tidak dipertemukan dengan segera.

Pernah ikut sekali challenge menulis ODOP pas bulan Ramadan, Ramadan Writing Challenge. Alhamdulillah dapat menyelesaikan tantangan menulis meskipun kualitas tulisannya masih jauh dari kata keren. Waktu itu sebenarnya ada oprec anggota ODOP, di syarat menulis esai. Insecure datang lagi dong, tetiba merasa kayaknya ga bakal diterima deh. Sampai akhirnya bulan kemarin mendapatkan informasi ada oprec ODOP batch 9. Sempat sakit pas tanggal 24 kemarin udah sedih, alhamdulillah diperpanjang pendaftarannya. . Dengan modal iseng dan penuh harap wkwkkw akhirnya bisa bergabung. Komunitas ini cocok banget diikuti oleh orang yang suka berkarya dibawah tekanan dan mencintai target serta deadline. Bagi yang butuh teman berbagi semangat sungguh disarankan untuk bergabung.

Alasan terkuat mengikuti One Day One Post adalah untuk menjadi jalan mewujudkan salah satu mimpi saya yaitu, menjadi seorang bloger. Dalam list keinginan saya ingin coba belajar Adsens. It artinya saya butuh sebuah komunitas untuk konsisten menulis dan mepertahankan kualitas penulisan. Saya berharap, kedepannya kami akan dibimbing dalam mengelola blog dengan baik dimulai dari hal basic. Saya juga bermimpi untuk membuat sebuah komunitas blogger dari kalangan remaja sebagai kampanye literasi bagi generasi muda. Bisa dikatakan, ODOP menjadi salah satu milestone untuk mewujudkan beberapa impian di masa depan.

Baru kemarin banget ada temen tanya gimana biar tulisan bisa nangkring di halaman pertama google. Jawabannya hanya dengan SEO dan konsitensi serta kualitas penulisan. Terus iseng-iseng melihat statistik blog ini. Mencari tau apa yang banyak dikunjungi, kata kunci apa yang tepat. Dan sepertinya sudah menemukan apa saja yang banyak dikunjungi oleh pembaca. Jadi ini dapat digunakan bekal untuk menulis tantangan kedepan. Yakali menulis rutin setiap hari tapi isinya curhatan semua wkwkwk.

Semoga dengan bergabungnya ke komunitas One Day One Post ini dapat memberikan kecerahan segala mimpi di masa depan. Bertemu dengan orang-orang hebat kemudian berhasil menyesap seluruh pengetahuan dari mereka. Lalu menebar kebaikan melalui rangkaian kata dan aksara. This is my way!
Read More

Tips Agar Produktif Selama Pandemi

Hay...kaum rebahan di seluruh dunia maya. Udah pegel belum si boyok karena terlalu lama rebahan. PPKM yang tak kunjung usai dan selalu perpanjang diakhir PPKM sebelumnya menjadi kabar bahagia buat kita semua. Kalau kata medsos sih, cukup rebahan bisa jadi pahlawan. Tangan pegel, mata capek karena terlalu lama liat ponsel sebagai teman rebahan. Kalau pas hari biasa kadang kita berharap bisa seharian santai tanpa gangguang, asik main HP aja gitu. Giliran dikabulin kita juga bingung, enaknya ngapain ya? Masak iya selama beberapa bulan terakhir kita gini-gini aja. Tidak ada perkembangan berarti kecuali perkembangan berat badan hihi

Sepertinya kita perlu nyari ide dan gagasan biar bisa tetep produktif selama masa pandemi ini. Enaknya ngapain aja ya? Coba kita list yuk...

1. Belajar Masak Nah kan, udah pasti enak nih. Udah enak skill jadi berkembang. Buat ciwi-ciwi bisa bakal jadi menantu idaman kalau latiannya berhasil. Kalau gagal? Anggap saja masih perlu belajar memasak lagi. Buat kalian yang masih sekolah mungkin kangen dengan jajanan ala anak sekolahan. Udah, ambil ponsel cari resep jajanan yang pengen kalian makan. Buat sendiri aja. Syukur-syukur rasanya enak, terus kalian agak kreatif dijual deh ke temen-temen sekelas yang juga lagi kangen jajan. Wah, bisa menghasilkan

2. Ikut berbagai macam Kulwap atau Webinar Di masa pandemi ini banyak banget para pembicara keren dan ternama ngadain webinar dengan harga murah bahkan gratis. Tinggal pilih aja, tema mana yang disukai. Search di IG atau google webinar atau kulwap apa yang ingin kita ikutin. Banyak banget ilmu yang bertebaran di dunia maya langsung dari sumbernya. Kudu berebut nih kayaknya.

3. Pelatihan Online Selain webinar, ada juga pelatihan online yang dapat kita ikutin. Mulai dari pelatihan membaca Al Qur'an, pelatihan memasak, pelatihan menulis, pelatihan desain, pelatihan jualan, dan banyak banget. Kita bisa milih sesuai dengan passion yang kita punya

4. Perluas Jaringan Dengan mengikuti beragam kegiatan positif secara tidak langsung jaringan kita juga akan semakin luas. Masa pandemi ini memberikan kita ruang untuk dapat berkenalan dengan orang dari berbagai wilayah di Indonesia bahkan luar negeri.

5. Menerapkan Healty Lifestyle Nah, kita kudu susun jadwal nih...biar pandemi tetap produktif. Mau bangun jam berapa, olah raga, tetap kontrol jumlah air minum dan juga asupan makanan.

6. Beberes Rumah Nah, buat kalian yang sering alesan nggak beresin rumah, selama WFH bisa digunakan dengan sebaik-baiknya buat beberes rumah. Lap kaca, bersihin kamar mandi, cabut rumput, ngepel, dan lain sebagainya.

7. Berkebun Beberapa waktu yang lalu sempat ngetrend ya itu di janda bolong. Harga tanaman hias jadi melangit banget. Herannya ada yang beli wkwkwk kalau aku mungkin mending buat beli cendol. Tapi, namanya hobi kan ya.... Berkebun ga harus bunga juga sih, bisa menanam sayuran. Ini pasti membantu banget, apalagi kalau produktivitasnya banyak. Bisa buat berbagi sama lainnya.

8. Gabung ODOP Kayak aku, yang ikutan ODOP biar lebih produktif dalam tulis menulis. Apalagi tipe deadliner. Gabung sama ODOP bener-bener ngebantu banget. Yuk gabung, gaes! Besok aku tulisin deh mengapa why ikutan ODOP

Masih banyak yang lain sih ini sebenarnya. Tapi udah ngantuk wkwkwk. Semoga bermanfaat. Tetap produktif yaaa. Bye, yuk istirahat. Rebahan lagi lahhh hihi.
Read More

I'm Ideation

Salah satu cara untuk dapat mengetahui bakat kita adalah dengan melakukan tes bakat. Sekarang banyak banget assessment bakat online yang gratis, sebut saja MBTI atau temubakat.com. Dari dua situs gratisan tersebut sudah pernah saya coba. Ada juga tes yang berbayar, ada dua tes yang pernah saya lakukan, yaitu STIFIN dan Talents Mapping. Kenapa gitu sampai tes dua kali?

Tes STIFIN itu karena suami adalah orang yang STIFIN banget wkwkwk. Dalam STIFIN manusia diklasifikasikan berdasarkan 5 mesin kecerdasan yaitu Sensing, Tinking, Intuiting, Feeling, dan Insting. Menurut temenku yang juga suka ngetes STIFIn (namanya apasih ya?) kelima kecerdasan itu adalah given dari Allah. Sesuatu yang memang Allah sudah berikan kepada kita sebagai bekal hidup. Dia adalah bakat bawaaan sebelum terpengaruh oleh lingkungan. Nah, disitu juga ada penjelasan tentang satu mesin kecerdasan yang dapat "mengkondisikan" mesin kecerdasan lainnya. Ada penjelasan juga mengenai sifat karakter, pekerjaan yang cocok, jurusan kuliah yang tepat, dan bagaimana cara berbicara dengan mesin kecerdasan tertentu. Karena kita tim pacaran setelah menikah, maka dilakukanlah tes ini. Dan hasilya adalah....jeng...jeng aku Thinking suamiku Feeling. Konon sih orang Thinking itu seperti besi yang bisa luluh dengan api, dan orang Feeling itu ibarat api. Nah, cocok banget kan? Meski demikian tetep dong ada konflik, karena ngomong sama aku harus menggunakan data dan doi perlu memperhatikan kata dan rasa.

Setelah tes STIFIn temen yang melakukan tes kaget, karena awalnya dia mengira aku adalah anak Intuiting. Karena selama bersama dalam organisasi aku merupakan anak yang kebanyakan ide dan suka berhayal, kadang ga masuk akal. Bener-bener ga keliatan Thinking banget lah. Akhirnya setelah melakukan tes Talents Mapping aku mengerti mengapa mereka menyangkaku sebagai Intuiting.

Talents Mapping adalah sebuah tes yang memetakan bakat manusia kedalam 34 jenis. Semua bakat tersebut dimiliki oleh setiap orang hanya saja kekuatannya berbeda-beda. Disini kita akan mengerti dimana potensi kekuatan dan keterbatasan kita. Di hasil tes akan disajikan data berdasarkan urutan. Bakat paling kuat ada di urut 1-7, inilah potensi kekuatan kita. Sedangkan di urutan lebih dari 20 adalah keterbatasan yang kita miliki. Tahukah, apa bakat pertama akuh? Yap, Ideation. Singkatnya itu orang yang kebanyakan ide gitu lah wkwkkw. Jadi wajar banget kalau aku suka mengeluarkan sesuatu yang kadang tidak terpikirkan orang lain. Bakat ideation yang didukung dengan analyst dan futuristik di top seven tentu menjadi sebuah perpaduan epik banget kalau dimanfaatkan.

Masalahnya adalah, kadang ide yang banyak itu tidak mampu dikanalisasi sehingga kurang fokus dalam eksekusi. Seperti tulisan ini. Sudah sejak kemarin membayangkan mau nulis ini dan itu, akhirnya di waktu yang sudah malam jadinya curhat lagi wkwkwk. Seriusan kemarin kepikiran buat riset kecil-kecilan, tadi pagi kepikiran bedah buku, eh jatohnya cerita hasil tes bakat.

Secara hasil tes, baik STIFin ataupun Talents Mapping memiliki kesamaan. Kekuatan saya ada pada otak bagian kiri. Kalau sempet tes otak bagian kanan lebih banyak dikit itu kemungkinan karena faktor Ideation yang tinggi. Buat siapapun yang pengen mengetahui siapa dirinya recomended banget nih melakukan dua tes berbayar ini.

Masing-masing tes dapat digunakan untuk membantu menentukan jurusan kulian, pekerjaan yang tepat, cara menempatkan karyawan, membantu menjaga kesehatan mental, bahkan jenis tulisan yang pas buat kita juga bisa dibantu dengan kedua alat assessment ini. Secara pelaksanaan STIFin dan Talents Mapping memiliki perbedaan. STIFIn dapat dilakukan dengan menempelkan sidik jari ke sebuah alat, kemudian alat tersebut merekam dan mengeluarkan hasilnya. Lalu kemudian akan dipandu untuk membacanya. Sedangkan Talents Mapping efektif digunakan untuk anak umur minimal usia 16 tahun, atau kalau kepentok banget untuk anak SMP kelas IX. Setiap orang yang akan tes harus menjawab banyak banget pertanyaan, sekitar 144 pertanyaan. Untuk membacanya kita butuh dipandu oleh seorang praktisi. Karena, ada banyak kemungkinan urutan bakat seseorang.

Tes bakat ini akan membantu kita menjadi lebih mengenal diri dengan baik. Menentukan passion mana yang akan di ambil. Kebermanfaatan macam apa yang akan diberikan. Kan biar bisa be your self pertama-tama kudu know your self dulu. Jangan pernah meminta orang lain memahamimu kalau kamu aja nggak tau gimana kamu. Jangan sok-sokan pengen jadi diri sendiri kalau kenyataannya nggak tau siapa kamu. Lets Grow Together
Read More

Inilah Temen Tumbuh

Di masa pandemi Covid-19 ini perhatian terhadap menta health semakin meningkat. Dampak terbesar dari menyebarnya virus corona bukan hanya masalah ekonomi akan tetapi juga mental. Banyak para pengusaha yang tetiba bangkrut, pekerja yang terkena PHK. Bisa dikatakan kemungkinan angka kemiskinan semakin meningkat. Disebutkan pada bulan Juli 2021 angka kemiskinan meningkat sampai dengan 10%. Perubahan kondisi yang tidak dibarengi dengan kesiapan diri, akan banyak menimbulkan pengaruh terhadap kesehatan mental seseorang.

Bukan hanya orang dewasa yang terkena dampak. Para pelajar dan mahasiswa juga mengalami banyak tekanan saat pandemi. Sejak pertama kali sekolah beralih ke sistem daring pemerintah mengatakan, selama 2 minggu pembelajaran akan dilakukan dari rumah. Nyatanya, sudah hampir dua tahun pembelajaran dilakukan secara daring. Berdasarkan survey yang dilakukan kepada beberapa pelajar, mereka menyatakan merasa tertekan dengan notif tugas. Belum lagi masalah sinyal yang tidak dapat dikondisikan. Rasa bosan sudah menghinggapi para pelajar kita. Mereka sudah sangat ingin melakukan pembelajaran tatap muka. Pernah sekali saat ada acara, ada seorang pelajar yang mengaku mengalami insomnia dan selalu menangis setiap malam. Hal ini terjadi karena dia merasa tidak dapat memahami pelajaran yang disampaikan oleh guru dan tiba-tiba mendengar akan ada ujian sekolah.

Banyak orang yang membutuhkan tempat untuk bicara. Lalu mereka bangkit dari keterpurukannya. Banyak pemuda sebagai pengampu estafet masa depan bangsa yang harus diselamatkan. Sudah saatnya ada sekelompok orang memberikan mereka kesadaran untuk membangkitkan self motivation. Terlalu lama mereka seperti digantung oleh kenyataan pandemi tak segera berakhir. Banyak masa yang sayang untuk dilewatkan. Mereka harus tumbuh menjadi pribadi dan pemimpin di masanya.

Bukan hanya pemimpin bagi masyarakat, minimal mereka dapat memimpin diri mereka sendiri. Maka, pembuatan program Temen Tumbuh berangkat dari sebuah kesadaran untuk menyelamatkan genarasi. Kita semua pasti ingin melihat nyala semangat dan terangnya harapan dari mata para pemuda. Mereka bangkit dari keterpurukan, mulai dengan perlahan mengenali dirinya lalu berhasil memimpin diri mereka. Terdorong untuk keluar dari zona nyaman. Mulai bergegas memperluas zona nyaman. Menuju zona pertumbuhan. Tumbuh menjadi pribadi yang matang.

Bukan mentor yang mereka butuhkan, mereka butuh teman. Teman untuk bertumbuh. Menjadi sahabat bagi mereka, menyediakan telinga untuk mereka. Membasuh berbagai macam luka, mencari jalan untuk menjadi pribadi yang lebih mempesona.

Duhai Allah, saksikanlah niat suci kami untuk membersamai mereka memperbaiki diri. Ijinkanlah kami menjadi temen tumbuh bagi mereka. Bismillah, kebahagiaan kami adalah saat mereka menjadi sosok yang baik dan luar biasa sesua dengan bakat dan kemampuannya.

Eh, btw apaan sih temen tumbuh? wkwkwk jadi lupa kan. Udah doa-doa nyampain harapan. Jadi temen tumbuh itu semacam program yang lagi coba kami inisiasi untuk melakukan pendekatan kepada pelajar dengan berbasis bakat. Pertama yang akan kita lakukan adalah mengajak mereka meninggalkan dua zona, yaitu zona nyaman dan zona ketakutan. Why? Karena memang dua zona ini yang akan menghalangi seseorang untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Terlalu merasa nyaman dengan capaian sehingga kehidupan menjadi stagnan. Seolah tidak ada yang ingin dikejar dan semua hal yang dilakukan hanya berakhir sebagai rutinitas belaka. Ketika sudah ada keinginan untuk meninggalkan zona nyaman bertemulah dia dengan zona ketakutan. Tidak berani mengambil resiko terhadap pilihan. Kalau mental ya kembali mager lagi, kalau berani melewati zona ketakutan artinya dia sudah siap untuk belajar.

Zona belajar yang pertama tentu belajar mengenali diri sendiri. Mencoba mengetahui potensi kekuatan dan juga keterbatasan yang dimiliki. Mengenali dengan baik sisi mana yang harus dikembangkan. Tujuan apa yang bisa diraih dan kebermanfaatan apa yang dapat diberikan. Dia akan masuk kepada zona pertumbuhan, dimana dia tidak pernah berhenti belajar dan terus berkarya menebar manfaat kepada semesta.

Begitulah kira-kira temen tumbuh yang akan kami gagas.
Read More

Cerita Vaksin Hari Ini

Niatnya sih, mau ngisi nih blog dengan sesuatu yang berhubungan dengan mental health dan sejenisnya gitu. Tetapi, karena ini hari pertama setoran tulisan ODOP dan belum sempat baca-baca jurnal atau apalah gitu, yaudah akhirnya diisi dengan curcol. Yuk mari baca curcolan hari ini.

Setelah sekian purnama, antara mau dan enggak akhirnya memutuskan juga untuk vaksin. Kenapa dulu-dulu ga mau vaksin? Karena aku mikirnya, virus Covid-19 itu hanya akan dikalahkan oleh antibodi kita. jadi, kondisi imunitas tubuh benar-benar menjadi penentu. Berarti kunci menghadapi masa pandemi ini ya hanya dengan melakukan perilaku hidup sehat agar imun tubuh terus terjaga. Udah sempet cuek tu, bener-bener niat nggak mau nyari apapun terkain vaksin. Skip aja pokoknya tentang pervaksinan. Tetiba, adek yang lagi hamil kepikiran buat vaksin, soalnya itu syarat buat CPNS. Okelah, mulailah mencari apa dan gimana cara kerja vaksin.

Ternyata, vaksin itu macamnya banyak dengan efektifitas yang berbeda pula. Karena bahan dasar vaksin sendiri sudah berbeda. Akan tetapi secara umum cara kerja vaksin sama, melatih antibodi untuk menghadapi corona jika suatu saat nanti menyerang kita. Kalau di umpamakan anak sekolah, anggap aja tubuh yang diberi vaksin itu lagi latian soal. Ujiannya ya, saat ketemu dengan covid-19 langsung. Semoga tubuh kita nggak ketemu soal ujiannya yaaa.... Reaksi yang ditumbulkan paska vaksin juga bener-bener ditentukan oleh kondisi tubuh. Sekali lagi, imunitas tubuhlah yang pada akhirnya harus bekerja. Jadi, kalau badan sedang merasa tidak enak emang jangan vaksin dulu deh, atau kalau memang mau vaksin siapkan diri aja.

Aku juga sebenarnya penasaran, apasih reaksi tubuhku paska vaksin? Apakah akan seperti suami, adek, atau tetangga yang lain? Sempet juga denger kalau kita udah vaksin lalu terkena Corona maka tidak akan menularkan ke orang lain. Namanya juga jaga-jaga kan. Ukuran virus sangat kecil, tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Kita tidak pernah tahu saat apa atau bagaimana kita terinveksi. Demi menjaga diri dan terutama keluarga yang kita sayangi maka melakukan vaksin adalah hal baik yang harus dilakukan.

Aku juga berfikir, jangan-jangan suatu saat nanti ketika semua sudah kembali normal lalu ada agenda komunitas ke luar daerah wajib menunjukkan bukti vaksin. Nah kan, kalau swab bisa didadak, tapi vaksin? Kan butuh antrian. Makanya, kuputuskan untuk vaksin. Kekhawatiran datang dari suami dan ibuku. Melihat riwayat alergi dingin yang sering sesak nafas mereka berdua khawatir jika paska vaksin akan terjadi sesuatu. Aku juga belum tau sih nanti efeknya bakal bagaimana.

Oia, hari ini aku ikut vaksin moderna. Vaksin yang konon lebih baik dari Sinovac. Kalau dilihat dari bahan bakunya memang berbeda ya, Sinovac itu virus yang dimatikan dengan penampakan mirip corona, sedangkan Moderna terbuat dari RNA Corona. Hahaha bercandanya orang-orang, mencoba merasakan corona masuk ke dalam tubuh. Meski sepertinya menyeramkan, tetapi ternyata vaksin ini cocok digunakan oleh ibu hamil. Menurut dokter kandungan (dr. Hendro, S.POG) ibu hamil diperbolehkan vaksin asal lebih dari 20 minggu, maksimal dosis pertama pada 33 minggu usia kehamilan dan dosis kedua maksimal 37 minggu. Kita perlu meyakini bahwa vaksin ini lahir pastinya melalui proses panjang para ilmuwan yang dalam hatinya tidak ingin menghabisi populasi manusia. Yakin saja jika vaksin ini aman digunakan.

Tadi saat vaksin juga sudah disampaikan oleh dokter yang bertugas bahwa efek vaksin adalah mual, muntah, diare, kepala pusing, menggigil, demam. Itu aman, selama terjadi tidak lebih dari dua hari. Jika lebih dari dua hari disarankan untuk periksa ke fasilitas kesehatan terdekat. Sebelum vaksin kami semua di swab antigen terlebih dahulu. Konon, daerah tempat tinggalku masih banyak kasus pasien meninggal karena covid, maka dilakukan swab sebagai antisipasi. Dikhawatirkan di daerah kami ada OTG, yang setelah vaksin sakit kemudian diperiksa menjadi positif. Kemudian berkembang stigma yang salah di masyarakat bahwa mereka positif karena vaksin.

Selain dilakukan swab antigen, kami juga mendapatkan screening dari tenaga kesehatan. Mulai dari tensi tekanan darah, alergi, penyakit, dan kawan-kawan. Jika hasil screening ditanyakan layak dan hasil swab antigen negatif maka kami akan mendapatkan vaksin. Saat vaksin sakit tak? Ya seperti suntik biasa itu, tangan jadi agak pegel-pegel dan sekarang lagi kerasa anget. Coba aja ga inget ada ODOP pasti ga updet blog. Keren banget nih, spirit of ODOP hihi. Yakali hari pertama langsung absen, kan ngga keren. Sepertinya sudah 300 kata deh. Eh, tapi tadi aku sempet kepikiran sesuatu loh.

Andai saja sistem yang tadi dipakai itu sudah dikomputersasi. Dengan keyword NIK seharusnya tidak perlu mencatat NIK berkali-kali. Semua data sudah tersimpan di server, dapat dibuka dan digunakan kapanpun. Data untuk vaksin ini di integrasikan dengan data kependudukan. Pertanyaan screening dari dokter muncul saat regristrasi ulang. Mungkin bisa lebih cepat, efisien, dan paperless. Saya amati tadi ada beberapa kertas yang dikeluarkan sebagai administrasi. KTP tidak usah di fotocopy, tinggal scan barcode. Ini ngadi-ngadi yang hakiki. Sesaat tadi lupa kalau warga Indonesia itu ada yang mampu beli kuota tapu di ghosting sama sinyal wkwkwk. Belum lagi nanti bawa-bawa PC. Pasti ribet kan ya. Ya sudahlah, cara konvensional masih sangat representatif untuk digunakan.

Yuk vaksin, bukan karena untuk kelengkapan dokumen perjalanan, tetapi sebagai ikhtiar menjaga diri dan orang lain dari virus ini. Semoga ada isi yang dapat dijadikan hikmah ya manteman. Sttt tulisan ini udah 700an kata loh hihihi
Read More

Merdekakan Diri Saat Pandemi

Sudah satu tahun lebih virus Covid-19 singgah di bumi. Inginnya manusia pasti berdamai dengan mereka, namun sepertinya kita salah dalam hidup bersama mereka. Seandainya virus itu tampak dalam pandangan mata biasa dan bisa dibasmi dengan air atau senyawa lainnya pastinya hari ini kita sedang sibuk untuk melenyapkannya. Kehadiran mereka seolah ingin mengajak kita untuk memiliki dunia baru. Dunia yang harus saling menjaga jarak, bermasker, dan rajin mencuci tangan. 

Banyak masa dan momen berharga yang harus dilewatkan karena Pandemi tak kunjung usai. Ada masa anak-anak yang seharusnya mereka bebas bermain, bersekolah, belajar membaca dan menulis bersama guru. Berkumpul di ruang kelas sambil bernyanyi, tetapi kini sudah tidak bisa sebebas seperti dulu lagi. Ada anak yang seharusnya duduk di kursi menanti dipanggil untuk maju ke depan lalu menggeser tali wisuda, tapi tidak bisa lagi. Demi menjaga kesehatan dan atas nama keselamatan harus banyak hal yang dilewatkan. 

Anak sekolah tak lagi berkumpul di sudut sekolah. Mereka hanya bertatap melalui media daring. Berjam-jam menghadap gadget atau PC untuk mengerjakan tugas. Kebahagiaan masa mereka terenggut. 

Belum lagi para pesakitan disembuhkan, sudah ada rengekan anak meminta susu kepada ayah yang tak lagi berpenghasilan. Dampak ekonomi dari berbagai macam sektor mulai nyata di hadapan kita. Beberapa pengiat wisata mulai mengibarkan bendera putih sebagai tanya menyerah dan mengaku kalah dengan keadaan. 

Jika kita tidak benar-benar berdamai dengan keadaan, ancaman kecemasan akan datang. Kita sudah bebas dan merdeka tetapi tidak dengan jiwa kita. Ada rasa terpenjara dan terkurung dalam dunia yang amat luas leluasa. Berbagai macam tekanan datang dari segala penjuru. Belum lagi, saat kita menjadi satu diantara sekian ribu orang bergejala. Rasa takut tidak sembuh, rasa takut dikucilkan pasa ada. 

Kita harus bisa menjadi manusia merdeka di tengah prahara pandemi ini. Seandainya tidak dapat mengubah keadaan paling tidak kita harus dapat merubah paradigma. Cobalah merdekakan jiwa. Jangan penjarakan rasa bahagia. Nyalakan lilin harapan untuk menerangi optimisme kita. Kalahkan seluruh rasa pesimis yang ada. Yakinlah, kita hebat dan bisa melaluinya. 

Merdekakan dirimu, jangan terpenjara dengan keterbatasan mengekspresikan rasa. Kalahkan rasa takut, kalahkan rasa cemas, dan menangkanlah seluruh energi negatif yang ada. Kita pasti bisa menjadi manusia merdeka. Merdeka sejak dalam alam pikiran dan jiwa. Tuhan pasti punya rencana. 
Read More

Saat Kamu Marah Sama Orang Tua, Lakukan Hal ini

Dalam lingkaran terdekat pastilah ada konflik dan ketidaksepakatan antar anggota. Tidak serta merta semua satu suara. Meski sudah dibersamai tumbuh sejak dalam kandungan dan cukup mengenal karakter atau sudah biasa dengan gaya bahasa yang diberikan tetap saja ada rasa tidak nyaman dengan sikap ataupun tutur kata. Semua pasti ada titik kulminasinya. Tidak semua perkataan dari orang tua kita yang membuat kita tenang. Ada kalanya perkataan mereka malah menyakitkan atau menjatuhkan mental. Rasa marah dan kesal adalah reaksi wajar atas perlakuan yang tidak baik menurut kita. Tetapi, tetap tidak boleh jika kita harus berlarut-larut dalam kekesalan. Seperti yang disampaikan di awal tadi, kita sudah dibersamai tumbuh sejak dalam kandungan.


Semua kebutuhan sekolah, sandang, pangan, dan papan mungkin masih bisa kita uangkan kemudian kita ganti di masa depan. Ya, uang bisa dicari. Namun, ketulusan, rasa sakit sejak dalam kandungan, air susu yang di alirkan itu adalah hal yang tidak akan bisa ditukar dengan apapun. Meski pada akhirnya kita merawat kedua orang tua saat sudah menua dan tak berdaya tidak akan mampu mengganti semuanya. Tentunya kita meyakini, sejak tangis pertama kita menyapa dunia mereka penuh rasa bahagia. Berjuta harap dititipkan kepada kita. Tidak terbesit sedikitpun dimasa depan untuk menyakiti kita. Bahkan mungkin mereka sudah siap, ketika seluruh dunia memberikan penolakan dan menghujani olokan mereka adalah garda depan perlindungan.


Sekali lagi, marah serta kecewa kita terhadap sikap dan tutur kata orang tua adalah hal manusiawi dan wajar. Sejenak kita menjadi lupa dengan semua pengorbanan mereka karena emosi sesaat. Lalu, kalau kita sedang marah dengan orang tua kita apa yang harus dilakukan?


Pertama, berdiam diri. Kita perlu mengontrol jangan sampai ketika kita marah lalu mengeluarkan kata-kata yang menyakiti mereka. Tetap jaga perkataan. Kalau memang sudah tidak tahan, carilah tempat untuk menepi. Coba untuk berdiskusi dengan diri sendiri atau menceritakan rasa kepada teman terdekat dan terpercaya. Seandainya tidak bisa, tuliskan apa yang saat ini kamu rasakan. Jadi, berdiam diri di sini adalah kamu merenung dan mengurai semua satu per satu.


Kedua, maafkanlah dan mintalah maaf. Meski kita di posisi yang benar, tetap saja kita adalah orang pertama yang harus meminta maaf. Karena siapa tau ketika mengungkapkan amarah kita melukai hatinya. Melukai perasaannya. Kalau dalam siasat perang, mengalah untuk menang. Lupakan dan maafkan sikap tidak menyenangkan itu. Kita tidak pernah tau kan, bagaimana waktu kecil kita sering membuat mereka marah tetapi hanya dalam hitungan menit mereka sudah menyayangi dan memaafkan kita lagi?


Ketiga, sampaikan perasaan jika suasana sudah tenang. Perlu rasanya kita menyampaikan alasan mengapa kita marah kepada mereka. Pas sudah tenang tentunya. Saat kita dan mereka dalam kondisi normal. Sampaikan hal yang tidak disukai dan dengarlah hal yang mereka ingini. Kita juga harus adil dong. Jangan hanya kemauan kita saja yang ingin didengar. Jika memang ada perpedaan maka carilah kesepakatan. Mensepakati pilihan, sikap, dan lain-lain.


Keempat, mintalah doa. Setelah kesepakatan dan kedua belah pihak sudah saling memahami mintalah doa dari mereka. Ingat dan catat baik-baik. Doa seorang ibu kepada Allah itu tak berhijab. Tidak ada yang membatasi doa ibu kepada anaknya. Langsung sampai kepada Allah. Tidak ada kesuksesan seorang anak tanpa doa dari kedua orang tuanya.


Dari keempat langkat tersebut, hal yang paling sulit adalah pada titik memaafkan dan meminta maaf. Karena pada saat itu kita sudah meluruhkan ego dan emosi kita. Kita berhasil dari jeratan rasa kesal. Jangan pernah melampiaskan marahmu pada mereka dengan melakukan hal-hal negatif. Hal itu hanya akan merugikan diri sendiri dan membuat orang tua kita sedih. Tetap bersikap positif. Ambil hikmah dan pelajaran, semua pasti memiliki rahasia kebaikan. Udah marahnya, baikan dooong. Senyum yang manis dan tetep menghormati Ayah dan ibu kita ya...
Read More

Banyak Dilihat

Pengikut

Pengunjung

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Labels

inspirasi tania. Diberdayakan oleh Blogger.