Semua Tentang Money Politic


 

Fatwa ditetapkan berdasarkan masa, tempat, dan pribadi yang memfatwakan


Indonesia merupakan sebuah negara demokrasi dimana Pemilihan Umum dan pemilihan kepala daerah menjadi salah satu tanda dari pelaksanaan demokrasi tersebut. Dari akar katanya demokrasi berasal dari kata demos (rakyat) dan kratos (kratos). Secara singkat demokrasi ingin menjadikan kehendak rakyat sebagai kekuasaan tertinggi dalam mengatur masalah negara. Maka dari itu, memilih wakil yang akan menyuarakan dan mewujudkan keinginan rakyat adalah sebuah kepastian. Akan tetapi, proses dari pemilihan wakil menjadi terciderai karena beragam kepentingan individu maupun golongan. Suara rakyat yang murni dan asli menjadi terkaburkan karena praktek "kotor" yang dilakukan oleh para calon wakil rakyat tersebut. Adanya keinginan untuk menang dan menjadi wakil rakyat menghalalkan segala cara, salah satunya adalah money politic

Pengertian Money Politic

Dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) money politic adalah uang sogok. Pada prakteknya money politic selalu mengatasnamakan kepentingan rakyat, padahal sebenarnya hanya untuk kepentingan pribadi atau partai politiknya. Setiap perbuatan yang menggunakan transaksi baik uang maupun barang untuk mendapatkan jabatan/pengambilan kebijakan/pemberian suara adalah bagian dari politik uang. Praktek jual beli suara ini sudah terjadi dari mulai tingkat desa sampai dengan negara. Dalam Undang-undang penyelenggaraan pemilu  pasal ke 245 ayat ke 1 mengenai larangan dalam kampanye disebutkan bahwa tim kampanye dilarang untuk menjanjikan atau memberikan uang atau materi lainnya kepada peserta Kampanye Pemilu, kemudian di pasal lain  menyebutkan bahwa politik uang merupakan pelanggaran pemilu. Jadi, sudah jelas ideal dari pelaksanaan pemilu tidak perlu memberikan uang atau imbalan dalam bentuk apapun kepada pemilih. 


Risywah, Money Politic Dalam Islam

Di dalam islam money politic ini disebut juga dengan risywah (suap). Kata risywah berasal dari risyaaun yang bermakna hablun (tali/sesuatu yang dapat mengantarkan). Dapat pula dimaknai ju'lun yang artinya hadiah. Beberapa pendapat menyatakan risywah dapat dimaknai dengan cara sampai pada satu keperluan dengan rekayasa. Dari definisi-definisi tersebut kita dapat menyimpulkan bawa risywah adalah hadiah, komisi, pemberian, konsesi dan sejenisnya yang diberikan oleh penyuang (ar-raasyi) kepada penerima (al-murtasyi) dengan bantuan perantara (ar-raaisy) dalam rangka merekayasa atau memperoleh sesuati yang disepakati antara mereka yang terlibat. Sedangkan menurut Fatwa MUI No 23 Tahun 2000 risywah adalah pemberian yang diberikan oleh seseorang kepada orang lain dengan maksud meluluskan perbuatan batil (tidak benar menurut syari'ah) atau membatilkan perbuatan haq

Hukum dari risywah adalah haram dan Allah melaknat orang yang menyuap, memperantarai, dan menerima suap. Sebagaimana hadits yang diwiwayatkan oleh Abdullah Bin Amr,

"Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: Allah melaknat penyuap dan yang disuap" (HR. Ahmad)

Meskipun demikian masih ada beberapa pendapat yang menyebutkan bahwa risywah diperbolehkan apabila untuk mendapatkan manfaat dan dapat menghalangi kedzaliman. Akan tetapi Asy Syaukani mengemukakan argumen bahwa pada dasarnya harta seorang muslim itu haram sebagaimana terdapat dalam surat Al Baqarah 188. Tidak halal bagi seorang muslim kecuali memperolehnya dengan cara yang baik dan benar. Sedangkan sogok disamping membuat si penerima menjadi memakan harta orang lain dia juga telah menyulitkan dan memeberatkan seseorang.


Dampak Negatif Money Politic

Segala perbuatan yang sudah jelas dasar hukum pelarangannya pastilah memiliki dampak negatif. Begitu pula dengan money politic. Dikutip dari fatwatarjih.or.id menyebutkan dampak negatif tersebut antara lain: menciptakan moral masyarakat yang munafik, menyuburkan budaya menjilat, dan mendidik masyarakat menjadi penipu. Timbul sebuah pertanyaan, apabila memang dampak negatif yang muncul dalam praktek politik uang seperti ini, mengapa banyak calon atau caleg yang dianggap religius melakukan hal serupa? Padahal mereka seharusnya memberikan contoh dan aura lebih positif terhadap pelaksanaan pemilihan. Apalagi mereka adalah representasi orang yang dianggap berjuang membenahi moral umat. 

Departemen Politik dan Pemerintahan Fisipol UGM telah mengadakan sebuah forum diskusi dengan tema Religiusitas dan Serangan Fajar studi Caleg Muslim di Pileg 2014 pada tahun 2018 lalu. Menurut Muhadjir selaku panelis yang telah melakukan penelitian mengenai tersebut mengatakan bahwa serangan fajar yang dalam bahasa akademik disebut juga dengan retail vote buying tetap marak terjadi karena tiga hal. 

Pertama, lemahnya penegakan hukum bagi pelaku money politic. Menurut data pada tahun 2014 ditemukan sebanyak 18.000 caleg yang melakukan vote buying akan tetapi hanya 18 orang yang kemudian diproses di pengadilan. Artinya hanya 1:1000 dari kasus vote buying yang kemudian diadili dan mendapatkan hukuman sebagaimana hukum yang berlaku. 

Kedua, pandangan para caleg religius mengenai fatwa. Secara jelas dan lugas MUI telah memfatwakan haram praktek politik uang, akan tetapi mengapa caleg religius tidak mematuhi fatwa tersebut? Hal ini disebabkan oleh kekuatan ikatan fatwa terhadap seseorang. Fatwa tidak bersifat mengikat sehingga seorang muslim dapat mengikuti atau menolak sesuai dengan kemauan pribadi. Ada beberapa pihak yang menganggap fatwa hanya sekadar anjuran atau nasihat. 

Ketiga, pembenaran para pelaku vote buying. Ada yang mengakatan bahwa niatlah yang menentukan hukum tindakan politik uang. Jika diniatkan untuk membantu dan sedekah maka itu diperbolehkan. Ada juga yang beralasan karena keadaan darurat dan melakukan politik uang lebih banyak manfaat daripada mudharatnya. Selain itu menurut para pelaku dosa dari politik uang masih bisa diampuni.

Pada poin ketiga ini sepertinya masih ada ruang untuk kita mengkritisi pandangan. Jika memang alasannya dapat semulia itu apakah akan sebanding dengan dampak negatif yang ditimbulkan. Kita semua harus mengakui maraknya praktek politik uang adalah bukti kegagalan dari semua partai politik dalam melakukan pendidikan politik kepada masyarakat. Membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya pemilu dalam kehidupan bernegara.


Risywah untuk Sedekah, bolehkah?

Seperti disebutkan di atas, ada yang berdalih melakukan politik uang dalam rangka sedekah. Apabila memang berniat untuk melakukan sedekah kenapa tidak dilakukan melalui lembaga amil zakat saja? Dan kenapa pula harus dilakukan pada musim pemilihan. Masalah niat memang hanya sang pelaku yang mengetahui apa niatan sebenarnya. Akan tetapi persepsi yang muncul di masyarakat yang menerima tentunya berbeda. Terkadang jadi bertanya sih, bagi caleg atau calon pemimpin daerah yang melakukan risywah dengan kedok sedekah ini apakah akan menyampaikan kepada konstituen bahwa ini ada amplop sedekah dari bapak X semoga diterma ya dan mohon doanya untuk kesuksesan beliau. Atau hanya ini ada uang dari bapak X mohon dukungannya. 

Pertanyaan selanjutnya, darimanakah sumber dana sedekah itu? Apa benar berasal dari harta pribadi yang memang harus dibersihkan atau berasal dari hutang yang kemudian akan menjadi tanggungan lima tahunan.


Bagaimana dengan tujuan mencegah Mudharat yang lebih besar?

Ini juga menjadi alasan klise, seolah membenarkan hal batil untuk tujuan manfaat. Apakah benar hanya itu satu-satunya jalan untuk mencegah mudharat tersebut? Padahal jelas dampak buruk bagi caleg yang dianggap religius melakukan hal tersebut adalah semakin merusak moral masyarakat. Apalagi orang tersebut memiliki banyak pengikut dan dijadikan contoh tauladan. Parahnya, karena dia adalah teladan maka akan muncul stigma bahwa hal tersebut adalah hal yang halal dan boleh dilakukan.

Ada sebuah analogi, saat kita sedang melakukan ujian Fisika atau matematika, Adalah hal ajaib saat langkah awal mengerjakan soal kita salah konsep lalu mendapatkan jawaban yang benar. Sudah dapat dipastikan langkah yang diambil untuk menyelesaikan ujian akan melewati banyak keanehan dan pembenaran pribadi. Mengenai halal haram adalah sebuah aksioma yang tak terbantahkan. Mengapa kita masih mencoba mencari celah utnuk membenarkan? Jika bukan hanya karena terselubung ambisi manusia sok suci.

Wahai para politisi, jangan kotori moral dan sikap kami dengan beragam alasan pembenaran itu. Binalah masyarakat agar memahami apa sebenarnya tujuan pemilihan. Apa pentingnya keberadaan kalian? Apa dampak keberadaan kalian? Mengapa kami harus memilih kalian? 



Read More

Artikel : Pengertian dan Jenisnya



Tulisan ini merupakan rangkuman dari materi yang disampaikan oleh Kak Adi, saat persiapan lomba menulis. Aku ikutan sesi materi sih cuma kedistract pas mau nulis, jadi intinya ga ikutan lomba tapi alhamdulillah dapet ilmunya. Pada sesi pertama ini bener-bener bagus banget penyampaian materinya. Santai dan on point. Tidak banyak basa-basi, soalnya jaringan pembicara juga susah sih. Makanya sekali ada sinya tidak membuang waktu.

Dengan berbagai kendala yang terjadi masih ingat betul apa saja yang disampaikan oleh beliau. 

Pengertian artikel

Artikel adalah tulisan lepas berisi opini seseorang yang mengupas tuntas suatu masalah yang sidatnya aktuan dan atau kontroversial dengan tujuan memberitahu (informatif), mempengaruhi dan meyakinkan (persuasif argumentatif), atau menghibur khalayak pembaca (reaktif). 

Mengapa disebut lepas? Karena siapapun boleh menulis artikel dengan topik yang bebas sesuai dengan minat dan keahlian masing-masing. Selain itu, artikel tidak terikat dengan berita atau laporan tertentu. Boleh ditulis kapan saja, dimana saka, dan oleh siapa saja.


Jenis Artikel

Bersasarkan isinya, artikel dibagi menajdi 4 (empat) jenis yaitu, artikel praktis, artikel ringan, artikel halaman opini, dan artikelanalisis ahli. Mari kita simak penjelasannya satu per satu.

1. Artikel Praktis

Artikel ini berisi mengenai petunjuk praktis dalam melakukan sesuatu (to do list). Misalnya :

  • Cara membuat artikel
  • Cara membuat blog
  • Tiga langkah membuat buku
  • Lakukan ini, agar langsing dalam 30 hari, dan lain-lain

Artikel praktis ditulis dengan menggunakan pola kronologis atau pesan yang ditulis berdasarkan pada urutan waktu atau tahapan pekerjaan


2. Artikel Ringan

Sepertinya jenis artikel yang banyak pada blog ini adalah artikel ringan hihi. Sesuai dengan namanya, artikel ringan mengangkat bahasan yang ringan dan cara penyajian ringan pula. Saat ada orang membaca tidak perlu menguras pikiran untuk memahaminya. Dapat dibaca secara sekilas dan dikemas dengan gaya panduan informasi serta hiburan (entertaiment) Jenis artikel ini biasanya kita temukan pada rubrik anak-anak, remaja, wanita, dan keluarga. Contoh artikel ringan :

  • Ambiskah aku?
  • Ciri-ciri bisa balikan dengan mantan
  • Kalimat ajaib seorang wanita

3. Artikel Halaman Opini

Artikel ini akan mengupas suatu masalah secara serius dengan tujuan merujuk pada kedekatan analitis akademis. Sifatnya relatif lebih berat jika dibanding dengan dua jenis artikel lainnya. Oleh karena itu, artikel halaman opini sering ditukis oleh orang yang memiliki latar belakang pendidikan, pengetahuan, keahlian atau pengalaman memadai. Biasanya kita akan  menemukan artikel opini pada halaman khusus bersama tulisan opini yang lain, yaitu tajuk rencana, akrikatur, kolom, pojok, dan surat pembaca

4. Artikel Analisis Ahli

Artikel analisis ahli biasanya ditemukan pada halaman muka, halaman-halaman berita atau halaman dan rubrik-rubrik khusus. Penulis artikel ini merupakan ahli atau pakar di bidangnya dalam bahasa yang populer dan komunikatif. Sang ahli akan mengupas secara tajam dan mendalam mengenai suatu permasalahan yang sedang menjadi sorotan dan bahan pembicaraan hangat. Misalnya seputar ekonomi, politik, pendidikan, agaman, sosial, budaya, industri, IPTEK, dan lain sebagainya.


Read More

Tipe Adonan Donat Vs Bola Bekel



Perlakukan seseorang seperti apa engkau ingin diperlakukan. Manis banget ga sih ini kata-kata? Manis banget dong, pada bilang manis loh...awas aja kalau enggak! 💅Awalnya aku juga suka dengan prinsip ini. Seperti kalau kamu tidak mau diberi racun jangan pernah menyodorkan racun kepada orang lain. Tetapi, ternyata tidak selamanya benar ungkapan ini. Baru tersadar saat beberapa waktu lalu melakukan pelatihan fasilitator kemudian sampai pada pengenalan bakat. Secara kaca mata bakat kalimat yang tepat adalah, perlakukan seseorang sesuai dengan orang tersebut. Semuanya pasti bersepakat jika setiap orang dilahirkan dengan unik dan berbeda. Maka, dalam perlakuannya pun tidak dapat disamakan antara satu dengan lainnya.

Kita tidak dapat menghakimi seseorang hanya menggunakan satu dalil kemudian menganggap dalil lain tidak tepat. Dalil disini maksudnya bukan dalil dari langit loh, tapi dari seseorang. Kecuali Al Qur'an dan As Sunnah masih dapat kita kritisi dan tolak, bukan? Semenjak masa pandemi kemarin sering banget berseliweran kalimat, jangan hanya diam saja. Kamu itu bukan adonan donat yang diam lalu bisa berkembang. Dalam konteks kalimat agar kita tidak mager lalu melakukan sesuatu tentu saja tepat. Bener banget malah. Emangnya kita punya kekuatan super sampai diam saja banyak hal yang kita dapatkan. Semua butuh diusahakan dan diupayakan.

Cuma, kemarin terfikir saja sih, mungkin kalimat mengenai adonan donat ini juga cocok digunakan untuk orang yang enggan bergerak dari zona nyamannya. Ada istilah yang menyebutkan bahwa tidak ada pertumbuhan di zona nyaman. Padahal, ada loh orang yang tidak bisa berkembang saat tertekan dan merasa tidak nyaman. Jadi, memang ada orang yang butuh seperti adonan donat yang dia seperti tidak melakukan apapun, diam di tempat tetapi dapat bertumbuh mengembangkan diri sesuai bakat dan minatnya. 

Disisi lain ada juga orang yang tipenya seperti bola bekel. Dia perlu dibanting agar terpelanting, bahkan capaiannya melebihi ekspetasi diri. Perlu untuk ditekan, butuh rasa sakit untuk menjadi yang terbaik. Inilah orang yang harus keluar dari zona nyamannya agar dapat bertumbuh dan menebar manfaat bagi orang banyak. 

Maka, bagi siapapun yang memiliki hubungan dengan manusia. Baik guru, orang tua, atau lain sebagainya yang berharap agar orang lain dapat berkembang sesuai dengan bakat minatnya perlu mengetahui terlebih dahulu tipe apakah dia. Tidak semua orang dapat melejit karena tekanan. Ruang nyaman tidak selamanya melenakan. 

Buat yang belum tau dia lebih mirip ke adonan donat atau bola bekel, segera sadari. Dimanakah engkau akan berkembang dan menebarkan semerbak. Dengan cara apa agar dapat memberikan keluasan manfaat. 

Read More

Elegi Senja Hari



Gemericik air hujan menyapa lembut tanah gersang. Menghampiri dedaunan memberikan harapan kepada seluruh penghuni alam. Para petani kopi masih di antara harap dan cemas, apakah bunga akan menjadi biji atau hilang pergi begitu saja. Para penjaga pintu sungai penuh siaga, terus mengamati air tumpah atau hanya singgah sementara.

Dingin dan angin menjadi teman kala senja. Suara alam mulai berbunyi memberi tanda untuk segera kembali berkumpul bersama keluarga. Merangkai hangat saling bercengkrama. 

Menelisik jendela, petani nira masih berlarian sepanjang jalan. Berharap tidak bertemu gelap, agar tetap tepat bertemu dengan Sang Maha. Bukti syukur atas limpahan kebaikan. Lisan basah mengucap untaian kesyukuran, berapapun yang didapatkan. Senyum anak dan istri mengembang, bahagia besok bisa kembali membeli seragam sekolah. 

Elegi Senja ini, mengiring hati menemukan ketenangan atas segala ketetapan. Berdamai dengan segala keadaan. Menerima segala jenis suratan. Biarlah larut segala rasa hingga dia menemukan titik setimbangnya. 

Terlalu gaduh isi kepala, mengguncang titik amfibi. Ingin berlari, bergegas, dan pergi. Pecundangkah rasa ini? Namun jika bertahan goncangan semakin membahayakan serasa akan menjebol benteng pertahanan logika yang selama ini disemai dengan berbagai macam ayat dan kisahnya. 

Terkadang bertanya, dunia sudah berubah apakah aku tidak bisa menerima? Apakah sesuatu yang awalnya dianggap aksioma tak lagi bersifat mutlak sebagaimana awalannya? Akukah yang akan menjadi purba karena terlalu naif dengan kondisi saat ini? Merasa menjadi orang sok suci dan miskin kontribusi karena perbedaan sudut pandang persepsi. 

Tetapi, hati terdalam selalu membisikkan, "Pembawa cahaya akan selalu dengan sinarnya. Hanya beberapa manusia telah meninggalkan sesuatu yang bersifat seharusnya". 

Beberapa? Iya, beberapa saja, anggap saja begitu adanya. Pembawa cahaya akan tetap membawa nyala harap bagi semesta. Menyelamatkan bumi tanpa menampakkan diri. Pembawa cahaya tak akan tetap ada hingga dunia tak lagi berada pada posisinya.

Bertahanlah dan tetap menjadi bagian dari pembawa cahaya. Nyalakan lentera dengan setitik nilai yang kau punya. Jika malam semakin gelap sebentar lagi fajar akan menyingsing memberikan sinarnya. 

Elegi Senja hari, memberikan ribuan makna. Berhentilah sejenak dan sesaplah energi semesta. 
Read More

Qum Yaa Hudzaifah!




Qum, Yaaa Hudzaifah! 

Beberapa hari terakhir ini selalu terngiang dengan kalimat itu. Sebuah kalimat yang disampaikan oleh Rasulullah kepada Hudzaifah saat terjadi perang khandaq atau perang parit. Dikisahkan bahwa suasana perang Khandaq sangat mencekam. Tidak ada baju hantam sebagaimana perang yang lainnya maka, tidak mengherankan jika perang Khandaq juga disebut dengan perang urat syaraf. Pasukan Quraisy tentu sangat terkejut dengan sambutan kaum muslim. Mereka sudah berharap akan berhasil menggempur kaum muslim langsung ke Madinah, tapi parit arit sepanjang 5544 meter, selebar 4,62 meter dan kedalaman 3,234 meter menyambut mereka. Strategi buyar.

Kondisi saat itu sangatlah dingin dan mencekam. Hingga ketika Rasulullah bertanya kepada para sahabat, adakah yang bersedia menyusup ke barisan pasukan Quraisy tidak ada satupun yang mengajukan diri. Bahkan, Rasul sampai bertanya sebanyak tiga kali dan hasilnya sama. Tetap tidak ada. Kemudian beliau bersabda, Qum Yaa Hudzaifah! Mendengar namanya disebut serta merta dia bangkit dan langsung melaksanakan perintah untuk menjadi telik sandi. Hudzaifah tidak menawar, dia langsung sigap dengan ketaatan penuh menjalankan perintah Rasulullah. 

Dan Hudzaifah ini selalu menjadi contoh bagi sikap ketaatan seorang anak buah kepada pimpinan. Saat berada dikawasan kaum Quraisy dia memiliki kesempatan membunuh Abu Sufyan, tetapi tidak dilakukan karena tugasnya hanya mengintai. Ketika kecurigaan pasukan Quraisy tentang adanya penyusup lalu melakukan inspeksi tentara dia bisa lolos dengan mudahnya. Bagaimana cara dia menyikapi perintah dan menjalankan tugas dengan sangat rapi dan baik? Ketaatan dengan pemahaman yang penuh mampu memunculkan kecerdasan dan ketenangan dalam bertindak.
 Sebuah pertanyaan lain kemudian muncul, adakah pada masa sekarang orang seperti Hudzaifah? Yang dia melakukan perintah dengan penuh kebahagiaan, bersegera tanpa mengenal kata tunda dan tidak ada suara tak penting yang mengiringi? Ada, pasti masih ada. Lalu, kenapa sekarang jarang ditemui, sosok seperti Hudzaifah? 

Bagaimana kalau pertanyaan kita balik, adakah pemimpin sekarang yang seperti pemimpinnya Hudzaifah? Pemimpin dengan pancaran ketaatan kepada Allah yang tergambar jelas. Meski lembut tetapi kuat dan memiliki ketajaman berfikir. Mampu mendirect "anak buah" untuk mewujudkan visi besar. Menyayangi para pasukan dengan penuh ketulusan. 

Kita perlu meyakini, sesosok Hudzaifah pasti akan ditemui kembali asalkan ada seseorang yang mencontoh Rasulullah memimpin. 
Read More

Review Buku : Seni Memahami Perasaan Anak

seni-memahami-perasaan-anak-inspirasitani



Judul Asli    : Mom's Talking Practice

Penulis         : Park Jae-yeon

Penerjemah  : Putri Permatasari

Penerbit       : Kepustakaan Populer Gramedia

Tahun           : 2021

Halaman       : 289


Saatnya mengakhiri hibernasi dengan mereview buku seputar parenting. Sudah lama sebenarnya buku ini bertengger di rak buku namun, ada sedikit rasa enggan ketika mau membacanya. Bukan enggan sih, lebih ke rasa takut. Iya, takut kalau ternyata setelah membaca buku ini kemudian menemukan fakta bahwa selama ini telah menyakiti perasaan putri sulungku. Sebagai seorang ibu terkadang lepas kontrol sehingga suara beberapa oktaf harus dikeluarkan. Apalagi ketika si Tabina berkata nanti ibuk bisa menjadi ibu naga wkwkwk. Rasa takut menghabiskan buku ini pun semakin menjadi.

Bagian Pertama: Memahami dan Berempati pada Diri Sendiri Sebagai Seorang Ibu

Kubuka lembaran pertama, bukan rasa takut yang muncul tapi rasa haru. Penulis mengajak pembacanya untuk memahami dan berempati pada diri sendiri sebagai seorang ibu. Sejak lahir semua manusia di bumi telah dikaruniai Tuhan sebuah hati yang penuh cinta untuk orang lain. Hal tersebut yang membuat kita secara alami memiliki keinginan memberi, membantu, dan berbagi. Seolah diingatkan betapa sebenarnya mungkin kita sebagai wanita belum pernah memiliki perasaan setulus ini. Apapun bisa kita berikan kepada anak kita. Rasa kasih sayang kepada anak mengalahkan segala rasa lelah dan sakit. Pastinya para ibu pernah merasakan bagaimana saat mencarikan posisi paling nyaman agar bayi kita dapat meminum air asi dengan nyaman. Pastinya para ibu bekerja tetap akan sigap memikirkan menu makanan yang paling pas untuk anak dan keluarga. Tulisan yang selalu terngiang, apakah kita pernah mencintai setulus ini? Membesarkan dengan sepenuh hati tanpa mengharapkan apa-apa selain kenyamanan mereka. 


Hanya terkadang pola pikir otomatis membuat kita tidak dapat mengekspresikan dengan benar. Pola pikir otomatis akan membuat kita langsung bertindak. Perkataan hanya didasarkan pada pikiran yang muncul tanpa ada proses mencerna di dalamnya. Kita seolah hanya mempercayai bahwa hal tersebut harus dilakukan. Pikiran otomatis akan membuat kita langsung menilai, mengkritik, menekan, mengancam, membandingkan, mewajarkan, mengharuskan, atau membenarkan. Komunikasi semacam inilah yang akan memunculkan luka. Padahal sebelum kita melakukan itu semua hal yang seharusnya dilakukan adalah melepaskan terlebih dahulu rasa khawatir, cemas, ketidaksabaran, mengakui, dan mengenali perasaan diri. Intinya, jangan terbawa emosi saat akan berbicara. Perlu menenangkan diri agar perkataan yang muncul lebih terkontrol dan tidak menyakiti orang lain, terutama anak kita. 


Sama halnya berkomunikasi dengan orang dewasa, berkomunikasi dengan anak juga harus pandai dalam mengungkapkan keinginan. Apabila orang tua mampu memberikan contoh mengungkapkan keinginan dengan baik, kelak anak kita pun akan dapat melakukan hal tersebut. Cobalah untuk mengamati perilaku dengan detail lalu ungkapkanlah perasaan dengan tepat. Jangan hanya melihat sepotong adegan, terkadang anak-anak itu ajaib. Mereka berfikir tidak seperti yang kita fikirkan. Jangan terlalu spontanitas ketahui terlebih dahulu situasi yang dihadapi dengan kepala dingin. 


Untuk dapat membangun hubungan harmonis kepada anak maka perlu terlebih dahulu mengenal diri kita. Hal ini akan membantu kita untuk dapat mengetahui bagaimana cara agar dapat mengetahui bagaimana cara mengendalikan diri. Secara perlahan kita dapat melakukan evaluasi apakah kita membesarkan anak dengan penuh amaran dan kekerasan atau dengan cinta. Cobalah sesekali bertanya pada waktu masih kecil apakah kita pernah membayangkan sosok orang tua ideal? Jika pernah maka waktu ini adalah saat yang tepat untuk mewujudkannya.


Amarah adalah nama lain dari kekhawatiran. Sebenarnya rasa marah ini muncul karena rasa frustasi dengan keinginan yang gagal terpenuhi. Maka, kita perlu cermat memahami penyebab rasa frustasi yang dihadapi. Misalnya saat melihat anak naik ke atas meja, lalu kita marah. Sebenarnya kalimat-kalimat bernada keras itu muncul dari rasa khawatir jika terjadi sesuatu. Kita merasa frustasi karena takut anak terluka dan tidak mampu menjaga dia dengan baik. Melakukan dialog internal akan membantu dalam mengamati apa yang dilihat dan didengar, mengetahui perasaan hati yang sebenarnya, mengerti dan menemukan sumber emosi, dan memahami apa yang dibutuhkan.


Bagian kedua: Memahami dan Berempati terhadap Anak Kita

Pada bagian ini penulis banyak memberikan alternatif kalimat yang diberikan  kepada orang tua dalam menghadapi anak. Mulai dari menjaga perasaan sampai dengan kalimat yang pas saat kedua orang tua akan melakukan perceraian. Atau kekhawatiran anak akan kematian salah satu orang tuanya. Kalimat-kalimat positif. 


Hal paling menarik pada bagian kedua ini adalah ketika penulis menyampaikan tentang kebohongan anak. Beliau menyapaikan bahwa kebohongan sebagai tanda bahwa mereka memiliki kemampuan membaca pikiran orang lain, mengontrol tindakan, dan emosi meraka sendiri. Misalnya, saat anak terjatuh kemudian dia berkata tidak apa-apa ada kemungkinan dia mengetahui jalan pikiran orang tuanya. Pertama orang tuanya akan khawatir, kedua dia akan dibawa kerumah sakit. Dan dia tidak mau itu terjadi maka mengontrol tindakannya untuk tidak mengerang bahkan rasa sedih yang dimilikinya. Ini merupakan tanda perkembangan anak. Meskipun demikian, sebagai orang tua kita tetap harus jeli untuk mengarahkan anak. Paling tidak dengan memberitahukan bahwa dalam islam berbohong itu tidak boleh kecuali karena tiga perkara yaitu berbohong pada saat perang, berbohong untuk mendamaikan, dan berbohongnya seorang suami kepada istri untuk mendapatkan ridhanya.


Secara garis besar buku ini cukup menarik untuk dibaca oleh orang tua. Saya secara pribadi menjadi lebih mengontrol diri dalam bersikap kepada anak. Memilih kata yang paling pas dan membuat mencoba menanyakan terlebih dahulu sebelum memberikan judge.

Read More

Saat Anak Kita Memiliki Masalah Dengan Teman di Sekolah, Apa Yang Harus Orang Tua lakukan?

Saat anak bermasalah dengan teman di sekolah


Naluri seorang ibu adalah melindungi anaknya. Bahkan ada kalimat ajaib yang harus saya amini, segalak-galaknya seorang ibu tetap akan marah saat anaknya dimarahi orang lain meski itu adalah ayahnya. Lalu bagaimana jika ternyata yang "menyakiti" adalah anak seusianya? Bukan hanya kekerasan verbal akan tetapi juga kekerasan fisik? Berikut beberapa langkah yang dapat diambil.


Kelola Emosi Pertama

Hal yang harus ditunjukkan ketika mendengar cerita anak tentang masalah dengan temannya adalah dengan mengelola emosi dengan baik. Kalau saya secara pribadi jatohnya bukan ingin marah, tapi sedih. Pada masa seperti ini kita akan menyadari bahwa penjagaan ibu terhadap anaknya berbatas. Tetapi, penjagaan Allah tidak berbatas. Bahasa keimanan haruslah menjadi bahasa pertama yang menanggapi peristiwa ini. Pada saat anak kita bermain kemudian temannya menyakiti, pada saat itu juga Allah sedang mengingatkan bahwa di masa depan mungkin akan ada. Sikap kita akan menentukan bagaimana psikis anak dalam menghadapi masalah. Apabila orang tua reaksioner kemudian membela dengan membabi buta bisa jadi kedepan sang anak akan selalu mencari perlindungan ibunya. Padahal, usia manusia tidak pernah tahu. Sebagai orang tua harus dapat menyiapkan anaknya memiliki kemampuan bertahan hidup. Mampu untuk hidup sendiri dan mengambil sikap serta keputusan terhadap hal yang dihadapi. Jika sudah selesai dengan konsep ini dapat lanjut ke step selanjutnya untuk mendegarkan cerita lengkap si anak.


Dengarkan cerita lengkap dari si anak

Kita perlu mendengar secara utuh cerita anak agar dapat menangkap benang merah. Tidak akan pernah ada asap jika tidak ada api. Permasalahan yang muncul pasti memiliki pemicu. Sebelum mendapatkan cerita lengkap jangan menghakimi terlebih dahulu. Usahakan agar tetap bersikap objektif dalam memandang permasalahan. Ketika anak kita mau menceritakan 'hal buruk' yang menimpanya, posisikan bahwa ada kemungkinan dia juga salah. Maka, perlu melakukan klarifikasi kebenaran cerita sang anak. Bukan bermaksud tidak percaya dengan cerita anak, bisa jadi persepsi anak mengenai kejadian tersebut salah, bukan? Saat kita langsung mengungkapkan, "Wah iya temennya salah tuh, Jagan main sama dia lagi, ya?" Tanpa menggali akar masalah itu adalah salah. 


Menyampaikan Hikmah

Kita perlu menjelaskan, terkadang respon seseorang itu muncul karena kita yang salah memperlakukan. Semua hal baik tidak bisa dipaksakan diterima sebagai kebaikan selama kita salah dalam menyampaikan. Ajak dia untuk mengambil pelajaran dari apa yang baru saja dia alami. Jadi, ceritanya beberapa waktu yang lalu Tabina cerita kalau ada temannya yang memukul kepala dengan mainan balok kayu. Kemudian dia menangis karena merasa kesakitan. Auto kaget sebenarnya, saya ibunya saja belum pernah mukul anak, eh ini anak orang mukul sembarangan. Sedih juga sih pengen melow gitu. Tetapi, saat minta dia cerita apa yang sebenarnya terjadi. Coba cerita dari awal. Saya menemukan inti permasalahan mereka. Jadi, temen cowok ini suka menarik jilbab anak-anak cewek. Nah, terus my inces bilang ga boleh narik-narik jilbab. Sepertinya dengan intonasi agak tinggi. Nah, mas yang tadi marah deh jadinya mukul. Seketika saya sadar, saya juga punya andil secara tidak langsung. Saat Tabina bercerita tentang kejadian yang sama, menarik jilbab pada hari sebelum kejadian, saya bilang ke dia untuk bilang sama itu mas-mas. "Jangan narik-narik jilbab. Kita bukan muhrim", begitu kira-kira penggalangan pesan saya ke Tabina. Eh di eksekusi beneran sama dia. Dan posisi pada hari dia dipukul dia sedang membela temannya wkwkwk 


Instrospeksi Diri

Mengingat sepertinya ada pesan dan nasihat yang salah, revisi nasihatpun akhirnya dilakukan. Kitapun harus fair menilai diri kita. Kesalahan bisa jadi berakar dari kita bersikap atau mengajari anak. Hanya bisa berkata besok kalau temannya nakal diingatkan dengan bahasa yang baik jangan teriak atau marah. Sampaikan dengan bahasa yang ahsan. Berasa mirip ibu Nusa Rara bentar sih pas bilang begitu. Tapi sekaligus instrospeksi diri sejenak. Anak itu copy paste orang tua kan terkadang, bisa jadi respon dia ke teman dengan nada tinggi merupakan dampak dari sikap kita ke anak. Ya Allah, pas itu langsung bilang sih ke Tabina, maaf ya Bin tidak bisa seperti Umma nya Nusa dan Rara. Yang selalu sabar dan mengeluarkan petuah bijak atas perilaku ajaib anak-anaknya. Berarti ketika hal tersebut (red: mengalami masalah dengan teman) menimpa anak, maka kita butuh instrospeksi diri. Siapa tahu selama ini ada yang salah dari cara kita mentreatment anak.


Bersikap Objektif dan Adil

Wahai diri, tetaplah bersikap adil dala memandang masalah yang di alami oleh anakmu. Jangan sampai karena besarnya rasa cintamu membuat pembelaan tak mendasar dan mengkebiri keadilan. Semua manusia berpotensi salah pun dengan anak kita dan diri kita.


Membangun komunikasi positif dengan guru

Btw, ga nyalahin gurunya, nih? Entah mengapa hal itu tidak terlintas. Bahkan membuat asumsi bahwa guru lalai pun tak sempat. Mungkin karena sudah ada rasa percaya kepada pihak sekolah. Yakali, pas mau menyekolahkan anak kan sudah menimbang-nimbang. Jarak tempuh rumah dan sekolah untuk ukuran anak TK yang jauh saja rela dilakukan pasti sudah banyak pertimbangan. Bukan sebuah keputusan asal. Melihat penampilan guru yang sudah seperti ibu peri mana sempat berfikir kalau itu adalah kelalaian. Guru manapun tidak ingin ada hal buruk menimpa muridnya. Setiap guru di sekolah tersebut pasti sadar bahwa anak bukan hanya sekadar titipan orang tua si anak, melainkan titipan Allah.

Perlu ditanamkan dalam diri, bahwa anak itu sering bertingkah ajaib dan random banget. Bisa jadi hari ini mereka ribut, bertengkar, nangis-nangisa besok udah hahahihi barengan. Anak satu aja singa sudah sering muncul, nah ini para guru TK apa sabarnya nggak berlapis-lapis? Makanya, tidak terbesit untuk menyalakan guru maupun pihak sekolah. 


Tentunya rasa yakin dan trust yang muncul karena sudah melihat track record. Maka memilihkan sekolah anak haruslah sudah dikulik dengan baik dan benar. Jangan asal, sekolah adalah salah satu fasilitas orang tua kepada anak yang perlu dipertimbangkan kualitasnya. Hal ini penting untuk melahirkan generasi yang lebih baik. Bagi yang penasaran banget dan pengen tahu sekolah mana sih Tabina? Kok bisa bertemu dengan guru titisan ibu peri? Hubungi saja Novi Astuti, kepala sekolah TKIT Fi Ahsani Taqwim Temanggung. Tanyalah kepada beliau apa saja yang ingin ditanyakan. Memang hari gini sudah pembukaan pendaftaran? Ya, kalau minat banget langsung saja kali bisa inden prematur. Boleh kok kayaknya wkwkwk.


Tugas kita mengarahkan agar anak dapat mengambil hikmah dari setiap kejadian. Saatnya menanamkan pemaknaan hidup sedari sekarang. Anak-anak hebat tidak lahir dari hasil sulapan tapi melalui panjangnya pembelajaran. Tetaplah membangun komunikasi efektif dengan guru atas apapun yang terjadi. Jangan terlalu cepat menghakimi.

Read More

Banyak Dilihat

Pengikut

Pengunjung

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Labels

inspirasi tania. Diberdayakan oleh Blogger.